Kekecualian Tentang Nahdlatul Ulama

Kekecualian Nahdlatul Ulama
BAGI yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama, dinamika yang terjadi selama Muktamar ke-33 di Jombang, yang dipicu oleh kontroversi sistem pemilihan rais am melalui ahlul halli wal aqdi (AHWA), bukanlah suatu drama yang mengejutkan.

Alasannya sederhana: NU adalah “drama” itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Itu sebabnya, selalu ada element of surprise, baik kejutan kecil maupun besar, yang mewarnai perjalanan panjang NU.

NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku, atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.

Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “kekecualian” atau exceptionalism. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal. Relasi NU dengan negara, misalnya, tidak pernah ajek. Pada masa Orde Lama, NU begitu mesra dengan Sukarno dan menganugerahinya gelar “waliyul amri dhoruri bissyaukah”.

Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Ia tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah. Nakamura (1981), dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-an melawan arus dari kecenderungan umum relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru. Saat Soeharto mendekati kelompok Islam (modernis), NU di bawah Gus Dur emoh menyambutnya.

Dan NU selalu punya alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzagnya. Pengamat yang tidak paham NU gampang mengobral tuduhan bahwa NU memiliki karakter oportunistik dan terjangkit short-termism, sebuah perilaku yang memuliakan tujuan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Tapi bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan itu.

Apa yang disebut pihak lain sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU sebenarnya punya akar dari tradisi Sunni yang disebut political quietism (pasif) yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Tertib sosial menempati posisi penting dalam pengambilan keputusan di NU.

Karakter politik NU yang liat dan elastis ini berbeda 180 derajat dengan watak politik Islam modernis yang menekankan pada kepastian, konsistensi, dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah Islam modernis di Indonesia selalu mudah ditebak, tidak sedinamis Islam tradisionalis. Gaya politik Masyumi, misalnya, terlalu mudah dibaca.

Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. NU bebas berinteraksi dengan negara tanpa harus membuat komitmen permanen yang justru membelenggu dirinya. Inilah mekanisme pertahanan (defense mechanism) ala NU yang membuat ormas ini bertahan hidup dan berkembang menjadi jemaah Islam dengan pengikut terbesar se-Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Bahkan, dalam metode penentuan awal dan akhir Ramadan, NU berpatokan pada metode yang “tak pasti”. Berbeda dengan Muhammadiyah yang mengunggulkan kepastian melalui metode hisab, NU setia pada rukyat. Melalui hisab, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mematok kapan puasa dimulai dan kapan Idul Fitri. NU sebaliknya merayakan ketidakpastian melalui rukyat. Bagi NU, peristiwa agama selalu punya dimensi. Klimaks-antiklimaks dan momentum menjadi penting dalam dramaturgi politik keagamaan NU.

Dalam dramaturgi NU, hasil akhir menjadi susah ditebak. Siapa yang menebak KH Mustofa Bisri yang terpilih sebagai rais am tiba-tiba menyatakan tak bersedia, kemudian digantikan KH Ma’ruf Amien. Menganalisis NU secara temporal bisa terperangkap dalam jebakan target yang selalu bergerak. Siapa yang membayangkan NU yang pada sidang-sidang Konstituante 1950-an menjadi pihak paling keras menyuarakan formalisasi syariah Islam dan menuntut pelembagaan ulama dalam negara justru sekarang menjadi penjaga gawang Islam tanpa campur tangan negara.

Siapa pun pihak yang berupaya mengubah konstitusi Indonesia dengan memaksakan Piagam Jakarta, misalnya, harus melangkahi mayat NU lebih dulu. Metamorfosis NU membuat kebinekaan kita seperti mendapat jaminan. Inilah amal jariah terbesar NU bagi bangsa yang majemuk.

Kekecualian NU yang sulit ditandingi ormas lain adalah secara statistik responden yang mengaku sebagai warga NU mencapai 45 persen dari seluruh populasi muslim di Indonesia. Hasil ini diperoleh berdasarkan data cross-sectional yang dihimpun dari survei-survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia sejak 2003 hingga 2015.

Jumlahnya membengkak jika ditanyakan kedekatan secara kultural. Ada 60 persen responden yang mengaku dekat secara kultural keagamaan dengan NU. Proporsi besar warga nahdliyin ini akan selalu membuat NU punya data tarik elektoral di mata politikus.

