Inilah Kitab Karya Ulama NU Betawi KH Saifuddin Amsir

Inilah Kitab Karya Ulama NU Betawi KH Saifuddin Amsir
Ulama NU Betawi KH Saifuddin Amsir terbilang mashur di tanah kelahirannya, Jakarta. Selain mengasuh Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, ia juga mengisi ceramah dalam berbagai acara, dan rutin di menyampaikan pengajian di berbagai majelis ta’lim. 

Hal sama yang dilakukan salah seorang gurunya, tokoh NU Betawi juga, KH Syafi’i Hadzami. 

NU Online, menjelang Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015 lalu memuat profil KH Saifuddin Amsir yang terdaftar menjadi salah seorang calon kiai yang akan menduduki Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). 

Berikut ini beberapa karya Mustasyar PBNU yang wafat hari ini, Kamis (19/7) yang merupakan liputan wartawan NU Online, Mustofa Asrori.

Karyanya yang telah dicetak antara lain: 1) Tafsir Jawahir al-Qur’an (empat jilid), 2) Majmu’ al-Furu’ wa al-Masail (tiga jilid), dan 3) Al-Qur’an, I’jazan wa Khawashan, wa Falsafatan. Karya yang disebut terakhir ini merupakan magnum opus/masterpiece (karya besar) Kiai Amsir yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.

Pasalnya, selain beraliran tafsir falsafi, kitab ini merupakan racikan dari beberapa tema dari kitab Jawahir al-Qur’an (hlm. 1-140), Al-Dzahab Al-Ibriz fi Khawashil Qur’an al-Aziz (142-172), Qanun al-Ta’wil (173-184). Ketiganya karya Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali .

Kitab ini juga terinspirasi dari beberap kitab, antara lain Fadhāil al-Qur’ān karya Syeikh al-Hāfidz Ibn Katsir (hlm. 175-312), ‘Ajāib al-Qur’ān karya Syeikh Fakhruddin al-Rāzī (hlm. 313-475), dan al-Dur al-Nadzim fi Khawāsi al-Qur’ān al-Karīm karya Imam al-Yafi’i (hlm. 477-623). Komentar (syarah) yang ditulis Kiai Saifuddin Amsir menyertai tiap bahasan yang dinukil dari kitab-kitab tersebut.

Dalam menyusun karyanya, ia memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jāz (Kemukjizatan), Khawās (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an. Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid.


KH Saifuddin Amsir wafat di Rumah Sakit OMNI Rawamangun, Jakarta, Kamis (19/7) dini hari sekitar pukul 01.30. Warga NUmendapat kabar tersebut dari salah seorang putrinya, Badrah Uyuni, sekitar pukul 03.55.

Kiai kelahiran 31 Januari 1955 ini adalah seorang Mustasyar PBNU masa khidmah 2015-2020. Pada periode-periode sebelumnya, ia selalu tercatat di Syuriyah PBNU. 

Ia adalah seorang kiai yang mencintai NU. “Sebandel apa pun kita harus cinta NU,” katanya di sela pengajian Ahad pagi di Masjid Ni‘matul Ittihad Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad (11/2/2018) pagi.

Ia menceritakan bagaimana para kiai di Jakarta dahulu melibatkan diri gerakan NU, sebuah gerakan Ahlussunnah wal Jamaah. “Guru-guru kita dulu terlibat aktif dalam NU. Ente kudu jadi pengurus NU. Kita harus cinta pada NU,” kata Kiai Saifuddin Amsir. 

Selain aktif berceramah di majelis-majelis ta'lim dan menulis beberapa kitab, KH Saifuddin Amsir juga mengasuh Ma'had Aly Zawiyah Jakarta.

Semoga almarhum mendapatkan tempat paling layak di sisi Allah. Segenap keluarga dan murid-muridnya bisa melanjutkan cita-citanya. Al-Fatihah...

www.nu.or.id | Abdullah Alawi

Berbeda ala Gus Dur dengan Gus Sholah

Hubungan kakak beradik, Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur  dan Kiai Haji Sholahudin Wahid alias Gus Sholah tergolong unik. Secara nasab sama persis. Keduanya putra pahlawan Nasional, Menteri Agama pertama, dan pengasuh Pondok Tebuireng. Kiai Haji Wahid Hasyim. Cucu muassis Nahdlatul Ulama (NU), pahlawan Nasional, dan pendiri Pondok Tebuireng, Hadratussyaikh M. Hasyim Asy’ari.

Namun, keduanya memiliki penilaian diametral berkaitan dengan pandangan politik keislaman sang ayah. Terutama, terkait hubungan Agama dan Negara. Keduanya berdebat secara terbuka. Perdebatan tak berlangsung di meja makan, ruang keluarga atau serambi masjid Pondok Tebuireng. Melainkan berlangsung di Koran Media Indonesia, sepanjang Oktober 1998.

Tulisan ditanggapi dengan tulisan, sehingga publik bisa membaca dan merekam perdebatan keduanya. Banyak yang tercengang, risih, dan tidak siap menyaksikan perdebatan dua tokoh mereka. Bagi kalangan yang tidak siap, keduanya ditengarai berkonflik dan bermusuhan.

“Sampai-sampai pernah terdengar penuturan, “apa keduanya sudah tidak bisa ketemu lagi?”” tulis Saifullah Ma’shum dalam buku KH. A. Wahid Hasyim dalam Pandangan Dua Puteranya (2015: vi).

Perdebatan berawal dari tulisan Gus Dur berjudul A. Wahid Hasyim, NU dan Islam, pada 8-9 Oktober 1998 di Media Indonesia. Gus Dur menyampaikan sikap KH. A. Wahid Hasyim yang memberikan supremasi Pancasila sebagai dasar Negara atas hukum Islam. Hukum Islam disandarkan pada Pancasila yang menjadi dasar Negara. Gus Dur peroleh sikap sang ayah dari Suwarno, pengawal pribadi Jenderal Besar Soedirman. Selama mengawal Panglima Soedirman, Suwarno kerap bertemu KH. Wahid Hasyim dan merekam obrolan kedua tokoh.

Gus Dur juga mengetahuinya dari kesaksian mantan Menteri Agama Munawir Syadzali. Mengisahkan kejengahan KH. Wahid Hasyim berhadapan pandangan “konservatif” para Kiai yang bersandar pada syari’ah dan terutama ulama tersebut tidak tertarik pada Pancasila (2015:4). Gus Dur tertarik dengan citra sang ayah sebagaimana diceritakan Suwarno dan Munawir Sadzali. Gus Dur pun mengaitkan dengan pilihan kebijakan Wahid Hasyim yang menerima usulan agar sisiwi diterima di Sekolah Guru Hakim Agama Negeri (SGHAN).

Gus Dur juga mengelaborasi keputusan Muktamar NU Banjarmasin 1935 tentang kewajiban mempertahankan Negara, dengan resolusi jihad 1945 yang berisi seruan mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. Sehingga, bagi Gus Dur, yang penting harus dijaga adalah kedaulatan Negara.

Tidak penting siapa pemerintahannnya. Muslim atau tidak pemerintahannya juga bukan jadi patokan. Mengakhiri tulisan Gus Dur menggarisbawahi jika KH. Wahid Hasyim merupakan tokoh NU yang dinamis, liberal sekaligus punya dampak tersendiri pada jalannya perjuangan NU.

Tulisan Gus Dur ini mendapat tanggapan dari adiknya sendiri, Gus Sholah yang menulis KH. A. Wahid Hasyim, Pancasila, dan Islam, pada 17 Oktober 1998. Tulisan Gus Sholah meragukan cerita Gus Dur mengenai pendapat Suwarno terhadap sang ayah. Gus Sholah juga mengenal Suwarno dan seringkali bercakap. Namun, menurut Gus Sholah belum pernah Suwarno melontarkan cerita sebagaimana ditulis Gus Dur. Bisa jadi, Suwarno belum dapat menangkap dan memahami sikap KH. Wahid Hasyim.

Berbeda dengan Gus Dur, Gus Sholah justru menilai bahwa kekentalan keislaman sang ayah tidak dapat diragukan. Memang KH. Wahid Hasyim dan beberapa pemimpin Islam lainnya bersedia menghilangkan tujuh kata piagam Jakarta. Namun, itu karena sikap yang tidak main mutlak-mutlakan dari seorang KH. Wahid Hasyim. Bagi Gus Sholah, sang ayah bukan sosok liberal atau pun sekuler seperti yang  digambarkan Gus Dur.

