Felix Shauw, Getol Serang Islam Nusantara, Kenapa?

Gus Nadir: Sampeyan Cuma Pengen Memusuhi NU, Iya Kan?
Felix Siauw begitu bersemangat dalam menyerang istilah Islam Nusantara. Dia melakukannya tanpa ada tabayun, tanpa ada tanya, tanpa ada klarifikasi. Langsung serang seenaknya. Sama sekali tidak mencerminkan labelnya sebagai sosok ustadz.

Yang aneh, kenapa hanya Islam Nusantara yang diserang, bukankah ada istilah yang lain, seperti Islam Terpadu dan Islam Berkemajuan.

“Anehnya, Muhammadiyah juga melaunching Islam Berkemajuan, ada juga Islam Terpadu milik yang itu tu hehe, terus ada Islam Hadhari ala Malasyia, ada Melayu Islam Beraja ala Brunei Darussalam, dan lain-lainnya,” tulis Suratno, Dosen Universitas Paramadina dan Wakil Sekretaris Lakpesdam PBNU, di akun facebooknya, Senin (16/07).

“Tapi kenapa yang diserang Felix dkk cuma Islam Nusantara? Sungguh aneh tapi nyata hehe,” lanjut Suratno.

Dalam status ini, Suratno menegaskan dengan gamblang sebagaimana berikut ini:

Felix Siauw

Felix kan afiliasi HTI. Jadi inget twit viral dia “Nasionalisme kan nggak ada dalilnya” hehe. Dia mungkin masih belum legowo HTI jadi ormas terlarang di NKRI pasca disahkannya UU Ormas. Makanya Felix semangat banget “menghantam” Islam Nusantara, udah gitu hantamannya (maaf) asal-asalan banget…

Yang saya lihat; bagi Felix penjelasan-penjelasan tokoh-tokoh NU seperti Kyai Maruf Amin, Gus Mus, Kyai Afifuddin Muhajir, Prof Nadirsyah Hosein dll means nothing. Nggak ada artinya. Yang penting bagi Felix mah “hantam kromong” saja.

Karena Islam Nusantara seperti menjadi anti-tesis Islam Khilafah ala HTI…

Anehnya, Muhammadiyah juga melaunching Islam Berkemajuan, ada juga Islam Terpadu milik yang itu tu hehe, terus ada Islam Hadhari ala Malasyia, ada Melayu Islam Beraja ala Brunei Darussalam, dan lain-lainnya..

Tapi kenapa yang diserang Felix dkk cuma Islam Nusantara? Sungguh aneh tapi nyata hehe….

Danke


--------

Gus Nadir: Sampeyan Cuma Pengen Memusuhi NU, Iya Kan?




Felix sampai tiga kali membuat status ujaran kebencian itu. Disarankan tabayaun, mereka malah tambah keras ujaran kebenciannya.

Dari sini, Rois Syuriah PCI NU Australia-New Zealand Prof. KH. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menyebut “cemen” bagi orang-orang yang cuma memprotes Islam Nusantara yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya hal itu karena mereka hanya ingin memusuhi NU.

“Sampean cemen…beraninya cuma protes dg Islam Nusantara punya NU. Sampean cuma pengen memusuhi NU. Iya kan? Ngaku aja lah. Baiklah kalau begitu,” tulis Gus Nadir melalui akun twitternya @na_dirs, Selasa (17/07/2018).

Ia mempersilahkan twitnya ini agar disebarkan kepada orang yang anti Islam Nusantara dan masih terus menyerang NU.
“Monggo di-cc-kan ke semua yg anti dg Islam Nusantara dan masih terus menyerang NU,” lanjutnya.

Sebelumnya, Gus Nadir mengatakan, Muhammadiyah juga memiliki istilah Islam Berkemajuan. “Kok gak diprotes? Mosok Islam maju-mundur gitu. Harusnya kan Muslim yg bisa berkemajuan, bukan Islam,” ungkapnya.

Di Malaysia, ada Islam Hadhari yang dulu diresmikan oleh PM Abdullah Badawi. “Kok sampean gak protes? Islam itu ya Islam. Kok pakai ditambah Hadhari, emang jaman Rasul ada?,” kata Gus Nadir.

Brunei juga punya MIB (Melayu Islam Beraja), yang merupakan campuran nilai lokal budaya melayu, Islam dan sistem kerajaan. “Kok gak diprotes: emang ada istilah MIB di Qur’an dan Hadits?,” tanya Gus Nadir.

