Amien Rais, Ganti Presiden dan Guyonan Gus Dur

Amien Rais, Ganti Presiden dan Guyonan Gus Dur
“Jadi Anda itu sekarang perlu berdoa tiap sore ya tiga menit saja ‘Ya Allah semoga engkau memberikan bangsa yang tercinta ini sebuah presiden baru yang cinta kepada agamamu, yang tidak akan mengkriminalisasi ulama, tidak akan menjual kekayaan bangsa ke asing dan Aseng. Kalau belasan juta tiap hari itu berdoa, Allah malu tidak mengabulkan,” tutur Amien Rais di CNN dan menjadikannya ramai, walaupun akhirnya ia ralat dengan sebuah penjelasan konteks dan dalil.

Meskipun begitu, pernyataan itu bagi saya tetap saja mengundang tawa. Saya sejatinya juga tidak terlalu peduli, apakah ia mau curi start berkampanye atau apalah. Bagi saya, ada yang lebih menggelikan dari itu, yakni membawa-bawa nama Tuhan untuk urusan presiden. Sudah sepuh harusnya kian bijak, bukan makin menjadi, harusnya banyak doa eh makin “sakti”.

Setelah ramai soal partai Setan dan Allah yang juga ramai tempo hari, pernyataan Tuhan malu itu sungguh tidak masuk akal bagi saya. Bagaimana mungkin yang maha segala dan paling berhak mengatakan “suka-suka gue” dibuat merasa malu hanya karena urusan duniawi? Ah ada-ada aja.

Ini cuma urusan ganti presiden. Sekali lagi, urusan ganti presiden! Artinya Tuhan dibawa dalam arus urusan politik kekuasaan. Apalagi yang alasan ganti presiden yakni, pertama, mau presiden baru yang cinta kepada agama, berarti kesan bahwa presiden sekarang tidak cinta pada agama. Cinta itu urusan hati, dalamnya lautan bisa diukur tapi dalam cinta tiada yang tahu.

Kedua, mengkriminalisasi ulama. Kalau menurut saya jangan-jangan kitalah yang mengulamanisasi kriminal. Menganggap orang-orang menjadi ulama hanya karena sering berbicara soal agama. Padahal baru juga hijrah (pindah) gaya pakaian, baru juga baca satu dua kitab, gurunya cuma itu saja. Sudah mondok belum?

Ketiga, menjual kekayaan bangsa ke asing dan Aseng, saya malas menjelaskan tapi coba lihat bagaimana Freeport bersusah payah memperpanjang kontrak, lihat berapa kapal ikan tenggelam dan pertumbuhan ekonomi kita. Untuk yang terakhir, kita bisa menyimak penjelasan menteri ekonomi stabil. Untuk hal terakhir, kita bisa berdiskusi lebih jernih.

"Kebohongan yang diulang, tetap bukan kebenaran"

Seorang kawan pernah berujar lewat akun Instagram @aji_komik, beliau berkata “Kumpulkan sepuluh orang kawanmu yang mengaku takut sama hantu. Lantas tanyakan pada mereka, ada berapa orang yang benar-benar pernah melihat hantu. Pasti tidak semuanya. Bahkan bisa saja tidak satupun”

Di situlah teori penciptaan teror dimainkan. Di ranah politik, kita kadang diajak takut akan sesuatu yang bahkan tidak ada. Seorang politikus kadang mencari-cari kesalahan lawannya atau bahkan menyebarkan prasangka yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya, yang lebih buruknya adalah jika sudah membawa politik identitas berupa agama dan Tuhan.

Padahal membuat prasangka apalagi terang-terangan menciptakan kebohongan publik, sungguh itu kenistaan.

Saya cuma mau mengingatkan kepada kita semua tentang sabda Rasulullah tentang kebohongan, yakni “Barangsiapa mengatakan tentang seorang Mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allâh akan menempatkannya di lumpur neraka sehingga dia mempertanggung jawabkan perkataannya (HR. Ahmad).

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al an’am ayat 21.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim/aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allâh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan (al An’am: 21).

Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa tidak ada seseorang yang lebih zalim kepada dirinya sendiri dan kepada kebenaran daripada seseorang yang membuat kebohongan atas Allah swt., menganggap bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu dan mengingkari dalil-dalil yang membuktikan keesaan-Nya dan kebenaran para rasul-Nya. Lalu mereka juga zalim karena menyandarkan sesuatu yang tidak pantas kepada-Nya. Sungguh, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Pertanyaannya pantaskah perebutan kekuasaan, partai dan isu 2019 lainnya disandarkan padaNya? Bahwa nafsu berkuasa yang membabi-buta kita miliki adalah atas ridhoNya? Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan bangsa Indonesia dari fitnah keji perusak persatuan.