Gus Sholah menyodorkan fakta sejarah Rapat Panitia Perancang Undang-undang Dasar tanggal 13 Agustus 1945 dan perubahan susunan serta redaksional Pancasila. Ditemukan bahwa  kekentalan rasa keislaman bukanlah aib. Bukanlah noda politik, begitu menurut Gus Sholah.

Selain itu, Gus Sholah juga merujuk kepada pendapat Rais Aam PBNU, KH. Achmad Shiddiq. Ia berperan merumuskan hubungan NU dan Pancasila. Negara Indonesia memang bukan negara teokrasi yang berdasarkan satu agama tertentu. Namun, dasar Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa Indonesia juga bukanlah negara sekuler.

Sehingga, bagi Gus Sholah Pancasila dan Islam tidak harus dipertentangkan dan saling mengalahkan. Keduanya dapat berjalan saling menguatkan, menunjang, dan melengkapi mengiringi kehidupan berbangsa dan bernegara. Membohongi atau tidak terhadap Pancasila, seperti yang dituduhkan oleh Gus Dur, adalah tergantung penafsiran terhadap Pancasila. Bersifat sekuler atau religius.

Perbedaan Pandangan Politik

Perdebatan tidak berhenti di sini. Gus Dur menanggapi tulisan adiknya dengan tulisan berjudul Terserah Suara Rakyat di Media Indonesia, 23 Oktober 1998. Gus Dur menyayangkan koreksi sikap politik yang dilakukan Gus Sholah tanpa menghubunginya. Terkait pendirian Partai Kebangkitan Umat (PKU), Gus Sholah merupakan salah satu pendirinya.

Sementara itu Gus Dur merupakan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).  Menarik bukan? Dua orang saudara kandung, memiliki pandangan yang diametral sekaligus mempunyai lengan politik yang berbeda. Satu PKU dan satunya lagi PKB. Meski begitu, bagi Gus Dur masih banyak media lain di luar politik yang mampu mengekalkan persaudaraan mereka. Sikap keduanya, seakan sebuah contoh bagaimana perdebatan dan keragaman pandangan adalah rahmat.

Dalam tanggapannya ini, Gus Dur tetap kukuh bahwa sumber hukum negara Indonesia adalah pembukaan dan batang tubuh UUD 1945. Perundang-undangannya berdasarkan keputusan DPR RI. Sehingga, sumber hukum negara Indonesia tidak harus bergantung terhadap syari’ah Islamiyah.  Jika hanya bersandar pada syari’ah Islam saja, menurut Gus Dur, tidak akan diperoleh hukum kenegaraan yang lengkap bagi Indonesia. Sebaliknya, menurut Gus Dur, keabsahan hukum bagi Gus Sholah adalah ketika didukung oleh syari’ah Islamiyah.

Dalam tulisan ini Gus Dur juga menyayangkan sikap para pemimpin Islam yang mendua. Tidak mau memilih secara tegas antara mendasarkan hukum pada Islam atau Pancasila yang berarti hukum yang tidak berdasarkan atas syari’ah Islam. Padahal, bagi Gus Dur hukum nasional harus memilih. Tidak bisa dibiarkan menggantungkan masalah kepada keadaan, jalan tengah, atau menyerasikan keduanya.

Selang beberapa hari, Gus Sholah kembali menanggapi. Dia menulis Pancasila Jalan Tengah Kita. Gus Sholah kembali menandaskan Indonesia bukan negara Agama yang mengambil ajaran satu agama sebagai satu-satunya sumber hukum nasional yang mengikat. Indonesia juga bukan negara sekuler yang memisahkan secara tajam dan secara total kehidupan agama dan Negara.

Gus Sholah mengetengahkan gerak sejarah yang merekam perdebatan mengenail hal ini. Mulai dari perdebatan Sukarno yang mengusulkan negara sekuler dengan Natsir yang menginginkan negara Islam, sidang BPUPKI dan PPKI, lahirnya Piagam Jakarta sampai ia direvisi, dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Tegangan-tegangan sejarah itu telah memunculkan jalan tengah. Bukan negara sekuler dan bukan negara Islam. Jalan tengah itulah Pancasila yang religius. Dengannya, Indonesia telah membuktikan mampu berjalan sebagai sebuah bangsa dan negara. Penegasan Pancasila sebagai jalan tengah ini sekaligus menolak tuduhan Gus Dur.

Yakni, mereka yang tidak menghendaki negara sekuler dianggap menginginkan berdirinya negara Islam. Tuduhan itulah yang dikhawatirkan justru memunculkan ketakutan di kalangan non-Islam bahwa ada pihak yang ingin mendirikan negara Islam. Sehingga, perdebatan tentang negara sekuler versus negara Islam harus dihentikan.

Nyatanya, perdebatan tidak juga berhenti. Gus Dur menanggapi, menulis Menghindari Negara Berasumsi Agama sebagai jawaban atas tulisan Gus Sholah. Belum juga final. Karena tulisan Gus Dur ini juga menuai tanggapan dari Gus Sholah dalam sebuah tulisan berjudul  Biarkan Sejarah Menilai.

Perdebatan keduanya seolah tidak bisa ketemu. Masing-masing mempunyai argumentasi yang ditopang dengan pembacaan yang kuat. Baik atas teks maupun konteks politik dan sejarah. Meski begitu, keduanya punya kegelisahan yang sama tehadap masalah keberagamaan dan kebangsaan. Mulai soal korupsi, pelanggaran hukum, kemiskinan, demokratisasi, kekuasaan otoriter, dan sebagainya.

Selang beberapa tahun, yaitu tahun 2002, keduanya kembali bersilang pendapat di media massa. Tulisan Gus Sholah mengenai NU dan Gus Dur di harian Suara Pembaharuan pada 13 Februari 2002 ditanggapi oleh Gus Dur. Gus Dur menanggapinya dalam tulisan NU: Pergulatan Kultural Melawan Institusi. Kali ini perdebatan keduanya seputar NU. Khususnya berhubungan dengan budaya demokrasi, institusi dan sistem di tubuh NU, Muktamar Luar Biasa (MLB), dan relasi kultural di dalam NU.

Mencari Kebenaran Bukan Kemenangan

Sungguh perdebatan dua orang saudara yang ideologis sekaligus inspiratif. Sepintas, aroma konflik antara keduanya yang tertangkap oleh publik. Publik menganggap keduanya bermusuhan atau tidak akur. Padahal tidak sesederhana itu. Bahkan, Gus Dur dalam tulisannya mengaku sengaja mengirimkan artikel untuk menanggapi Gus Sholah. Kalaupun kemudian ada perdebatan hangat, tidak lain sebagai upaya pencarian kebenaran. Bukan kemenangan.

“Karena itulah penulis mengirimkan artikel ini, dan bukannya untuk berdebat dengan adik penulis sendiri. Sebab, hal itu dapat dilakukan kami berdua di mana saja, tetapi publik tidak akan mendapatkan manfaat dari perdebatan yang terjadi,” tulis Gus Dur dalam NU: Pergulatan Kultural Melawan Institusi.

Perdebatan keduanya bukan sesuatu yang mengherankan. Tradisi berdialektika telah ditanamkan lama di dalam keluarga KH.Wahid Hasyim. Menurut Gus Sholah, perbedaan pandangan dengan Gus Dur tidak menyebabkan renggangnya persaudaraan.  Sejak kecil keduanya terlatih untuk tidak malas berpikir.

Keduanya juga terbiasa berani bersikap, berbeda dan mengemukakan pendapat. Karena itulah, meski berbeda pandangan, Gus Sholah tetap mencintai, menghormati, dan mengagumi Gus Dur sebagai seorang kakak sekaligus tokoh.

“Tetapi kalau penulis mempunyai perbedaan pendapat dengan Gus Dur dalam masyalah kemasyarakatan yang penting, adalah sesuatu yang wajar kalau pendapat itu disosialisasikan,” tulis Gus Sholah dalam Pancasila Jalan Tengah Kita.