Survei juga menemukan bahwa warga yang mengaku secara kultural dan emosional dekat dengan tradisi NU tidak pernah berkurang. Berbeda dengan warga ormas lain yang banyak melepaskan identitas partikularnya sebagai bagian dari ormas tertentu seiring dengan maraknya new Islamic movement, seperti gerakan Tarbiyah atau Hizbut Tahrir sejak dekade 1980, jemaah NU tampak memiliki basis pertahanan kultural yang tangguh. Ritual NU, seperti tahlilan, barzanji, dan manaqiban, berhasil membentengi umat dari pengaruh gerakan Islam transnasional dan menjaga identitas kenahdliyinan mereka.

Mujani (2003) menemukan bahwa ritual nahdliyin inilah yang menjadi modal sosial demokrasi di Indonesia karena ibadah jenis ini memiliki dimensi kolektivisme-sosial yang menjadi intisari demokrasi yang partisipatif. Sekali lagi inilah kekecualian NU. Warga NU yang aktif dalam ritual nahdliyin cenderung mendukung demokrasi dan terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di PKK, karang taruna, dan sejenisnya.

Meski bukan organisasi pluralis karena anggotanya terbatas bagi yang beragama muslim saja, NU tidak diciptakan untuk memusuhi agama lain. Tingkat toleransi warga NU yang relatif tinggi ini bisa bermata dua. Di satu sisi, warga NU menjadi eksemplar Islam yang ramah, tapi toleransi ini juga membuat mereka cenderung nrimo ing pandum atas ketidakmampuan pemerintah atau pengurus NU dalam meningkatkan kesejahteraan jemaah.

Tugas utama NU sekarang adalah tidak sekadar mengandalkan keunggulan massa, tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya jemaahnya. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, NU jangan sekadar bertumpu pada “jamaah” (isi), tapi juga bisa menjadi “jam’iyyah” (sistem, wadah). Sejauh ini NU belum berhasil menjadikan dirinya sebagai “jam’iyyah”, atau meminjam istilah Cak Nur, “Muhammadiyah punya katalog tapi tidak punya kitab; NU punya banyak kitab tapi tidak punya katalog.” Dengan menjadi jam’iyyah yang kuat, NU tak lagi dilihat sebagai kerumunan, tapi barisan; bukan sekadar buih, tapi gelombang.

Peran sosial NU dalam menyediakan jasa schooling (pendidikan), feeding (kesejahteraan sosial), dan healing (pengobatan, rumah sakit) harus ditingkatkan. Sebelum beranjak jauh, tentu saja residu pasca-Muktamar harus dihilangkan. Jangan sampai faksionalisasi dalam arena Muktamar berlarut-larut. Kalau itu yang terjadi, bukan hanya NU yang rugi, bangsa Indonesia juga ikut menangisi.

suaraislam.co | Burhanuddin Muhtadi
Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.

Buka Puasa dengan Kurma, Ini manfaatnya...

Buka Puasa dengan Kurma, Ini manfaatnya...
Ramadhan seringkali diidentikkan dengan kurma. Hal ini bukan tanpa alasan, karena selain dianjurkan oleh Rasullallah SAW, studi juga membuktikan bahwa berbuka puasa dengan buah kurma memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh.

Tak heran, jika di beberapa toko bahkan di beberapa titik di Kota Malang, kamu akan menemukan banyak sekali orang yang menjajakan buah kurma dengan berbagai jenisnya.

Nah, agar kamu lebih memahami akan manfaat buah kurma, berikut enam manfaat berbuka puasa dengan buah kurma seperti yang dilansir melalui orbitislam.com.

1. Kurma mudah dicerna sehingga tidak menyakiti perut orang yang sedang berpuasa.

2. Kurma dapat mengurangi rasa lapar sehingga membuat kamu tak terburu-buru menyantap makanan berat secara berlebihan. Pasalnya, mengonsumsi makanan secara berlebihan terutama setelah berpuasa dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

3. Kurma mempersiapkan perut untuk menerima makanan setelah tidak beraktivitas seharian karena berpuasa. Mengonsumsi kurma akan membantu mengaktifkan pelepasan sekresi pencernaan.

4. Kurma diperkaya dengan energi karena mengandung gula. Dengan begitu tubuh akan mendapat pasokan nutrisi dari gula yang dibutuhkan oleh sel otak dan saraf.

5. Kurma mencegah sembelit akibat adanya perubahan pola makan. Sembelit juga bisa disebabkan oleh kurangnya asupan serat dalam makanan yang dikonsumsi.