Guyonan Gus Dur

Soal perebutan kekuasaan yang melibatkan politikus senior tersebut, saya paling suka kisah saat KH. Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur menjadi presiden. Meski saat awal perhitungan suara perolehan suara Gus Dur kalah, namun perlahan keadaan menjadi berbalik. Gus Dur mengumpulkan 60 suara lebih banyak. Gus Dur jadi Presiden! Dan lantunan sholawat badar pun bergema, Gus Dur dibantu berdiri dan dibimbing podium untuk disumpah menjadi presiden.

Lalu pasca turun jadi presiden, Gus Dur sempat berbagi pengalamannya menjadi presiden.

“Saya heran orang mau jadi Presiden saja harus keluar modal milyaran. Saya dulu jadi Presiden malah cuma modal dengkul. Itupun dengkulnya Amien Rais,” kelakar Gus Dur.

Bahkan Gus Dur konon turut meramalkan masa depan politikus senior tersebut yang baru-baru menyatakan siap maju jadi calon presiden. Begini kata Gus Dur “Amien gak bakalan bisa jadi Presiden karena untuk bisa jadi Presiden dibutuhkan kwalitas dan nilai yang A-plus bukan A-min hehe…..”

Lalu kita pun tertawa bersama. 
Wallahu’alam bishawab.

islam.co | Saiful Haq

Dialog Gus Dur vs Dahlan Iskan

Dialog Gus Dur vs Dahlan Iskan
Konon ketika Dahlan Iskan (Jawa Pos) sakit gigi kebetulan duduk dekat Gus Dur, datang mendekat minta 'disuwuk' (didoain agar sembuh). 

Dahlan:"Gus, tolong disuwuk gigi saya sakit." 

Gus Dur:"Oh ya, tapi ada syaratnya." 

Dahlan:"Apa Gus syaratnya" 

Gus Dur:"Ada 3 pertanyaan, tapi hanya ada 1 jawaban. Kalo kamu bisa njawab, baru saya akan suwuk." 

Dahlan: "Apa Gus pertanyaannya?." Sambil menahan rasa sakit. Dahlan Iskan masih penasaran. 

Gus Dur: "Pertama, mengapa orang bisa sakit gigi?" 
"Kedua, mengapa rumput bisa lebih tinggi dari tanaman padi?." 
"Ketiga, mengapa wanita kok bisa hamil?." 

Dahlan: "Wah...jawabnya sulit, Gus...!" 

Gus Dur: "Ketiga tiganya, hanya sepele jawabnya, yaitu, karena terlambat nyabutnya." 

Mendengar jawaban itu, Dahlan tertawa ngakak. Ia bilang rasa sakit giginya langsung hilang ...

Gus Dur : Mulianya Sopir Metromini

Gus Dur : Mulianya Sopir Metromini
Ini adalah cerita Gus Dur dan seorang sopir Metromini saat ditanya malaikat di pintu akhirat.

Malaikat: “Apa kerjamu selama di dunia?”
Sopir: “Saya sopir Metromini, Pak.”

Ternyata, spontan malaikat memberikan kamar mewah untuk sopir Metromini itu dan peralatan yang terbuat dari emas.

Selanjutnya giliran Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia.

Malaikat: “Apa kerja kamu di dunia?”
Gus Dur: “Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak”

Namun malaikat itu justru memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu.

Gus Dur pun protes, "Hloh Pak, kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metromini?”

Malaikat itu menjawab dengan tenangnya:

“Begini Pak, pada saat bapak ceramah, bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Beda dengan sopir Metromini. Dia mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang itu berdoa...”

Saat Kiai Azizi Tanya soal Wahabi, Jawaban Mbah Maimoen di Luar Dugaan

Peristiwa ini terjadi di sela-sela Seminar Nasional dan Bahsul Masail Islam Nusantara di Aula Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Malang, Jawa Timur, (13/02/2017) lalu.  Dikisahkan oleh KH Azizi Abdullah dari Kediri berdasarkan pengalamannya ketika sowan kepada KH Maimun Zubair dalam sebuah kesempatan.