Keduanya patut menjadi rujukan bahwa perbedaan pandangan tidak harus disikapi dengan kemarahan apalagi kebencian. Perbedaan pandangan adalah anugerah jika mampu disikapi dengan bijak.  Sehingga, perbedaan yang melahirkan perdebatan yang sehat adalah rahmat bagi publik. Begitulah sebagian pesan yang dapat kita petik dari perdebatan kedua saudara kandung, kakak-beradik, Gus Dur dan Gus Sholah.

www.terakota.id

Mengenang Kepergian Kiai Hasyim Asy’ari, Hari Ini

Mengenang Kepergian Kiai Hasyim Asy’ari, Hari Ini
Hari ini, 7 Ramadhan 1439 Hijriyah bertepatan dengan 73 tahun meninggalnya Hadhratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, yang meninggal dunia pada 7 ramadhan 1366 Hiriyah (21 Juli 1947 Masehi). 

Hadhratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari atau yang akrab disebut Mbah Hasyim adalah seorang tokoh dan ulama besar di abad ke-19 hingga abad ke-20. Tentu, kisah-kisahnya dalam  narasi syiar Islam di Nusantara dan perjuangannya di republik ini tidak perlu diragukan lagi.

Organisasi Massa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sebagai kiblat pesantren di Indonesia maupun internasional adalah buah tangan dinginnya.

Mbah Hasyim dikenal sebagai sosok yang nasionalis dan berilmu luas terlebih ilmu agama. Hal ini tidak terlepas dari proses pendidikannya, yang sejak kecil telah dididik di dalam dunia pesantren dan di sejumlah pesantren legendaris, seperti Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo,

Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh K.H Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil). Bahkan pencarian ilmunya tidak hanya di Nusantara, melainkan hingga ke mancanegara seperti Timur-Tengah.

Dalam narasi sejarah bangsa kita, pesantren bukan sekedar tempat menempah kedalaman ilmu agama. Melainkan sebagai ruang bercokolnya nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Diketahui pada abad ke-17 pascakekuasaan Kerajaan Mataram, pesantren berkembang lepas dari kontrol kekuasaan kerajaan. Notabene, penguasa kolonial tidak punya ruang untuk mengontrol perkembangan pesantren.

Sehingga pesantren berkembang sebagai basis munculnya corak keislaman masyarakat pedesaan, dan ulama atau kiai tampil sebagai “perantara budaya” untuk melakukan transmisi ajaran-ajaran Islam ke dalam ruang lingkup kehidupan masyakarat lokal di pedesaan.

Maka, dalam perkembangannya pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, melainkan juga tampil sebagai eksekutor proses islamisasi di pedalaman Jawa, yang mampu membentuk watak keislaman yang dikenal sangat lekat dengan kehidupan pedesaan yang tradisional.
Bahkan, dari sinilah para kiai tampil sebagi aktor penting dalam perlawanan melawan kekuatan kolonial (Abdul Hadi W. M. dkk., 2015:215). Sehingga bukan hal yang aneh, jika pesantren, ulama, dan santri bertalian erat dengan nasioanalisme bangsa Indonesia.

Salah satu bukti konkritnya yaitu pada abad ke-20 perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, adalah melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Mbah Hasyim, sebagai tonggak pergerakan ulama dan santri pascakemerdekaan.

Resolusi Jihad ditandatangani oleh Mbah Hasyim pada 17 September 1945 yang kemudian di kukuhkan dalam rapat para kiai tanggal 21-22 Oktober 1945. Resolusi Jihad adalah upaya dorongan kepada pemerintah agar segera menentukan sikap dalam melawan kekuatan sekutu dan Belanda yang berusaha mengurungkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Tidak hanya bertujuan mendesak pemerintah, melainkan melakukan upaya sacara fisik yakni perlawanan bersenjata yang dipelopori oleh Laskar Hizbullah, laskar ini melibatkan para kiai dan santri. Laskar Hizbullah merupakan muara dari perlawanan ulama dan santri melawan kolonialisme penjajah yang kemudian terealisasi pada masa pendudukan Jepang.

Laskar Hizbullah merupakan kesatuan bersenjata yang solid dan sigap, meskipun hanya sebatas organisasi semi militer. Laskar Hizbullah mendapat dukukungan penuh dari jam’iyah Nahdlatul Ulama dengan konsolidasi dan jalur komando yang begitu masif hingga ke pedesaan (Zainul Milal Bizawie, 2016:26-27).

Walaupun menurut anggaran dasarnya, Laskar Hizbullah hanya sebagai korps cadangan PETA dalam melawan sekutu. Tetapi pada kenyataanya, Laskar Hizbullah tidak banyak bekerja sama dengan PETA, Laskar Hizbullah dan PETA bergerak sendiri-sendiri (Cornelis van Dijk, 1983: 63).

Resolusi Jihad merupakan sumbu dari peristiwa pertempuran 10 November 1945, Surabaya menjadi melthing pot Laskar Hizbullah dari berbagai daerah untuk melawan sekutu.

Resolusi Jihad tidak hanya membahana di Surabaya, melainkan diberbagai kota bahkan mengiringi keberhasilan dalam Perang Sabil Palangan Ambarawa. Resolusi Jihad sebagai momentum bersejarah yang mampu mencetak sejarah besar lainnya.

Resolusi Jihad menjadi titik puncak perlawanan yang tidak pernah berhenti dinyalakan oleh ulama dan santri. Tidak hanya tempat menimbah ilmu agama, Pesantren sebagai tempat berseminya cinta tanah air dan jihad fisabilillah, karena rasa kebangsaan tidak terlepas dari sisi religiusitas dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara (Zainul Milal Bizawie, 2016:28-29).

kumparan.com

Biografi KH Hasyim Al Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

Biografi KH Hasyim Al Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)
KH Hasyim Al Asy’ari adalah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Ia juga pendiri pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.


Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

Kelahiran Dan Masa Kecil

Tidak jauh dari jantung kota Jombang ada sebuah dukuh yang bernama Ngedang Desa Tambak Rejo yang dahulu terdapat Pondok Pesantren yang konon pondok tertua di Jombang, dan pengasuhnya Kiai Usman. Beliau adalah seorang kiai besar, alim dan sangat berpengaruh, istri beliau Nyai Lajjinah dan dikaruniai enam anak:
  1. Halimah (Winih)
  2. Muhammad
  3. Leler
  4. Fadli
  5. Arifah
Halimah kemudian dijodohkan dengan seorang santri ayahandanya yang bernama Asy’ari, ketika itu Halimah masih berumur 4 tahun sedangkan Asy’ari hampir beruisa 25 tahun. Mereka dikarunia 10 anak:
  1. Nafi’ah
  2. Ahmad Saleh
  3. Muhammad Hasyim
  4. Radiyah
  5. Hasan
  6. Anis
  7. Fatonah
  8. Maimunah
  9. Maksun
  10. Nahrowi, dan
  11. Adnan.
Muhammad Hasyim, lahir pada hari Selasa Tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Masa dalam kandungan dan kelahiran KH.M. Hasyim Asy’ari, nampak adanya sebuah isyarat yang menunjukkan kebesarannya. diantaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh kedalam kandungannya, begitu pula ketika melahirkan Nyai Halimah tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita ketika melahirkan.

Di masa kecil beliau hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Ngedang, ini berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya yang pindah ke Desa Keras terletak di selatan kota Jombang dan di desa tersebut Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah.
Principle of early learning, mungkin teori ini layak disandang oleh beliau, berdasarkan kehidupan beliau yang mendukung yaitu hidup dilingkungan pesantren, sehingga wajar kalau nilai-nilai pesantren sangat meresap pada dirinya, begitu pula nilai-nilai pesantren dapat dilihat bagaimana ayahanda dan bundanya memberikan bimbingan kepada santri, dan bagaimana para santri hidup dengan sederhana penuh dengan keakraban dan saling membantu..

Belajar Pada Keluarga

Perjalanan keluarga beliau pulalah yang memulai pertama kali belajar ilmu-ilmu agama baik dari kakek dan neneknya. Desa Keras membawa perubahan hidup yang pertama kali baginya, disini mula-mula ia menerima pelajaran agama yang luas dari ayahnya yang pada saat itu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asy’ariyah. Dengan modal kecerdasan yang dimiliki dan dorongan lingkungan yang kondusif, dalam usia yang cukup muda, beliau sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik bimbingan keluarga, guru, atau belajar secara autodidak. 

Ketidakpuasannya terhadap apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Setelah sekitar sembilan tahun di Desa Keras (umur 15 tahun) yakni belajar pada keluarganya, beliau mulai melakukan pengembaraanya menuntut ilmu.