Gus Nadir juga menyebut kader PKS yang membuat sekolahan dengan istilah Islam Terpadu, dimana mereka hendak memadukan ulama dan ilmuwan. “Kok sampean gak protes: emang ada di jaman Rasul istilah Islam Terpadu? Nabinya siapa? Kitab sucinya apa?,” tandasnya. 

dutaislam.com | gg

Ikut Polling Pasangan Jokowi di Pilpres 2019

Ikut Polling Pasangan Jokowi di Pillpres 2019
Siapa Cawapres Jokowi yang menjadi Pilihan Anda?

Polling ini hanyalah simulasi, bukan untuk mempengaruhi persepsi publik terhadap Cawapres tertentu. Silahkan saja yang mau berpartisipasi. Anda hanya akan memperoleh satu kesempatan memilih secara otomatis.

Selamat men'contreng' .....

Siapa Cawapres Pendamping Jokowi, pilihan Anda?

Airlangga Hartarto
Mahfud MD
Moeldoko
Muhaimin Iskandar
M Romahurmuziy
TGB Zainul Majdi
Lainnnya

Mengenali Ali Mochtar Ngabalin yang Diangkat Jadi Jubir Pemerintah

Ali Mochtar Ngabalin kini merapatkan diri ke Joko Widodo. Politikus Golkar ini mendapat tugas sebagai staf ahli utama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan jubir pemerintah.

"Saya jubir pemerintah," kata Ngabalin saat dikonfirmasi kumparan, Selasa (22/5).

Ngabalin mengungkapkan, ia diangkat beberapa waktu lalu sebelum staf khusus lainnya diangkat. Ngabalin diarahkan Jokowi untuk mengklarifikasi banyak hal yang mungkin tidak benar dan berkembang di masyarakat.

"Mengklarifikasi penjelasan yang sebenarnya tentang pencapaian oleh pemerintah, kemudian paling tidak semua fitnah yang dituduhkan kepada Presiden dan pemerintah bisa kita meluruskan, menyampaikan berita yang benar di Istana," tuturnya.


Lalu siapakah Ali Mochtar Ngabalin yang kini menjadi orang dekat Jokowi ini? Ngabalin, begitu ia akrab disapa, lahir di Fakfak, Papua Barat, pada 25 Desember 1968. 

Sebagai politisi, ia pernah bergabung dengan Partai Bulan Bintang dan pernah menjadi anggota Komisi I DPR Fraksi PBB periode 2004-2009. Lalu pada 2010, Ngabalin memutuskan keluar dari PBB dan pindah ke Partai Golkar.

Menjadi kader Partai Golkar, Ngabalin sempat membuat kontroversi saat Ketua Umum Golkar versi Munas Bali Aburizal Bakrie (Ical) mengumpulkan ratusan pengurus DPD I dan DPD II di Hotel Sahid, Jakarta, pada 10 Maret 2015. Ngabalin, kala itu, tiba-tiba dipukul oleh penyusup yang diduga merupakan anak buah dari Yorrys Raweyai.

Insiden pemukulan tersebut dimulai saat seorang pemuda dengan tato di bagian lengan dan dada menyerang Ngabalin. Pukulan itu ditangkis dan Ngabalin balas memukul.

"Dia datang menghampiri saya, tiba-tiba nyerang saya, mau pukul saya. Tapi untung saya tangkis. Setelah itu saya tumbuk mukanya sekali," kata Ngabalin.

Ngabalin sangat yakin orang yang memukulnya merupakan anak buah Yorrys. Ia menduga, pemukulan itu terjadi karena Yorrys tidak terima dengan perdebatan sengit yang terjadi di sebuah stasiun televisi swasta.

"Saya bilang sama Yorrys bahwa Munas Ancol itu abal-abal. Munas itu penipu, tidak sah, ilegal. Yorrys sempat marah, dia ngancam saya akan mencari saya di luar," tuturnya.

Kontroversi lainnya adalah ketika ia didapuk sebagai Direktur Politik Tim Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014 lalu. Kala itu, KPU sudah menetapkan pasangan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Meski demikian, ia menyebut perjuangan Prabowo-Hatta belum selesai. Ia bahkan menyebut akan mendesak Tuhan untuk berpihak kepada paslon capres-cawapres yang kala itu mendapat nomor urut 1. Pernyataannya itu terekam dalam video acara halal bihalal yang diadakan tim Prabowo-Hatta di Rumah Polonia yang diunggah ke Youtube.