Kiai Azizi saat itu menanyakan hukum orang Wahabi yang dalam pengetahuannya adalah kafir karena telah mensyirik-syirikkan orang NU karena amaliahnya. Sontak Kiai Maimun marah-marah dengan cara pandang Kiai Azizi.
“Hei, Mas, sampean jangan ngawur. Wahabi itu bukan kafir, Mas, tapi berdosa. Lha, orang berdosa itu: yaghfiru liman yasyaa’ wa yu’addzibu man yasyaa’. Kalau Allah mengampuni, ya masuk surga, kalau tidak diampuni ya neraka,” ucap mbah Maimun, begitu ia akrab dipanggil.

Mbah Maimun melanjutkan, “Kalau kafir kan pasti masuk neraka. Sampean ini jangan main hukum kafir begitu saja, wong sampean saja belum pasti masuk surga. Ngapain ngurusi orang lain,” tambahnya lagi.

Kiai Maimun lantas mengimbau kepada warga NU agar tidak terlalu ikut campur dengan perkataan orang lain. Baginya, yang penting adalah menjaga akidah diri sendiri.

Mendengar jawaban Kiai Maimun tersebut, Kiai Azizi mengaku insaf dari asal menghukumi orang. “Saya pun tobat,” kata Kiai Azizi.

Jawaban Mbah Maimun patut kita renungkan agar tidak mudah mengkafirkan orang lain hanya karena tidak sepaham. Ia mengingatkan akan pentingnya membangun kesadaran diri untuk tidak main-main dengan menghukumi orang lain dengan kata “kafir” dan tidak pentingnya sibuk ngurusi orang lain.

Kita memang tidak pantas merasa paling benar, karena kita belum tentu masuk surga. Masuk surga atau tidak, bergantung pada ridha dan pengampunan Allah

Beda NU dan Muhammadiyah

Beda NU dan Muhammadiyah
Di emperan masjid selepas sembahyang Maghrib, Julkipli menghampiri teman ngopinya, Durakim. Belum sempurna Durakim menyandarkan punggung ke tembok, pertanyaan berat disodorkan kepada dirinya.

"Dur, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila, bukan negara Islam?"

"Menurut siapa dulu: NU atau Muhammadiyah?"

"NU, deh."

"Hukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan."

"Kalau menurut Muhammadiyah?"

"Sama."

Julkipli melempar pertanyaan berikutnya, "Kalau melawan Pancasila, boleh tidak? Kan bukan Al-Qur'an?"

"Menurut NU atau Muhammadiyah?"

"Muhammadiyah, coba."

"Tidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji," jawab Durakim.

"Kalau menurut NU?"

"Sama."

Sampai di sini, Julkipli mulai jengkel. Ia merasa dikerjain Durakim. Jawaban menurut NU dan Muhammadiuah kok selalu 'sama'. Asem betul kawan satu ini.

"Kamu gimana sih, Dur. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kamu suruh aku milih 'menurut NU atau Muhammadiyah'?"

"Ya... kita harus dudukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, Jul. Nggak boleh serampangan."

"Serampangan bagaimana?" sahut Julkipli.

"Kalau Muhammadiyah itu kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah." Durakim membetulkan kopiahnya

"Lha, kalau NU?"

"Sama."

(Mahbib)

Tafsir Sesat ala Sugi Nur Raharja Tentang Jokowi dan Surat Al-Qur'an ke 83

Tafsir Sesat ala Sugi Nur Raharja Tentang Jokowi dan Surat Al-Qur'an ke 83
Dalam video tersebut, Dus Nur alias Sugi Nur Raharja mengajak berhitung (kayak anak TK aja yah) jumlah huruf J-O-K-O-W-I. Dengan metodologi yang tidak disebutkan, jumlah nama itu kena hitungan angka 83. Lalu, Dus Nur (lagi-lagi tanpa metode), mengaitkan angka itu dengan nama surat Al-Muthoffifin (surat ke 83 Al-Qur'an) yang jumlah ayatnya ada 36 itu.

Karena makna surat tersebut adalah "curang", maka, Dus Nur kemudian menyimpukan bahwa pemakai nama Jokowi disebutnya curang. Tafsir curang ala manalagi Dus Nur bisa mendapatkannya. Anda hanya boleh Wallahu a'lam. Hanya orang-orang yang curang saja yang bisa menjelaskannya, bukan.

Sugi curang. Pasalnya, nama lengkap Presiden Jokowi adalah Joko Widodo. Bukan Jokowi saja. Itu hanya nama popular. Istilahnya nama beken. Sebagaimana Sugik, yang mempopulerkan dirinya dengan nama Dus Nur, walau kemudian dicopot olehnya sendiri, (mungkin karena capek mencari pengakuan tapi tak kunjung dapat pengakuan yang ia maksud).