Mengembara ke Berbagai Pesantren

Dalam usia 15 tahun, perjalanan awal menuntut ilmu, Muhammad Hasyim belajar ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh K.H Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil).

Ada cerita yang cukup mengagumkan tatkala KH.M. Hasyim Asy’ari “ngangsu kawruh” dengan Kiai Khalil. Suatu hari, beliau melihat Kiai Khalil bersedih, beliau memberanikan diri untuk bertanya. Kiai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya jatuh di WC, Kiai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi. Namun, Kiai Khalil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istrinya. Setelah melihat kesedihan di wajah guru besarnya itu, Kiai Hasyim menawarkan diri untuk mencari cincin tersebut didalam WC. 

Akhirnya, Kiai Hasyim benar-benar mencari cincin itu didalam WC, dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, akhirnya Kiai Hasyim menemukan cincin tersebut. Alangkah bahagianya Kiai Khalil atas keberhasilan Kiai Hasyim itu. Dari kejadian inilah Kiai Hasyim menjadi sangat dekat dengan Kiai Khalil, baik semasa menjadi santrinya maupun setelah kembali ke masyarakat untuk berjuang. Hal ini terbukti dengan pemberian tongkat saat Kiai Hasyim hendak mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang dibawa KH. As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo).

Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 H/1891 M), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa, belajar di pesantren Siwalan, Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan K. H. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwu dan shorofnya. Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat santri tersebut dan semakin menaruh minat untuk dijadikan menantunya.

Pada tahun 1303 H/1892 M., Kiai Hasyim yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah dengan Nyai Nafisah, putri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Mekah beliau juga memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilkinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya sejak di tanah air.

Perjalanan hidup terkadang sulit diduga, gembira dan sedih datang silih berganti.demikian juga yang dialami Kiai Hasyim Asy’ari di tanah suci Mekah. Setelah tujuh bulan bermukim di Mekah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. 

Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia. empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga menyusul sang ibu berpulang ke Rahmatullah. Kesedihan beliau yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama, nyaris tak tertahankan. Satu-satunya penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya yang nyaris tak pernah berhenti dilakukannya. Disamping itu, beliau juga memiliki teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat. Sampai akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci, kembali ke tanah air bersama mertuanya.

Kematangan Ilmu di Tanah Suci

Kerinduan akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama adik kandungnya yang bernama Anis. Kenangan indah dan sedih teringat kembali tatkala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Mekah. Namun hal itu justru membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu pengetahuan. 

Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput dikunjunginya, dengan berdoa untuk meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan makam Rasulullah SAW di Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau. Ulama-ulama besar yang tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah, di antaranya adalah Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas (dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani (dalam ilmu hadits), Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi (dalam segala bidang keilmuan).

Upaya yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Mekah, beliau pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang bersifat ma’qul maupun manqul, seabagi bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman.

Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng

Sepulang dari tanah suci sekitar Tahun1313 H/1899 M, beliau memulai mengajar santri, beliau pertama kali mengajar di Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mediang kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu belaiu mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. Disinilah beliau sempat menikahi salah seoarang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. Akungnya, karena berbagai hal, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga Kiai Hasyim kembali lagi ke Jombang.

Ketika telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren yang dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang kemaksiatan dan kekacauan. Pilihan itu tentu saja menuai tanda tanaya besar dikalangan masyarakat, akan tetapi semua itu tidak dihiraukannaya.

Nama Tebuireng pada asalnya Kebo ireng (kerbau hitam). Ceritanya, Di dearah tersebut ada seekor kerbau yang terbenam didalam Lumpur, dimana tempat itu banyak sekali lintahnya, ketika ditarik didarat, tubuh kerbau itu sudah berubah warna yang asalnya putih kemerah-merahan berubah menjadi kehitam-hitaman yang dipenuhi dengan lintah. Konon semenjak itulah daerah tadi dinamakan Keboireng yang akhirnya berubah menjadi Tebuireng.

Pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M, didirikanlah Pondok Pesantren Tebuireng, bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya, segala kesuliatan dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di Tebuireng dapat diatasi.

KH. M. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini berjalan hingga sampai sekarang (penggasuh PP. Tebuireng KH. M.Yusuf Hasyim). Para awalnya santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan orang, alumnus-alumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama’ besar dan menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok pesantren.

Mendirikan Nahdlatul Ulama’

Disamping aktif mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ (kebangkitan ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar lainnya, dengan azaz dan tujuannya: “Memegang dengan teguh pada salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU, sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli sunnah waljama’ah.

Nahdlatul ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berjihad untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk menyatukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan Kiai Hasyim kalau menyerah begitu saja, bahwa beliau melihat perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk menghancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan syi’ar Islam di Indonesia, untuk mengadudomba antar sesama. 

Beliau sebagai orang yang tajam dan jauh pola pikirnya dalam hal ini, melihat bahaya yang akan dihadapkannya oleh umat Islam, dan oleh karena itu beliau berfikir mencari jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar yang dapat diterima oleh ulama’ulama lain.
Jam’iyah ini berpegang pada faham ahlu sunnah wal jama’ah, yang mengakomodir pada batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih condong pada manhaj dari pada sekedar qauli. 

Pada dasawarsa pertama NU berorentasi pada persoalan agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkankan pada persoalan pendidikan, pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa kedua orentasi diperluas pada persoalan-persolan nasional. Hal tersebut terkait dengan keberadaannya sebagai anggota federasi Partai dan Perhimpunan Muslim Indonesia (MIAI) NU bahkan pada perjalanan sejarahnya pernah tampil sebagai salah satu partai polotik peserta pemilu, yang kemudian menyatu dengan PPP, peran NU dalam politik praktis ini kemudian diangulir dengan keputusan Muktamar Situbono yanh menghendaki NU sebagai organisasi sosial keagamaan kembali pada khitohnya.

Pejuang Kemerdekaan

Peran KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan, melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda.
Pada tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang kejadian tersebut dan menganalogkan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:
  • Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan
  • Harta benda yang berlimpah-limpah
  • Gadis-gadis tercantik
Akan tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya”. Akhir KH.M. Hasyim Asy’ari mengakhiri nasehat kepada santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat Nabi SAW.

Masa-masa revolusi fisik di Tahun 1940, barang kali memang merupakan kurun waktu terberat bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih dikenal dengan hari pahlawan nasional.

Begitu pula masa penjajah Jepang, pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan di Surabaya. Beliau dianggap sebagai penghalang pergerakan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH. M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu dipangkunya namun tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1947.

Keluarga Dan Sisilah

Hampir bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng (1317 H/1899 M), KH. M. Hasyim Asya’ri menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri Kiai Ilyas pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini kiai hasyim dikaruniai 10 putra dan putri yaitu:
  1. Hannah
  2. Khoiriyah
  3. Aisyah
  4. Azzah
  5. Abdul Wahid
  6. Abdul hakim (Abdul Kholiq)
  7. Abdul Karim
  8. Ubaidillah
  9. Mashurroh
  10. Muhammad Yusuf.
Menjelang akhir Tahun 1930, KH. M. Hasyim Asya’ri menikah kembali denagn Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Kecamatan Pagu Kediri, dari pernikahan tersebut, beliua dikarunia 4 orang putra-putri yaitu:
  1. Abdul Qodir
  2. Fatimah
  3. Chotijah
  4. Muhammad Ya’kub
Garis keturunan KH. M. Hasyim Asy’ari (Nenek ke-sembilan )
Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid (Pangeran Sambo) bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdul Rahman (Mas Karebet/Jaga Tingkir) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya bin Abdullah (Lembu Peteng) yang bergelar Brawijaya VI

Wafatnya Sang Tokoh

Pada Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kiai menemui utusan tersebut dengan didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.

Namun kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran dan kondisi pejuang yang semakin tersudut, serta korban rakyat sipil yang kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah, Masya Allah…” kemudian beliau memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk. Sehingga para tamu pamit keluar. Akan tetapi, beliau tidak menjawab, sehingga Kiai Ghufron mendekat dan kemudian meminta kedua tamu tersebut untuk meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim Asy’ari. 

Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasiyim tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh, ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada di tempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu sedang berada di markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter didatangkan (Dokter Angka Nitisastro).