6. Kandungan garam alkali dalam kurma bermanfat untuk menyesuaikan keasaman darah karena konsumsi daging dan karbohidrat. Keasaman darah inilah yang menyebabkan beberapa penyakit seperti diabetes, asam urat, batu ginjal, radang kandung empedu, tekanan darah tinggi dan wasir.

Nah, bagi kamu yang tak begitu menyukai buah kurma secara utuh, kamu bisa mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan takjil, seperti es campur, es buah atau salad buah. Meskipun begitu, mengonsumsi buah kurma secara utuh adalah cara terbaik untuk mendapatkan manfaatnya. (*)

Dahsyatnya Allah Mengatur Waktu Bagi Kita

Dahsyatnya Allah Mengatur Waktu Bagi Kita
Sebuah kisah pendek yang inspiratif, sebuah situasi yang cukup mencemaskan yang tengah dialami oleh seseorang. Benarkah, situasi yang begitu dilematis itu datang, dikarenakan jadwal shalat-nya yang setiap hari juga berantakan? Mari kita simak kisahnya...

Suatu hari, dulu saat awal memulai bisnis, saya mengalami situasi seperti ini; saya membuat janji pertemuan dengan tiga orang berbeda di kota Jakarta. Saat itu saya tinggal di Yogyakarta, dan tidak banyak memiliki kenalan di Jakarta. Sementara, kondisi keuangan saya saat itu untuk pergi ke Jakarta pun sedang 'pas-pasan'.

Dengan kondisi seperti itu, saya merasa kebingungan karena jadwal pertemuannya sudah diatur dari Jakarta. Pertemuan dengan Pak A direncanakan hari Senin siang, dengan Pak B hari Rabu pagi, sedangkan dengan Ibu C di hari Jumat sore.

Jika mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta selama lima hari dan pulang kembali ke Yogya pada Jumat malam.

Masalahnya, dimana saya mau menginap? bagaimana biaya makannya selama lima hari itu? Salah-salah nggak bisa kembali pulang. Padahal ini pertemuan bisnis dan jadwalnya sudah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu para pengambil keputusan untuk penawaran kerja promosi.

Tentu saja, saya harus mengikuti jadwal mereka, karena posisi saya tak kuasa menentukan jadwal, saya yang membutuhkan mereka.

Pusing rasanya, saya memikirkan jadwal yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya bertemu seorang teman yang kebetulan dia adalah muslim yang taat dan pengetahuan agamanya cukup baik.

Dalam perbincangan kami sempat saya utarakan kesulitan saya itu, syukur bila ia bisa berbagi solusi. Saya pun curhat padanya. Teman saya hanya  mengangguk-angguk lalu bertanya pada saya, "Jadwal shalatmu gimana?"

"Jadwal shalat? Aduh, apa hubungannya?" jawab saya dengan nada keheranan.
"Iya, shalat subuh mu jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.


" Ya, jam setengah enam, jam enam, sebangunnya saya lah, kenapa," jawab saya.
"Shalat dhuhur jam berapa?" tanya dia lagi.
"Dhuhur? Jadwal sholat dhuhur ya biasanya jam 12" jawab saya.
"Bukan, maksudku jadwal shalat dhuhurmu itu jam berapa?" ia terus mendesak.
"Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung bisa shalat Ashar. Ah, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya tambah bingung.
Teman saya tersenyum dan berkata, "Pantas saja jadwal hidupmu berantakan, shalat mu saja nggak tentu jadwalnya"
"Lho kok, apa hubungannya?" saya tambah bingung.
"Kamu serius mau menyelesaikan masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.
"Lha iya, makanya saya tadi cerita!" saya menyahut sedikit kesal.
"Beresin dulu jadwal shalat wajibmu. Jangan terlambat shalat, jangan ditunda-tunda, kalau bisa shalat berjamaah," jawabnya.
"Kok? Hubungannya apa?" saya makin penasaran.
"Kamu kerjakan saja dulu kalau mau, tapi kalau tidak juga tidak apa-apa, yang punya masalah itu kan kamu bukan aku...," jawabnya.
Saya pun pamit, jawabannya sungguh tak memuaskan hati saya, "nggak nyambung," kata saya dalam hati.

Saya pun mencoba mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku untuk berangkat yang memang terbatas. Tetapi sehari itu sepertinya saya tidak menemukan jalan terang alias buntu.