Kalau mau jujur, Dus Nur harusnya menghitung ala tafsir sesatnya secara lengkap atas nama Joko Widodo. Bukan Jokowi saja. Jika dihitung Joko Widodo, Dus Nur tak bisa berhitung pakai Al-Qur'an mengingat jumlah suratnya hanya 114 nama.

Jika lengkap dihitung, nama Joko Widodo sampai ke jumlah angka 165. Mana mungkin Dus Nur bisa menggunakan angka itu untuk ambil makna surat Al-Qur'an. Lha wong, sekali lagi, jumlah surat Al-Qur'an hanya 114, kok. Ini namanya curang. Ini namanya licik. Ini namanya mencari pembenaran untuk ujaran kebencian.

Lihatlah hitungan ala Sugi Nur Raharja atas nama Joko Widodo:

J: 10
O: 15
K: 11
O: 15

W: 23
I:  9

D:  4
O: 15
D:  4
O: 15

Bila dihitung sampai Jokowi saja, ketemunya ya memang 83. Jika ia berani lanjut, Dus Nur akan menemukan angka tanpa mencurangi nama berjumlah 121. Dia tidak akan bisa mendapatkan tafsir sesat karena, sekali lagi, jumlah surat dalam Al-Qur'an hanya sampai 114 surat saja.

Begitu pula ketika kita jujur menghitung nama lengkap Dus Nur, Sugi Nur Raharja. Ketemunya adalah angka 165, melampaui jumlah surat dalam Al-Qur'an. Ini hasil hitungan tim redaksi Dutaislam.com:

S: 18
U: 21
G: 7
I: 9

N: 14
U: 21
R: 18

R: 18
A: 1
H: 8
A: 1
R: 18
J: 10
A: 1

Sekali lagi, jika dihitung tanpa curang, nama Joko Widodo berjumlah 121 (bukan 212). Dan Sugi Nur Raharja jumlahnya 165. Tapi, jika kita sama-sama menghitung nama populer keduanya, maka nama Sugi akan ketemu di angka 99. Ini hitungannya, dimana redaksi masih menghormatinya sebagai "Gus".

G: 7
U: 21
S: 18

N: 14
U: 21
R: 18

Jumlahnya jadi 99 kan? Silakan cek, surat Al-Qur'an urutan ke 99 di sini: Jumlah Surat dan Ayat dalam Al-Qur'an yang Sebenarnya. Anda akan menemukan nama Surat bernama Az-Zalzalah, yang artinya goncangan. Bagaimana asbabul nuzul Surat Az-Zalzalah itu? Mari simak.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair begini:

Ketika turun ayat 8 Qur'an Surat Al-Insan (artinya: dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan), kaum muslimin waktu itu menganggap bahwa orang yang bersedekah sedikit tidak akan memperoleh pahala; orang yang berbuat dosa kecil, seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan, dan sebagainya tidak bercela; serta menganggap bahwa ancaman neraka dari Allah hanya disediakan bagi orang-orang yang berbuat dosa besar.

Karena perilaku yang menganggap berbohong, mengumpat serta lainnya bukan bagian dari yang tercela, maka turunlah ayat-ayat dalam Surat Az-Zalzalah 7-8 sebagai bantahan terhadap anggapan mereka itu.

Siapa yang selama ini mengumpat dengan "diancuk, dobol jaran, apa kabar cebong-cebong, apa kabar dobol-dobol?" Apakah orang bernama Jokowi atau Gus Nur? Anda pilih sendiri jawabannya. Senyumin yuk.

dutaislam.com |

Keluar NU, Tapi Mengaku Tetap Di Jalan Aswaja

Keluar NU, Tapi Mengaku Tetap Di Jalan Aswaja
Mulai dari artikel ini, mari kita sepakati untuk tidak memanggilnya Gus Nur, mari kita mulai memanggilnya dengan nama baru yang lebih mencitrakan dirinya yang sebenarnya, Gus Su', dengan mengambil konsonan nama lengkapnya yang paling depan, Sugi Nur Raharja.

Kemunculannya dapat dikatakan sebagai tanda dari salah satu fenomena tantangan zaman yang baru, dalam lain kata, tantangan-tantangan zaman baru itu, adalah kemunafikan, kepura-puraan, kesamaran dan berbagai sifat-sifat tercela lainnya.