Tak lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim terkena pendarahan otak. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain pada kekasihnya itu. KH.M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Kepergian belaiu ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan bela sungkawa yang amat dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan khususnya para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini berbaring di pusara beliau di tenggah Pesantrn Tebuireng. Pada saat mengantar kepergianya, shahabat dan saudara beliau, KH. Wahab hazbulloh, sempat mengemukakan kata sambutan yang pada intinya menjelaskan prinsip hidup belaiu, yakni, “berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder istirahat”.

Karya Kitab Klasik

Peninggalan lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuan umat, membela dan memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari sikap dan perilakunya, pemikirannya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang rata-rata berbahasa Arab.

Tetapi sangat disayangkan, karena kurang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun diakungkan yang bisa diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:
  1. Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya
  2. Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar
  3. Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan
  4. Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.
  5. Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal. Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia
  6. Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya
  7. Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan
  8. Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan polemic beliau dengan syaikh Abdullah bin yasir Pasuruaan
Referensi:
http://pencariilmu-goresantinta.blogspot.com/2010/06/biografi-hadrotu-syekh-kh-m-hasyim.html
http://mimbaraji.blogspot.com/2010/01/biografi-kh-hasyim-al-asyari.html
http://midempelan.wordpress.com/2010/03/22/biografi-kiai-hasyim-asyari-ulama-pembaharu-pesantren/
Author : Rony Wijaya Materi 

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara
Rahmat El-Basqy
66 Tahun yang lalu, 4 Agustus adalah hari lahir KH Abdurrahman Wahid. Bagi kalangan anggota Nahdlatul Ulama khususnya dan aktifis kemanusiaan dunia, tanggal tersebut selalu diperingati sebagai hari besar bagi perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme. 

Meski ada 2 tanggal lahirnya hari lahir, sebagian besar memilih tanggal 4 Agustus sebagai hari lahir. Menurut Greg Barton (2003), Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 4 September. Meski demikian, sebagain besar orang tidak ingin berpolemik soal kapan Gus Dur dilahirkan. Mereka lebih senang mendapatkan cerita-cerita tentang Gus Dur dan cara mengisi kehidupannya.

Sebagai anak pesantren, lahir dan besar di pesantren sekaligus cucu pendiri NU, Gus Dur memiliki kelebihan yang berbeda dengan yang lain. Meski demikian, sebagaimana tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, setiap ulama yang telah wafat, orang-orang biasa biasa merayakan hari wafatnya dengan haul dibandingkan merayakan hari lahirnya.

Greg Barton (2003: 25) dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid menggambarkan, “Namun dia tidak selalu membaca hal-hal yang bersifat agama atau melakukan kegiatan budayayang berkaitan dengan agama. Ketika berdiam di Yogyakarta lah ia mulai menyukai film secara serius. Hampir sebagian besar dari satu tahun dihabiskan dengan menonton film”.

Gambaran tersebut membuat kita yang paham menjadi sangat lumrah kala Gus Dur memiliki referensi-referensi yang kaya tentang semua jenis keilmuan. Pengetahuannya yang luas karena buku dan pengalamannya yang banyak tergambar dari wacana-wacana pemikirannya yang dinamis dan kontemporer. Dia mampu mengekspor banyak pemikiran tentang Islam dan kenegaraan pada kancah dunia tanpa sedikitpun meninggalkan akar budaya lokal; Hidup di Pesantren dan aktif di Nahdlatul Ulama yang disebut kaum tradisional, mencintai negaranya melebihi apapun yang dimilikinya.

Pada prinsipnya, Gus Dur pada masa hidupnya telah selesai semua urusan lahir maupun bathin. Meski lahir dari keluarga besar dan tokoh nasional, Gus Dur memilih berjuang demi nilai-nilai kemanusiaan dan pluralitas yang diyakininya. Nilai-nilai keagamaan, kenegaraaan, Humanisme dan lain sebagainya. Beberapa orang memprotes pemikirannya tapi sebagian besar mengiyakan semua yang dilakukan Gus Dur, bahkan tak sedikit yang merapat dan berbaris dibelakang Gus Dur tanpa memandang latar belakang agama, profesi atau kebudayaannya.

Gus Dur dengan segala dialektikanya telah masuk ke dalam semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Apapun wacana pemikiran orang-orang baik dalam negeri bahkan luar negeri sudah menjadi pemikiran Gus Dur. Kumpulan tulisan beliau misal Tuhan Tidak Perlu di Bela, Islam Kosmopolitan,Pribumisasi Islam, Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), Pergulatan Agama, Negara dan Kebudayaan (2001) dan lain-lainnya adalah gambaran bagaiman beliau memiliki wacana yang sangat dinamis dan luar biasa. Dari sekian banyak tulisan beliau, tak pernah lepas dari tentang nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, kebudayaan, HAM dan isu-isu humanisme.

Hingga sekarang, Islam Nusantara menjadi gagasan menarik bahkan kontroversial bagi kritikus pemikiran keagamaan maupun pemerhati keagamaan di Indonesia. Istilah yang mulai ramai saat digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu ini sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari pemikiran-pemikiran Gus Dur. Jika kemudian beberapa orang mengganggap Islam Nusantara sebagai paham keagamaan baru sesungguhnya tidak benar dan justru menodai semangat lahirnya Islam Nusantara. Islam Nusantara lahir untuk melestarikan kebudayaan lokal yang dalam koridor nilai-nilai Islam.

Menteri Lukman Hakim Syaifudin dalam sambutan buku Zainul Milal (2016: 3) menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kebudayaan yang perjuangkan Gus Dur. Gus Dur sesungguhnya spirit Islam Nusantara karena beliau mampu menjelaskan secara detail dan logis mengapa Islam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-berbeda tapi bisa terjalin harmonisasi. Dari sekian banyak budaya yang terpengaruh ajaran-ajaran Islam, tak satupun yang bertentangan dengan Islam.

Syaiful Arif (2013: 96) menjelaskan pendapat Gus Dur terkait persebaran Islam di Nusantara. “Pertama Pola Aceh yang menghadirkan Islam secara kultural da dengan kultural Islam yang kuat, didirikanlah kerajaan berbasis syariat. Kedua pola Minangkabau, yang mana sebelum datangnya Islam sudah ada hukum adat, hingga akhirnya terjadi perang Padri. Ketika pola Goa (Baca Sulawesi Selatan), yang mana meskipun sebelum Islam telah ada hukum adat, Islam bisa seiring sejalan dengan adat. Dan pola keempat, pola jawa. Di masyarakat Jawa telah ada aliran Kejawen sebelum kehadiran Islam. Maka kerajaan Mataram Islam mengakomodasi Kejawen dengan memberikan ruan bebas secara kultural.”

Pendapat tersebut sebagai contoh dari sekian banyak pemikiran-pemikiran Gus Dur yang menjadi referensi utama Islam Nusantara dalam isu-isu lokalitas dan kemanusiaan. Pemikiran-pemikiran Gus Dur tersebut akan selalu dilestarikan penggerak Islam Nusantara tanpa melepaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan atau memisahkan keduanya. Artinya, Islam Nusantara adalah cara berpikir tanpa harus membedakan antara Islam dan kebangsaan Indonesia apalagi mempertentangkan keduanya.*

 www.gusdurfiles.com

Saat Kiai Azizi Tanya soal Wahabi, Jawaban Mbah Maimoen di Luar Dugaan

Peristiwa ini terjadi di sela-sela Seminar Nasional dan Bahsul Masail Islam Nusantara di Aula Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Malang, Jawa Timur, (13/02/2017) lalu.  Dikisahkan oleh KH Azizi Abdullah dari Kediri berdasarkan pengalamannya ketika sowan kepada KH Maimun Zubair dalam sebuah kesempatan.

Kiai Azizi saat itu menanyakan hukum orang Wahabi yang dalam pengetahuannya adalah kafir karena telah mensyirik-syirikkan orang NU karena amaliahnya. Sontak Kiai Maimun marah-marah dengan cara pandang Kiai Azizi.
“Hei, Mas, sampean jangan ngawur. Wahabi itu bukan kafir, Mas, tapi berdosa. Lha, orang berdosa itu: yaghfiru liman yasyaa’ wa yu’addzibu man yasyaa’. Kalau Allah mengampuni, ya masuk surga, kalau tidak diampuni ya neraka,” ucap mbah Maimun, begitu ia akrab dipanggil.