"Perjuangan yang kita lakukan tidak berhenti sampai di sini dan kita mendesak Allah SWT berpihak kepada kebenaran, berpihak kepada Prabowo-Hatta," ujar Ngabalin pada 7 Agustus 2014.

Kontroversi Ngabalin selanjutnya masih pada saat Pilpres 2014. Saat itu, ia mengakui telah berpidato yang menyatakan mendesak Tuhan membantu Prabowo karena gemas melihat Ketua Umum Partai Gerindra itu terus diserang dan difitnah.

Ngabalin mengaku gemas karena bantuan Tuhan tak kunjung turun.

"Kita gemas, kapan Tuhan turunkan (bantuan ke Prabowo). Kita desak Allah turunkan bala tentaranya tolong Prabowo. Dia lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, gitu maksudnya, dan itu pernyataan kepada siapapun tidak ada masalah," tuturnya.

Kepindahan Ngabalin dari PBB ke Partai Golkar juga sempat ramai diperbincangkan. Pasalnya, Ngabalin dituduh sebagai kutu loncat karena berpindah partai. Namun, ia menyebut dirinya besar dari keluarga Golkar karena ayahnya, Hasan Basri Ngabalin, merupakan salah satu pendiri Golkar.

"Partai Golkar bukan barang baru bagi Ali Mochtar, karena secara biologis saya dibesarkan dalam keluarga Golkar," kata dia pada 20 Oktober 2010.

Saat Kiai Azizi Tanya soal Wahabi, Jawaban Mbah Maimoen di Luar Dugaan

Peristiwa ini terjadi di sela-sela Seminar Nasional dan Bahsul Masail Islam Nusantara di Aula Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Malang, Jawa Timur, (13/02/2017) lalu.  Dikisahkan oleh KH Azizi Abdullah dari Kediri berdasarkan pengalamannya ketika sowan kepada KH Maimun Zubair dalam sebuah kesempatan.

Kiai Azizi saat itu menanyakan hukum orang Wahabi yang dalam pengetahuannya adalah kafir karena telah mensyirik-syirikkan orang NU karena amaliahnya. Sontak Kiai Maimun marah-marah dengan cara pandang Kiai Azizi.
“Hei, Mas, sampean jangan ngawur. Wahabi itu bukan kafir, Mas, tapi berdosa. Lha, orang berdosa itu: yaghfiru liman yasyaa’ wa yu’addzibu man yasyaa’. Kalau Allah mengampuni, ya masuk surga, kalau tidak diampuni ya neraka,” ucap mbah Maimun, begitu ia akrab dipanggil.

Mbah Maimun melanjutkan, “Kalau kafir kan pasti masuk neraka. Sampean ini jangan main hukum kafir begitu saja, wong sampean saja belum pasti masuk surga. Ngapain ngurusi orang lain,” tambahnya lagi.

Kiai Maimun lantas mengimbau kepada warga NU agar tidak terlalu ikut campur dengan perkataan orang lain. Baginya, yang penting adalah menjaga akidah diri sendiri.

Mendengar jawaban Kiai Maimun tersebut, Kiai Azizi mengaku insaf dari asal menghukumi orang. “Saya pun tobat,” kata Kiai Azizi.

Jawaban Mbah Maimun patut kita renungkan agar tidak mudah mengkafirkan orang lain hanya karena tidak sepaham. Ia mengingatkan akan pentingnya membangun kesadaran diri untuk tidak main-main dengan menghukumi orang lain dengan kata “kafir” dan tidak pentingnya sibuk ngurusi orang lain.

Kita memang tidak pantas merasa paling benar, karena kita belum tentu masuk surga. Masuk surga atau tidak, bergantung pada ridha dan pengampunan Allah

Tafsir Sesat ala Sugi Nur Raharja Tentang Jokowi dan Surat Al-Qur'an ke 83

Tafsir Sesat ala Sugi Nur Raharja Tentang Jokowi dan Surat Al-Qur'an ke 83
Dalam video tersebut, Dus Nur alias Sugi Nur Raharja mengajak berhitung (kayak anak TK aja yah) jumlah huruf J-O-K-O-W-I. Dengan metodologi yang tidak disebutkan, jumlah nama itu kena hitungan angka 83. Lalu, Dus Nur (lagi-lagi tanpa metode), mengaitkan angka itu dengan nama surat Al-Muthoffifin (surat ke 83 Al-Qur'an) yang jumlah ayatnya ada 36 itu.