Kalau menurut cerita Jawa yang saya yakini kebenarannya, bahwa ada pemangku bagi Jawa dalam setiap zaman yang dilaluinya. Dia satu, tapi pada zaman yang berubah-ubah, namanya juga berubah, tapi orangnya tetap sama. Dia adalah Eyang Semar atau Ismoyo atau Bodronoyo. Yang mana setiap nama yang ia pakai, adalah sebuah isyarat tentang solusi-solusi pada suatu zaman.

Kalau melihat fenomena semacam kesombongan Gus Su', keangkuhan Felix, maka sepertinya kemunculan pemangku zaman kali ini adalah dengan memakai nama Semar. Yakni sebuah isyarat, bahwa zaman sudah tiba di masa semuanya serba samar, remang-remang.

Kedua artis youtube tersebut, dikenal dan dipuja-puja segelintir orang berangkat dari aktifitasnya di media sosial. Kejernihan hatinya, kemurnian pemikirannya, ketajaman kata-katanya, semuanya hanya berawal dari ekspresinya melalui media sosial. Sehingga banyak sekali pengikut-pengikutnya, yang menilai dia orang baik, dia muslim kaffah.

Dan dengan begitu, jelas menyebabkan hatinya merasa punya pengaruh, sehingga ketika berhadapan dengan orang-orang yang juga benar-benar punya pengaruh, dia akan bertahan dengan pendapatnya sesalah apapun. Dan di situlah, letak pertikaian dimulai.

Sedangkan kita sejak kecil sudah diajari, kalau melihat segala sesuatu jangan hanya nampak luarnya saja. Kalau memandang nampak luarnya saja, yaa persis seperi Gus Su', yang merasa penontonnya banyak di youtube, karena dia tidak bisa mengaji, berdalil, baca kitab kuning. Maka untuk mempertahankan pengikutnya, dia bilang "tidak penting tidak bisa membaca kitab kuning bagi seorang ustadz".

Saya hanya melihat apa yang dia lakukan, hanyalah upaya-upaya yang tidak murni tentang agama di dalam hatinya. Hal itu terlihat lebih sangat jelas, ketika beberapa waktu yang lalu, dia berujar "pamit dan keluar NU". Dalam hati saya kebingungan, dan hanya menyisakan HA HA HA.

Apa maksudnya keluar dari NU? Apa maksudnya menantang NU gitu? Apa dikira NU itu wilayah fisik? Ini loo yang saya maksud tadi dengan kesamaran. Apalagi dia mengungkapkan itu, pasca ia diundang Ansor bertabayun beberapa waktu yang lalu.

Penggiringan opini bahwa NU itu bukan organisasi baik, atau organisasi yang tidak menginginkan Islam menjadi negara, dan menghalang-halangi khilafaers berjuang. Nyatanya memang untuk itu, tak berselang lama, setelah videonya menyatakan keluar dari NU, robot-robot MCA langsung berucap syukur, dengan bumbu-bumbu khas seperti biasanya.

Kebodohan membaca kenyataan, jelas menjadikannya sangat tidak dianggap ada, oleh petinggi-petinggi khilafaers. Apalagi dia juga tidak akan diterima dengan mudah di lingkungan NU, maka pantas saja jika mengambil jalan untuk tetap menjadi artisnya youtube.

Saya pun berharap, di kemudian hari kita tidak lagi heboh terkaget-kaget dengan kelakuan si Gus Su' tersebut. Mending menyimak apa yang dilakukan dan dikatakan Felix, saya rasa Felix lebih berbobot, tidak emosional, dan masih terlihat akalnya dipakai, meskipun agak terlalu tidak dipakai juga.

Penilaian saya pribadi tentang dua orang itu, sama-sama tidak saya sepakati apa-apa yang menjadi agenda-agenda politik dalam bungkus keagamaannya. Tapi akan mengalami perbedaan ketika sesaat menonton video kedua orang itu, video tema apapun.

Tentang Felix, ketidaksepakatan saya padanya menghasilkan saya mengelus dada, dan kemudian membuat saya berfikir kembali lalu mencari referensi pembanding. Tapi jika selepas saya menonton videonya Gus Su', yang ada hanya perasaan ingin berantem saja langsung. Yang jancok lah, yang matamu picek lah. Semua itu kok rasa-rasanya ndak pantes blas.

Alhasil, sudah sangat baiklah dia mengaku keluar NU, toh sejak kapan istilah masuk NU itu ada. Kalau masuk Islam ada tanda-tanda dan syaratnya, masuk sebagai warga Negara Indonesia juga ada syarat-syaratnya. Dia memang konyol, sekonyol dia mengiyakan untuk dipanggil Gus.

Tau kan Gus itu panggilan untuk siapa??

Rahayu!

dutaislam.com |