Mbah Maimun melanjutkan, “Kalau kafir kan pasti masuk neraka. Sampean ini jangan main hukum kafir begitu saja, wong sampean saja belum pasti masuk surga. Ngapain ngurusi orang lain,” tambahnya lagi.

Kiai Maimun lantas mengimbau kepada warga NU agar tidak terlalu ikut campur dengan perkataan orang lain. Baginya, yang penting adalah menjaga akidah diri sendiri.

Mendengar jawaban Kiai Maimun tersebut, Kiai Azizi mengaku insaf dari asal menghukumi orang. “Saya pun tobat,” kata Kiai Azizi.

Jawaban Mbah Maimun patut kita renungkan agar tidak mudah mengkafirkan orang lain hanya karena tidak sepaham. Ia mengingatkan akan pentingnya membangun kesadaran diri untuk tidak main-main dengan menghukumi orang lain dengan kata “kafir” dan tidak pentingnya sibuk ngurusi orang lain.

Kita memang tidak pantas merasa paling benar, karena kita belum tentu masuk surga. Masuk surga atau tidak, bergantung pada ridha dan pengampunan Allah

Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia

Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia
KH Hasyim Muzadi merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama dua periode (1999-2004 dan 2005-2009/2010). Nama lengkapnya Ahmad Hasyim Muzadi. Lahir di Desa Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944, dari pasangan Muzadi dan Rumyati. Ayahnya pebisnis lokal bekerja sebagai pedagang pengepul tembakau yang sukses. Sang ayah pernah nyantri di Pesantren Syekhona Cholil, Bangkalan. 

Pada tahun 1950, Hasyim Muzadi memasuki bangku Madrasah Ibtida’iyah, tetapi ketika menginjak kelas 3 ia pindah ke Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun 1956 ia tinggal bersama kakaknya, Muchit Muzadi, yang saat itu menjadi sekretaris NU daerah Tuban. Dia melanjutkan ke SMTP Negeri Tuban dan baru setahun duduk di situ, Hasyim remaja memilih nyantri di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pada tahun 1962, ia lulus dari Gontor, dan kemudian nyantri selama 2 tahun di beberapa pesantren: Pondok Pesantren aI-Anwar Lasem, Pondok Pesantren al-Fadholi Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Tanggir asuhan KH Sho’im. 

Aktivitasnya sebagai pengurus organisasi NU dimulai ketika ia pindah ke Malang bersama sang kakak. Pada saat yang sama, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1964. Oleh kakaknya, Hasyim Muzadi dikenalkan dengan organisasi NU, khususnya di Maiang dan Jawa Timur. 

Ia kemudian terlibat di organisasi kalangan Nahdiiyin, dan menjadi Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang, Malang (1965); Ketua Cabang PMII Malang (1966); Ketua KAMI Malang (1966); Ketua Cabang GP Ansor Malang (1967-1971); Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973) dan sekaiigus menjadi anggota DPRD Malang mewakili Fraksi NU; Ketua DPC PPP Malang (1973-1977); Ketua PCNU Malang (1973-1977); Ketua PW GP Ansor Jawa Timur (1983-1987); Ketua PP GP Ansor (1985-1987); Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988); Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992); Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999); dan pernah menjadi anggota DPRD Malang dan Jawa Timur (1986-1987). 

Kepemimpinan Kiai Hasyim di PWNU Jawa Timur pada periode kedua berbarengan dengan kondisi politik nasional yang mulai kisruh karena menjelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Sementara Jawa Timur menjadi basis utama warga NU. Saat itu, NU menghadapi banyak cobaan karena rezim Orde Baru menggunakan operasi Naga Hijau untuk menekan NU yang dipimpin KH Abdurrahman Wahid. Hasyim saat itu bekerja sama dengan Gus Dur untuk melawan tekanan-tekanan yang dilakukan rezim berkuasa. Kemunculannya dalam pentas nasional banyak diorbitkan Gus Dur, karena di berbagai tempat Gus Dur sering menyebut-nyebutnya dan mengajaknya berkeliling. 

Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, Hasyim Muzadi terpiilih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pada periode kepemimpinannya ini, NU membuat media online bernama NU online; menerbitkan Risalah Nahdlatul Ulama; menyelenggarakan konferensi ulama dan cendekiawan muslim tingkat dunia atau International Conference of Islamic Scholars (lCIS); dan membentuk beberapa PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) di luar negeri. Di ICIS Kiai Hasyim mengemban amanah sebagai sekretaris jendral yang memimpin perwakilan cendekiawan Muslim dari puluhan negara dalam menanggapi berbagai persoalan dunia Muslim di seluruh dunia. ICIS diprakarsai bersama oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Departemen Luar Negeri sejak tahun 2004.

Di akhir jabatannya, dia mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati, dan mengajak banyak orang di sekitarnya untuk menjadi tim sukses. Langkah ini memicu gelombang protes dari warga NU, karena ia dianggap berpolitik praktis, tetapi tidak mau mengundurkan diri dari jabatannya di PBNU. Gerakan protes warga NU ini kemudian berklimaks dalam Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004, menjelang Muktamar NU di Boyolali. Syuriyah PBNU kemudian mengeluarkan qarar (putusan) yang menonaktifkannya. 

Meski mendapat kritikan tajam, di Muktamar NU ke-31 yang diadakan di Boyolali Kiai Hasyim terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU periode 2004-2009, dengan mengucapkan sumpah kontrak jam‘iyah di hadapan Rais ‘Aam terpilih, KH MA Sahal Mahfudh. Pada periode ini, meski bertahan dari berbagai kritikan karena terlibat dalam beberapa kali dukungan Pilkada, yang berarti mengingkari kontrak jam‘iyah, dia bisa bertahan sampai Muktamar NU ke-32 tahun 2010 di Makassar. 

Pada Muktamar ke-32 di Makassar, dia mencalonkan diri sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, dan membuat tradisi persaingan yang belum pernah ada dalam sejarah jami‘yah. Jabatan ini jarang sekali ada yang mau, kecuali diminta dan diberikan kepada kiai yang berwibawa, zuhud, faqih, dan aliman terhadap persoalan umat. Akan tetapi upayanya gagal, karena muktamirin memilih KH MA Sahal Mahfudh.

Ketika lepas posisi sebagai ketua umum PBNU pada 2010, Kiai Hasyim masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU pada periode kepemimpinan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj (2010-2015). Saat inilah Kiai Hasyim lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada penyelesaian konflik di Timur Tengah. Melalui forum ICIS ia sering menggelar konferensi yang melibatkan para ulama terkemuka di Timur Tengah untuk mencari solusi perdamaian di Timur Tengah yang tak henti-henti berkecamuk.

Pada Maret 2014 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Kabupaten Situbondo untuk kesekian kali Kiai Hasyim menggelar pertemuan dengan peserta yang terdiri atas ulama terkemuka dunia, antara lain Syekh Ali Jumah (Mesir), Syekh Ahmad Badrudin Hassoun (Syria), Dr. M Yisif (Maroko), Syekh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), dan Syekh Mahdi bin Ahmad Assumaidi (Irak). Forum tersebut menggaungkan sembilan butir berisi seruan moderasi di berbagai bidang, pemikiran keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Gema wawasan Islam moderat ini merupakan oleh-oleh dari Indonesia untuk dibawa pulang para delegasi luar negeri ke kampung halaman masing-masing.

Ketika pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden untuk periode 2015-2019, Kiai Hasyim dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama sembilan orang lainnya. Sayangnya, belum tuntas tugas sebagai Watimpres, Kiai Hasyim mengembuskan napas terakhir di Malang, Jawa Timur, pukul 06.00 WIB, Kamis, 16 Maret 2017, pada usia 73 tahun. Pemerintah lalu menyerahkan anugerah tanda kehormatan jenis bintang untuk almarhum KH Hasyim Muzadi di Istana Negara pada Selasa, 15 Agustus 2017. 

Sumber: Ensiklopedia NU (2012), dengan penambahan seperlunya terkait data-data mutakhir

Mengenal Lebih Dekat Kiai Ali Mustafa Yaqub

Mengenal Lebih Dekat Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan sosok ulama ternama yang meninggal dua tahun lalu. Kiprah beliau untuk umat islam, khususnya di Indonesia sangatlah besar. Dalam bidang keilmuan pun tak dapat diragukan lagi, hadis adalah nafasnya, hingga beliau dikenal dengan kedalaman ilmu haditsnya.