Karena makna surat tersebut adalah "curang", maka, Dus Nur kemudian menyimpukan bahwa pemakai nama Jokowi disebutnya curang. Tafsir curang ala manalagi Dus Nur bisa mendapatkannya. Anda hanya boleh Wallahu a'lam. Hanya orang-orang yang curang saja yang bisa menjelaskannya, bukan.

Sugi curang. Pasalnya, nama lengkap Presiden Jokowi adalah Joko Widodo. Bukan Jokowi saja. Itu hanya nama popular. Istilahnya nama beken. Sebagaimana Sugik, yang mempopulerkan dirinya dengan nama Dus Nur, walau kemudian dicopot olehnya sendiri, (mungkin karena capek mencari pengakuan tapi tak kunjung dapat pengakuan yang ia maksud).

Kalau mau jujur, Dus Nur harusnya menghitung ala tafsir sesatnya secara lengkap atas nama Joko Widodo. Bukan Jokowi saja. Jika dihitung Joko Widodo, Dus Nur tak bisa berhitung pakai Al-Qur'an mengingat jumlah suratnya hanya 114 nama.

Jika lengkap dihitung, nama Joko Widodo sampai ke jumlah angka 165. Mana mungkin Dus Nur bisa menggunakan angka itu untuk ambil makna surat Al-Qur'an. Lha wong, sekali lagi, jumlah surat Al-Qur'an hanya 114, kok. Ini namanya curang. Ini namanya licik. Ini namanya mencari pembenaran untuk ujaran kebencian.

Lihatlah hitungan ala Sugi Nur Raharja atas nama Joko Widodo:

J: 10
O: 15
K: 11
O: 15

W: 23
I:  9

D:  4
O: 15
D:  4
O: 15

Bila dihitung sampai Jokowi saja, ketemunya ya memang 83. Jika ia berani lanjut, Dus Nur akan menemukan angka tanpa mencurangi nama berjumlah 121. Dia tidak akan bisa mendapatkan tafsir sesat karena, sekali lagi, jumlah surat dalam Al-Qur'an hanya sampai 114 surat saja.

Begitu pula ketika kita jujur menghitung nama lengkap Dus Nur, Sugi Nur Raharja. Ketemunya adalah angka 165, melampaui jumlah surat dalam Al-Qur'an. Ini hasil hitungan tim redaksi Dutaislam.com:

S: 18
U: 21
G: 7
I: 9

N: 14
U: 21
R: 18

R: 18
A: 1
H: 8
A: 1
R: 18
J: 10
A: 1

Sekali lagi, jika dihitung tanpa curang, nama Joko Widodo berjumlah 121 (bukan 212). Dan Sugi Nur Raharja jumlahnya 165. Tapi, jika kita sama-sama menghitung nama populer keduanya, maka nama Sugi akan ketemu di angka 99. Ini hitungannya, dimana redaksi masih menghormatinya sebagai "Gus".

G: 7
U: 21
S: 18

N: 14
U: 21
R: 18

Jumlahnya jadi 99 kan? Silakan cek, surat Al-Qur'an urutan ke 99 di sini: Jumlah Surat dan Ayat dalam Al-Qur'an yang Sebenarnya. Anda akan menemukan nama Surat bernama Az-Zalzalah, yang artinya goncangan. Bagaimana asbabul nuzul Surat Az-Zalzalah itu? Mari simak.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair begini:

Ketika turun ayat 8 Qur'an Surat Al-Insan (artinya: dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan), kaum muslimin waktu itu menganggap bahwa orang yang bersedekah sedikit tidak akan memperoleh pahala; orang yang berbuat dosa kecil, seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan, dan sebagainya tidak bercela; serta menganggap bahwa ancaman neraka dari Allah hanya disediakan bagi orang-orang yang berbuat dosa besar.

Karena perilaku yang menganggap berbohong, mengumpat serta lainnya bukan bagian dari yang tercela, maka turunlah ayat-ayat dalam Surat Az-Zalzalah 7-8 sebagai bantahan terhadap anggapan mereka itu.