Pada bagian sebelumnya telah diceritakan kelahiran, masa kecil, hingga remajanya. Kali ini kita ikuti proses pendidikan, karya, sampai proses kewafatannya.

Pendidikan Pesantren, dari Seblak ke Tebuireng
Hampir ketujuh anak Kiai Yaqub nyantri di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dari tujuh anaknya hanya dua yang tidak nyantri, Lin Maryni, anak kedua karena memang telah wafat pada umur tujuh tahun, dan Sri Mukti yang mengenyam pendidikan hanya sampai SD saja.

Pendidikan Kiai Ali Mustafa meliputi Pesantren Seblak, Tebuireng, IKAHA, S1 dan S2 di Saudi Arabia, S3 di Universitas Nizamia Hyderabad India.

Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak adalah tempat awal beliau nyantri, meski ketika SMP beliau pernah nyantri juga, ibaratkan ketika itu hanya santri kalong. 

Pesantren Seblak terletak di dusun Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Perlu diketahui pula bahwa pesantren ini adalah perkembangan dari Pesantren Tebuireng. Sebab beliau memilih Seblak karena kakanya, Ali Jufri, waktu itu masih nyantri sekaligus kuliah di IKAHA (Insitut Keislaman Hasyim Asy’ari), tepatnya pada tahun 1966. Pasca selesainya Ali Jufri kuliah di IKAHA, Ali Mustafa benar-benar harus hidup mandiri di pondok.

Selama di Seblak, Ali Mustafa muda banyak belajar dari Kiai Muhsin Jalaluddin Zuhdi, wakil pengasuh pesantren Seblak. Petuah kiai Muhsin yang sangat terpatri dalam diri Ali Mustafa muda adalah, “Jadilah kamu orang yang dibutuhkan oleh orang lain, janga jadi orang yang membutuhkan orang lain.” Dengan pesan ini beliau berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain dan tidak merepotkan orang lain.

Banyak hal yang diperoleh Ali Mustafa muda saat nyantri di Seblak, di antaranya adalah ilmu alat, fikih, hadis, dan ilmu lainnya. Kenangan ini banyak ia ceritakan pada santrinya.

Setelah selesai di Seblak, Ali Mustafa tak langsung pulang, namun melanjutkan nyantri ke pesantren Tebuireng, Jombang. Di sana beliau menempuh Madrasah Aliyah Syafiiyah Tebuireng selama tiga tahun, mulai dari tahun 1969 hingga 1972. Tidak hanya mondok, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Fakultas Syariah IKAHA Tebuireng mulai dari dari 1972-1975. Selain kuliah, beliau pun menekuni kitab-kitab kuning di bawah bimbingan kiai sepuh..

Selama di Tebuireng ini Ali Mustafa banyak bertemu dengan kiai-kiai hebat dan kharismatik, serta belajar pada mereka. Di antara ulama-ulama hebat ini adalah, Kiai Idris Kamali, Kiai Adhlan Ali, Kiai Shobari, Kiai Sansuri Badawi, dan Kiai Syuhada Syarif. Dan di antara mereka yang paling berpengaruh dalam proses belajarnya adalah Kiai Idris Kamali.

Ali Mustafa sering menyebut dirinya dengan 'Tukang Pijit Kiai Idris'. Tatkala beliau ingin berguru pada Kiai Idris, Kiai Idris bertanya kepada Ali Mustafa, “Siro mau apa? (Kamu mau apa?); Namamu siapa? Hafalkan sepuluh kitab, ya.”

Seketika Ali Mustafa terdiam membisu mendengar perintah ini, namun tetap ia jalankan. Sepuluh kitab itu adalah Matan al-Jurumiyah, Matan al-Kailany, Nadzom al-Maqsud, Nadzom al-Imrithy, al-Amtsilah Tasrifiyyah, Alfiyah, al-Baiquniyyah, dan al-Waraqat.

Setelah lulus, Ali Mustafa diminta untuk mengabdi mengajar Bahasa Arab untuk santri tingkat Sekolah Persiapan (SP) Tsanawiyah ketika itu. Beliau sangat andal dalam mengatur waktunya, tak ada kata nganggur, setiap waktu selalu digunakan dengan hal yang bermanfaat.

Meluncur Nyantri S1 dan S2 di Arab Saudi, dan Menyandang Gelar Doktor
Di usianya 24 tahun, Ali Mustafa mendapat panggilan untuk melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Muhammad bin Saudh, Saudi Arabia. Beliau memperoleh pendidikan ini setelah melalui jalur murosalah (korespondensi) atau pengajuan lamaran jarak jauh via pos. Ali Mustafa menyelesaikan S1 dengan ijazah Licence pada tahun 1980.

Selepas pendidikan S1, beliau tak langsung pulang ke tanah air. Jiwa haus akan ilmunya masih menggebu-gebu. Kiai Ali masih ingin melanjutkan studinya di Arab Saudi. Akhirnya beliau melanjutkan studinya di S2 Universitas King Saud, Departemen Studi Islam jurusan Tafsir Hadis, sampai lulus dengan mendapat ijazah Master pada tahun 1985.

Ketika pascasarjana inilah beliau bertemu dengan salah satu guru besarnya, Syaikh Mustafa Azami. Syaikh Mustafa Azami adalah ulama hadis kontemporer ternama di kancah internasional, lahir di India pada tahun 1932.

Tahun 1985, Kiai Ali Mustafa pulang ke Indonesia dan mengakhiri studinya, namun jiwa menuntut ilmunya belum surut juga, akhirnya berkat saran gurunya, Syaikh Hasan Hitou, beliau pun melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Nizamia, Hyderabad, India, pada tahun 2005. Studi ini tidak bersifat resindensial atau belajar di kampus, namun melalui komunikasi jarak jauh.

Studi ini rampung setelah beliau menulis disertasinya yang berjudul Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa al-Sunnah (Kriteria Halal-Haram untuk Pangan, Obat dan Kosmetika Menurut al-Quran dan Hadis).

Disertasi ini diujikan di Indonesia. Karena kesibukan Kiai Ali adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, maka disertasi pun diujikan di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Disertasi sidang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, ilmuan Suriah, sekaligus Guru Besar Fikih dan Ilmu Ushul Fikih dari Universitas Kuwait dan Direktur ilmu-ilmu keislaman Frankfurt Jerman. 

Sedangkan dewan penguji terdiri dari Prof Dr Taufiq Ramadhan al-Buuthi, Guru Besar dan Ketua Jurusan Fikih dan Ushul Fikih Universitas Damaskus Suriah; Prof Dr Mohammed Khaja Syarief M. Shihabuddin, Guru Besar dan Ketua Jurusan Hadis Universitas Nizamia, Hyderabad India; Prof. Dr. M. Saifullah Mohammed Afsafullah, Guru Besar dan Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Nizamia Hyderabad India.

Gelar doktor tak menyurutkan dahaga beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau memiliki semboyan hidup “Nahnu Thullabul’Ilmi Ila Yaumil Qiyamah” (Kami adalah penuntut ilmu hingga hari kiamat).

Khidmah dengan Berdakwah 
Kiai Ali Mustafa sangat telaten dalam berdakwah, mengkhidmahkan diri untuk umat. Bahkan ketika masih di Saudi Arabia, beliau pernah berkeinginan untuk berdakwah di tanah Papua jika sudah pulang nanti, meskipun impian ini tidak terealisasikan karena beberapa sebab.

Pemikiran kiai Ali Mustafa
Kiai Ali sangat diterima hampir di setiap kalangan. Kita dapat membaca dari pendidikan beliau sejak kecil, dengan corak ke-NUanya yang begitu kental. Meskipun beliau mengenyam sembilan tahun di Arab Saudi, beliau tidak pernah terpengaruh sama sekali dengan pemikiran Salafi-Wahabi.

Hal ini diungkapkan oleh Prof. KH. Ali Yafie, “Meskipun tercatat sebagai salah seorang alumnus Timur Tengah, yang sering diklaim jumud (keras), statis, dan cenderung agak keras dalam menyikapi berbagai fenomena keagamaan, tak menjadikan beliau (Ali Mustafa) bersikap keras.”

Ulama yang Produktif
Dilihat dari beberapa buku yang beliau tulis, dapat dihitung bahwa Kiai Ali Mustafa termasuk ulama yang produktif. Beliau memiliki motivasi untuk selalu berkarya. Santrinya sangat beliau anjurkan untuk menulis, maka tak salah wejangan beliau sangat akrab sekali di telinga para santrinya, yaitu “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun” (Janganlah kalian mati kecuali menjadi penulis).

Hingga akhir hayatnya Kiai Ali telah menulis 49 buku, namun ada juga buku terakhir yang terbit pascawafatnya beliau, hasil transkip dari ceramah-ceramahnya, jadilah jumlah buku itu berjumlah 50 buku.

Berikut judul-judul buku yang ditulis oeh Kiai Ali Mustafa:
Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986)
Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal Quran (1990)
Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991)
Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994)
Kritik Hadis (1995)
Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu, terbit di Saudi Arabia, 1418 H)
Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997)
Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999)
Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2000)
Islam Masa Kini (2001)
Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’i (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
Fatwa-fatwa Kontemporer (2002)
MM Azami Pembela Eksitensi Hadis (Karya Bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gius Dur), dkk, 2002)
Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003)
Hadis-hadis Bermasalah (2003)
Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadha (2003)
Nikah Beda Agama Dalam Perspektif Alquran dan Hadis (2005)
Imam Perempuan (2006)
Haji Pengabdi Setan (2006)
Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007)
Pantun Syariah ‘Ada Bawal Kok Pilih Tiram’ (2008)
Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab dan Indonesia, 2008)
Kriteria Halal dan Haram untuk Pangan, Obat, Kosmetika dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2009)
Mewaspadai Provokator Haji (2009)
Islam di Amerika (2009)
Islam Between War and Peace (Bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia, 2009)
Kidung Bilik Pesantren (2009)
Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa as-Sunnah (2010)
Kiblat, antara Bangunan dan Arah Kabah (Dalam Bahasa Arab dan Indonesia, 2010)

Masih ada 20 buku lagi yang tak dapat kami cantumkan di sini.

Kewafatan  
Kamis, 24 April 2016 menjadi hari yang mengundang kesedihan, perginya salah satu ulama Nusantara yang banyak bergulat di bidang hadis. Kewafatan beliau seperti tak ada tanda-tanda sebelumnya.

Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang pengurus masjid Agung Sunda Kelapa, bahwa pada malam Jumat, 28 April 2016 Kiai Ali Mustafa akan mengisi jadwal kajian rutin Arbain Nawawi di Masjid Sunda Kelapa.

Rabu sore, sehari sebelum kewafatannya pun beliau masih sempat menerima telepon untuk mengkonfirmasi apakah bisa mengisi kajian tersebut atau tidak. Beliau menjawab dengan suara lemah diselingi batuk, jika badan sehat maka bisa, namun kalau batuk belum juga reda, maka terpaksa diliburkan.

Jika melihat pada tahun sebelum tahun kewafatan Kiai Ali Mustafa, beliau pernah berbicara ketika di atas panggung saat berlangsungnya haflah takhorruj (wisuda) Darus-Sunnah ke-13, tepatnya tanggal 6 Juni 2015.

“Rasulullah wafat umur 63 Tahun, kami sudah umur 64 tahun,” ungkap Kiai Ali.

“Artinya apa?” lanjut beliau, 

“Rasulullah pada akhir hayatnya sering mengatakan begini: يَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ لَعَلِّي لا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِكُمْ هَذَا

“Saya pesan pada kalian, siapa tahu tahun depan saya nggak bertemu lagi dengan kalian.”

“Maka dengan anak-anak kami, selalu kami sampaikan:

 أُوْصِيْكُم يا أَبْنائِي الطَّلَبَةُ لَعَلِّي لا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِكُمْ هَذَا

“Saya pesan, wahai murid-muridku, siapa tahu tahun depan saya nggak bertemu lagi dengan kalian.”

Begitulah kiranya kata-kata yang mengarah pada firasat kewafatan beliau, tentunya kalimat terakhir inilah yang sangat membekas dalam benak santrinya. 

Beliau dimakamkan di belakang area masjid Muniroh Salamah, di dalam kawasan pesantren. Semoga Kiai Ali Mustafa Yaqub diterima seluruh amalnya dan diampuni segala dosa-dosanya. Amiin.*

Disarikan dari buku: Biografi Kyai Ali Mustafa Yaqub, Meniti Dakwah di Jalan Sunnah (Ulin Nuha Mahfudhon, Maktabah Darus-Sunnah, Cetakan pertama, April 2018).

Amien Nurhakim, Mahasantri di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Science, Ciputat; mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; pengisi kolom keislaman di Islami.co dan NU Online.

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman
Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan "Kiai Bambu Runcing". Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi?

Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo,  kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subchi.

Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati  Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Dipanegara, dalam periode Perang Jawa (1825-1830). Ketika laskar Dipanegara kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.

Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.

Pasukan Belanda henti-hentinya mengejar pengikut Dipanegara di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarata, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Dipanegara. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya untuk mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.

Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Parakan: Simpul Perjuangan Laskar Santri

Parakan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Temanggung. Kota ini, memiliki arti penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad 20, Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI). Kaum santri yang tinggal di Parakan, menjadi tulang punggung kaderisasi SI. Bahkan, di Parakan juga pernah diselenggarakan Kongres Sarekat Islam, yang dihadiri oleh HOS Tjokroaminoto. Pada 1913, anggota Sarekat Islam di Parakan, berjumlah 3.769 orang. Cabang SI Temanggung dibuka pada 1915, dengan jumlah anggota 4.507 (Thamrin, 2008).

Di Parakan, Temanggung, masa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan bagi rakyat. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Ketika Jepang menduduki Jawa, warga Temanggung juga menanggung beban yang sulit. Kewajiban Romusha menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat Parakan di Temanggung. 

Pemberlakukan romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan. Bahkan, kain karung goni sebagai penutup tubuh, menjadi pemandangan biasa pada masa itu (Darban, 1988). Warga Parakan, Temanggung juga banyak yang direkrut sebagai romusha. Mereka dikirim ke Banten, serta ke wilayah Malaysia dan Myanmar.

Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Pada saat itu, dibentuklah Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Barisan ini dipelopori oleh kiai-santri, yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan penjajah. BMT didirikan pada 30 Oktober 1945 di masjid Kauman Parakan.

Sebelum adanya BMT, warga Parakan Temanggung bergerak dalam jaringan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo (Gunardo, 1986).

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi, mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Beberapa tokoh berkunjung ke Parakan, untuk bertemu Kiai Subchi dan pemuda BMT: Jendral Soedirman (1916-1950), Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Zaenal Arifin (Hizbullah), Kiai Masykur (Sabilillah), Kasman Singadimedja (Jaksa Agung), Mohammad Roem, Mr. Wangsanegara, Mr. Sujudi, Roeslan Abdul Gani dan beberapa tokoh lainnya.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Bahkan, Jendral Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan dari Kiai Subchi. Jendral Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi.  

Kiai Bambu Runcing, Kiai Penggerak

Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subchi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayahanda Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.

Kiai Subchi dikenal sebagai kiai 'alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Kiai ini, dikenal sebagai "Kiai Bambu Runcing", karena pada masa revolusi meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma' dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.

Dalam catatan Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986), Kiai Subchi menjadi rujukan askar-askar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. "Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur", Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, "Barisan Banteng" di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini, baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju Parakan".

Kiai Subchi dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhu'. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma', Kiai Subchi justru menangis tersedu. "KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar", catat Kiai Saifuddin Zuhri dalam memoarnya "Berangkat dari Pesantren".

Kiai Subchi merupakan teladan dalam kedermawanan, pengetahuan dan perjuangan. Sosok Kiai Subchi menjadi panutan bangsa ini untuk mengawal negeri, mengawal NKRI. Selayaknya, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Bangsa.

www.nu.or.id | Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, pengurus LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)

Referensi:
Ahmad Adaby Darban, Sejarah Bambu Runcing, Laporan Penelitian: Fakultas Sastra UGM, 1988.
Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, Surabaya: JP Books, 2008.
Ahmad Baso, Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka Afid, 2015.
Amran Habibi, Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009
Husni Thamrin,dkk, Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung1945-1950, Temanggung: Dewan Harian Cabang, 2008.
Muhaiminan Gunardo, Bambu Runcing Parakan, Yogyakarta: Kota Kembang,1986.
Nur Laela, Perjuangan Rakyat Parakan-Temanggung dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1946), Skripsi UIN Yogyakarta, 2014.