Siapa yang selama ini mengumpat dengan "diancuk, dobol jaran, apa kabar cebong-cebong, apa kabar dobol-dobol?" Apakah orang bernama Jokowi atau Gus Nur? Anda pilih sendiri jawabannya. Senyumin yuk.

dutaislam.com |

Khilafah Bukan Syariat Islam (2)

Khilafah Bukan Syariat Islam (2)
Senada dengan itu, Nahdhatul Ulama (NU), yang merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama yang diselenggarakan pada 1-2 November 2014 menegaskan bahwa Islam tidak menentukan ataupun mewajibkan suatu bentuk negara atau sistem pemerintahan tertentu bagi para pemeluknya.

Umat diberi kewenangan sendiri untuk mengatur dan merancang sistem pemerintahan yang sesuai denganperkembangan dan kemajuan zaman. Pandangan demikian menunjukkan bahwa NU menolakklaim kewajibanmenegakkan khilafah.

NU juga menegaskan bahwa khilafah sebagai salah satu sistem pemerintahan merupakan fakta sejarah yang pernah dipraktikan pada masa khulafa al-rasyidin. Khilafah, bagi NU, adalah model pemerintahan yang sangat sesuai pada masanya, karena kehidupan umat Islam saat itu belum berada di bawah naungan negara-negara bangsa. Pada masa itu, umat Islam masih sangat dimungkinkan untuk hidup di bawah satu sistem khilafah.

Namun dalam konteks sekarang, di mana umat Islam berada di bawah naungan negara-negara bangsa, tentu ide membangkitkan kembali khilafahIslamiyah dalam konteks kekinian merupakan sebuah utopia.

Selain itu, Majlis Bahtsul Masail NU—sebagaimana ditegaskan Gus Dur dalam buku Ilusi Negara Islam—menyatakan bahwa khilafah Islamiyah sama sekali tidak memiliki rujukan teologis, baik dalam al-Quran maupun hadis. Sementara itu, penyematan kata “Islamiyah”, tak lain hanya untuk memberi bobot teologis, dan lebih sebagai komoditas politik.

Dalam konteks modern, ada banyak kelompok yang mencita-citakan tegaknya khilafah Islamiyah. Anehnya, masing-masing dari kelompok tersebut memiliki konsep kekhilafahan yang berbeda. Bahkan, masing-masing dari mereka mengklaim bahwa konsep ke-khilafah-annyalah yang paling benar dan sesuai dengan syariat, sedangkan gagasan dan konsep ke-khilafah-an kelompok lainnya dianggap salah.

Berdasarkan fakta tersebut, maka poin yang hendak penulis tegaskan ialah,bahwa adanya perbedaan konsep di antara mereka,semakin menunjukkan bahwa Islam tidak pernah mewariskan konsep baku dalam bernegara. Ketidakbakuan ini secara otomatis menunjukkan bahwa khilafahIslamiyyah bukan bagian dari syariat Islam yang bersifat abadi.

Jika memang khilafah merupakan syariat Islam, tentu nash-nash kegamaan, baik al-Quran ataupun hadis akan mengurai konsepnya secara eksplisit. Faktanya,—sebagaimana telah penulis singgung pada artikel sebelumnya berjudul “Adakah Dalil Khilafah Dalam al-Quran?”— bahwa al-Qur’an hanya menyajikan nilai-nilai moral-etik yang dapat dipedomani dalam bernegara semisal adil (al-adalah), musyawarah (al-Syura), amanah (al-amanah) dan lain sebagainya tanpa mewajibkan sistem atau model pemerintahan tertentu.

Berberapa uraian di atas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan dalam bentuk khilafah Islamiyah yang selama ini dicita-citakan oleh kelompok tertentu, sesungguhnya bukanlah syariat Islam. Ia tak ubahnya merupakan hasil kreasi orang-orang yang hidup pada masa awal, sehingga tidak relevan untuk diterapkan di era modern seperti sekarang di mana seluruh negara di dunia telah menerapkan konsep negara bangsa.

Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa penegakkan khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan bukanlah segalanya. Ia bukanlah sistem baku yang tak dapat berubah mengikuti laju perkembangan zaman.

previous klik

Khilafah Bukan Syariat Islam (1)

Khilafah Bukan Syariat Islam (1)
Pandangan demikian, pada gilirannya hendak mengatakan bahwa semua sistem pemerintahan—selain khilafah Islamiyah—adalah sistem kufur, tak terkecuali demokrasi di Indonesia yang merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa (founding fathers).

Mereka juga dengan sangat meyakinkan menyatakan bahwa penegakkan khilafah Islamiyyah merupakan solusi tunggal yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang dialami dunia Islam saat ini. Dari sini, pertanyaan yang muncul ialah, benarkah khilafah Islamiyah merupakan bagian dari syariat Islam?

Abdullah bin Umar bin Sulaiman al-Damiji, dalam kitabnya al-Imamah al-Udzma Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah berkata:

إن الإمامة وسيلة لا غاية ، وسيلة إلى إقامة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر بمفهومه الواسع – كما مرّ في مقاصد الإمامة – وهذا واجب على جميع أفراد الأمة الإسلامية ، وحيث إنه لا يمكن القيام به على وجهه الأكمل إلا بعد تنصيب إمام للمسلمين يقودهم وينظم لهم طريق الوصول إلى القيام بهذا الواجب العام


“Sesungguhnya kepemimpinan politik (imamah) merupakan instrumen,bukan tujuan utama. Ia merupakan instrumen dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Dengan pengertian yang lebih luas,—sebagaimana dijelaskan dalam tujuan-tujuan kepemimpinan—. Dan ini merupakan kewajiban bagi setiap individu umat Islam, karena (menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar) tidak mungkin dapat dilakukan secara sempurna, kecuali setelah mengangkat pemimpin bagi umat Islam yang dapat menuntun dan mengatur mereka tentang cara menegakkan kewajiban yang utama.”

Apa yang ditegaskan al-Damiji di atas, menunjukkan bahwa secara fungsional, eksistensi kepemimpinan politik (imamah)—apapun bentuknya, baik khilafah Islamiyah dan lain sebagainya—hanyalah sebuah instrumen (wasilah) dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Ia bukanlah tujuan utama (ghayah) yang ingin dicapai oleh syariat. Oleh karenanya, sebagai sebuah intrumen, tentu potensial mengalami perubahan.

Perubahan tersebut sangat mungkin terjadi sejauh dapat melaksanakan dan memenuhi tuntutan atau tujuan yang ingin dicapai melalui intrumen tersebut, yakni menegakkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Selain itu, karena ia sebagai instrumen, maka berarti umat Islam mendapat ruang kebebasan untuk berijtihad dan berkreasi dalam menentukkan bentuk kepemimpinan politik atau sistem pemerintahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana mereka hidup.

Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtishad fi al-I’tiqad, bab al-Imamah, pada paragraf pertama menegaskan bahwa persoalan imamah masuk pada wilayah fiqh. Dengan demikian,—sebagaimana watak fiqh yang cendrung elastis, fleksibel dan dinamis,—maka keberadaan imamah sebagai instrumen itupun dapat berubah bentuknya seiring dengan tuntutan perkembangan kemajuan zaman dan tempat.

Sehingga, penegakkan amar ma’ruf nahyi munkar tidak harus dilakukan melalui sistem pemerintahan tertentu semisal khilafah Islamiyah, melainkan juga dapat dilakukan melalui sistem pemerintahan lainnya termasuk juga demokrasi sebagaimana halnya di Indonesia. Karena—sebagaimana ditegaskan di atas—bahwa tujuan utama yang ingin dicapai oleh syariat ialah tegaknya amar ma’ruf nahyi munkar.

next klik

Keluar NU, Tapi Mengaku Tetap Di Jalan Aswaja

Keluar NU, Tapi Mengaku Tetap Di Jalan Aswaja
Mulai dari artikel ini, mari kita sepakati untuk tidak memanggilnya Gus Nur, mari kita mulai memanggilnya dengan nama baru yang lebih mencitrakan dirinya yang sebenarnya, Gus Su', dengan mengambil konsonan nama lengkapnya yang paling depan, Sugi Nur Raharja.

Kemunculannya dapat dikatakan sebagai tanda dari salah satu fenomena tantangan zaman yang baru, dalam lain kata, tantangan-tantangan zaman baru itu, adalah kemunafikan, kepura-puraan, kesamaran dan berbagai sifat-sifat tercela lainnya.

Kalau menurut cerita Jawa yang saya yakini kebenarannya, bahwa ada pemangku bagi Jawa dalam setiap zaman yang dilaluinya. Dia satu, tapi pada zaman yang berubah-ubah, namanya juga berubah, tapi orangnya tetap sama. Dia adalah Eyang Semar atau Ismoyo atau Bodronoyo. Yang mana setiap nama yang ia pakai, adalah sebuah isyarat tentang solusi-solusi pada suatu zaman.

Kalau melihat fenomena semacam kesombongan Gus Su', keangkuhan Felix, maka sepertinya kemunculan pemangku zaman kali ini adalah dengan memakai nama Semar. Yakni sebuah isyarat, bahwa zaman sudah tiba di masa semuanya serba samar, remang-remang.

Kedua artis youtube tersebut, dikenal dan dipuja-puja segelintir orang berangkat dari aktifitasnya di media sosial. Kejernihan hatinya, kemurnian pemikirannya, ketajaman kata-katanya, semuanya hanya berawal dari ekspresinya melalui media sosial. Sehingga banyak sekali pengikut-pengikutnya, yang menilai dia orang baik, dia muslim kaffah.

Dan dengan begitu, jelas menyebabkan hatinya merasa punya pengaruh, sehingga ketika berhadapan dengan orang-orang yang juga benar-benar punya pengaruh, dia akan bertahan dengan pendapatnya sesalah apapun. Dan di situlah, letak pertikaian dimulai.

Sedangkan kita sejak kecil sudah diajari, kalau melihat segala sesuatu jangan hanya nampak luarnya saja. Kalau memandang nampak luarnya saja, yaa persis seperi Gus Su', yang merasa penontonnya banyak di youtube, karena dia tidak bisa mengaji, berdalil, baca kitab kuning. Maka untuk mempertahankan pengikutnya, dia bilang "tidak penting tidak bisa membaca kitab kuning bagi seorang ustadz".

Saya hanya melihat apa yang dia lakukan, hanyalah upaya-upaya yang tidak murni tentang agama di dalam hatinya. Hal itu terlihat lebih sangat jelas, ketika beberapa waktu yang lalu, dia berujar "pamit dan keluar NU". Dalam hati saya kebingungan, dan hanya menyisakan HA HA HA.

Apa maksudnya keluar dari NU? Apa maksudnya menantang NU gitu? Apa dikira NU itu wilayah fisik? Ini loo yang saya maksud tadi dengan kesamaran. Apalagi dia mengungkapkan itu, pasca ia diundang Ansor bertabayun beberapa waktu yang lalu.

Penggiringan opini bahwa NU itu bukan organisasi baik, atau organisasi yang tidak menginginkan Islam menjadi negara, dan menghalang-halangi khilafaers berjuang. Nyatanya memang untuk itu, tak berselang lama, setelah videonya menyatakan keluar dari NU, robot-robot MCA langsung berucap syukur, dengan bumbu-bumbu khas seperti biasanya.

Kebodohan membaca kenyataan, jelas menjadikannya sangat tidak dianggap ada, oleh petinggi-petinggi khilafaers. Apalagi dia juga tidak akan diterima dengan mudah di lingkungan NU, maka pantas saja jika mengambil jalan untuk tetap menjadi artisnya youtube.

Saya pun berharap, di kemudian hari kita tidak lagi heboh terkaget-kaget dengan kelakuan si Gus Su' tersebut. Mending menyimak apa yang dilakukan dan dikatakan Felix, saya rasa Felix lebih berbobot, tidak emosional, dan masih terlihat akalnya dipakai, meskipun agak terlalu tidak dipakai juga.

Penilaian saya pribadi tentang dua orang itu, sama-sama tidak saya sepakati apa-apa yang menjadi agenda-agenda politik dalam bungkus keagamaannya. Tapi akan mengalami perbedaan ketika sesaat menonton video kedua orang itu, video tema apapun.

Tentang Felix, ketidaksepakatan saya padanya menghasilkan saya mengelus dada, dan kemudian membuat saya berfikir kembali lalu mencari referensi pembanding. Tapi jika selepas saya menonton videonya Gus Su', yang ada hanya perasaan ingin berantem saja langsung. Yang jancok lah, yang matamu picek lah. Semua itu kok rasa-rasanya ndak pantes blas.

Alhasil, sudah sangat baiklah dia mengaku keluar NU, toh sejak kapan istilah masuk NU itu ada. Kalau masuk Islam ada tanda-tanda dan syaratnya, masuk sebagai warga Negara Indonesia juga ada syarat-syaratnya. Dia memang konyol, sekonyol dia mengiyakan untuk dipanggil Gus.

Tau kan Gus itu panggilan untuk siapa??

Rahayu!

dutaislam.com |

30 Orang Pertama Penting dalam Islam

Dalam sejarah islam, kita cuma mengenal mereka yang kali pertama masuk islam (Assabiqunal Awwalun) tapi kerap kita tidak tahu, siapa saja mereka yang melakukan sesuatu berkaitan dengan islam. Siapa sajakah mereka?

Berikut nama-nama sahabat Rasulullah itu;

Orang yang pertama menulis Bismillah :
Nabi Sulaiman AS.

Orang yang pertama minum air zamzam :
Nabi Ismail AS.

Orang yang pertama berkhitan :
Nabi Ibrahim AS

Orang yang pertama diberikan pakaian pada:
hari qiamat :
Nabi Ibrahim AS.

Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat :
Nabi Adam AS.

Orang yang pertama mengerjakan sa’i antara Safa & Marwah :
Sayyidatina Hajar

Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat :
Nabi Muhammad SAW.

Orang yang pertama menjadi Khalifah Islam :
Abu Bakar As Siddiq RA.

Orang yang pertama menggunakan Kalender Hijriyyah :
Umar bin Al-Khattab

Orang yang pertama meletakkan Jabatan khalifah dalam Islam :
Hasan bin Ali RA.

Orang yang pertama menyusukan Nabi Muhammad SAW :
Thuwaibah RA.

Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki :
Haris bin Abi Halah

Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita :
Sumayyah binti Khabbat

Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab /lembaran :
Abdullah bin Amru bin Al-Ash

Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah :
Saad bin Abi Waqqas

Orang yang pertama menjadi muazzin dan menyerukan adzan:
Bilal bin Rabah

Orang yang pertama sembahyang dengan RasulullahSAW :
Ali bin Abi Tholib

Orang yang pertama membuat mimbar masjid Nabi SAW :
Tamim Ad-dary

Orang yang pertama menghunus pedang dalam perjuangan fisabilillah : Zubair bin Al- Awwam

Orang yang pertama menulis sejarah Nabi Muhammad SAW :
Ibban bin Othman bin Affan

Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW :
Khadijah bt Khuwailid.

Orang yang pertama menggagas ushul fiqh :
Imam Syafi’i RH.

Orang yang pertama membina penjara dalam Islam:
Ali bin Abi Tholib

Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam :
Muawiyah bin Abi Sufyan

Orang yang pertama membuat perpustakaan umum:
Harun Ar-Rasyid

Orang yang pertama mengadakan baitulmal : Umar bin Khattab

Orang yang pertama menghafal Al-Qur’an setelah Rasulullah SAW :
Ali bin Abi Tholib

Orang yang pertama membangun menara di Masjidil Haram Mekah:
Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur

Orang yang pertama digelar Al-Muqry :
Mus’ab bin Umair

Orang yang pertama masuk ke dalam syurga :
Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam

Mengapa Lantai Masjidil Haram Selalu Sejuk?

Mengapa Lantai Masjidil Haram Selalu Sejuk?
Cuaca ekstrim yang sering terjadi di Tanah Suci rupanya tak mempengaruhi suhu udara di Masjidil Haram. Kegiatan thowaf, ibadah mengitari Ka'bah sebanyak tujuh kali yang menghabiskan banyak energi, khususnya pada siang hari, tidak sedikitpun membuat jamaah merasa kelelahan. Mengapa?

Sempat ada beberapa anggapan bahwa adanya mesin penyejuk ruangan atau AC yang dipasang di bawah marmer. Namun hal itu ditepis. 


Disebut-sebut berkat marmer yang terdapat di Masjidil Haram yang terasa sejuk. Itu benar, lantai Masjidil Haram selalu terasa sejuk dikarenakan lantainya terbuat dari bahan marmer jenis thassos. Yaitu marmer asli yang berasal dari Yunani.

Marmer ini memiliki sifat yang berlawanan dengan suhu udara disekitarnya, akan terasa dingin jika terkena panas dan sebaliknya. Hal ini dijelaskan langsung oleh Kepala Peneliti Masjid, Abdul Mohsin bin Hamid.

"Tidak hanya lantai, bahkan setiap ruangan dalam Masjidil Haram akan terasa sejuk meski cuaca begitu ekstrim," ungkapnya.

Dengan adanya lantai marmer ini, setiap jemaah yang beribadah thowaf tidak akan merasa panas di telapak kakinya dan tidak perlu berjalan berjingkat-jingkat ketika melakukan thowaf di siang hari sekalipun tidak memakai alas kaki.


jumrah.com | Erwin E Ananto