Sampai akhirnya saya berpikir untuk mencoba sarannya. Saya pikir, toh tidak beresiko apa pun juga. Tapi memang, karena tidak terbiasa shalat yang teratur, rasanya berat sekali melakukanya. Sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa menunda, malas-malasan, melaksanakannya di saat-saat terkhir waktu shalat.

Dua hari sudah saya jalani shalat teratur sesuai jadwal, tetapi tak terjadi apa-apa... makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.

Tetapi di hari ketiga, ponsel saya berdering. Dari asisten Pak A, ia mengatakan, "Mas, mohon maaf sebelumnya, karena Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."
.
Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadwal saya makin teratur ini malah ada kemungkinan dibatalkan. Makin jauh lagi logika saya untuk menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan shalat saya teratur sesuai jadwalnya.

Di hari berikutnya, ponsel saya berdering lagi. Dari sekretaris Pak B. Ia mengatakan, "Mas, semoga belum beli tiket ya, karena Pak B ternyata ada jadwal general check up hari Rabu depan, jadinya tidak bisa ketemu. Tadi Bapak tanya bisa nggak ketemunya hari Jumat saja, jamnya mengikuti jadwal Mas."

Yang ini saya benar-benar membuat saya kaget. "Hari Jumat, berarti bersamaan dengan jadwalnya Ibu C? Dengan tenang saya pun menyahut, "Baik, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi, jam 9 bisa, ya?"

Dari seberang sana menjawab, "Oke Mas, nanti saya sampaikan."
Alhamdulillah, saya berteriak dalam hati. Belum hilang rasa kaget saya, dering ponsel saya menyala lagi. Sebuah pesan pendek masuk dan tertulis dilayar:
"Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup."

Kontan saya sangat terkejut! Masya Allah, tanpa campur tangan saya sama sekali, jadwal pertemuan itu seolah menyusun dengan sendirinya. Saya sangat takjub! Begitu dahsyat kejutan ini, saya pun langsung sujud syukur ... sesujud-sujudnya.

Sungguh, keajaiban seperti ini takkan bisa didapatkan siapa pun, bahkan Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits tak akan mampu menjelaskan ini. Hanya Allah Ta'ala yang kuasa mengatur segala sesuatu dari Arsy-Nya disana.

Sampai saya meyakini satu hal yang hingga sekarang saya terapkan terus "Dahulukan jadwal waktumu untuk Allah maka Allah akan mengatur jadwal hidupmu sebaik-baiknya."

Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Allah, maka Allah akan selalu menjaga hidup kita. Allah mengikuti perlakuan kita kepadaNya, makin teratur kita menyambut-Nya, makin teratur jadwal hidup kita.

Jadi inilah kunci sukses bisnis pertama yang saya bisa share ke teman-teman: Shalatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih memantapkannya lagi, lakukan shalat sunnah; qobliyah, ba'diyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Sahabat muslim, silakan dipraktekkan, Insya Allah jadwal kehidupan kita (baik secara personal, dalam keluarga, dalam masyarakat maupun dalam berbisnis) akan lebih mudah dijalani.

Apa yang disampaikan pak Arief Budiman, sesungguhnya pengamalan dari hadits Nabi:


Abdullah bin ‘Abbas RA– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, "Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.

Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

(Hadits Sahih riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad)
Sumber cerita: M. Arief Budiman

Riwayat Kiswah, Busana Ka'bah dari Masa ke Masa

Riwayat Kiswah 'Busana' Ka'bah Dari Masa ke Masa
Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya untuk membangun Baitullah di muka bumi dan melaksanakan thawaf disana." Peristiwa tersebut terjadi sebelum Adam AS diturunkan ke bumi.

Selanjutnya, Adam menyempurnakan bangunannya dan berthawaf disana dan diikuti oleh para nabi setelahnya. Kemudian, pembangunan Baitullah itu dilaksanakan kembali dan disempurnakan oleh Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS”

Penjelasan ini berdasarkan keterangan AlQuran surah Al-Baqarah [2] ayat 127 dan surah Al-Hajj [22] ayat 26. "Dan, ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).


Dari keterangan ini, jelaslah bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Adam AS. Dan, yang menyempurnakan pembangunan Ka’bah dengan memasang atau meninggikan pondasinya adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Pemakaian Kiswah pada Baitullah (Ka'bah) Kiswah yang artinya adalah pakaian, selanjutnya kata tersebut digunakan untuk menyebut kain penutup Ka'bah.

Dalam sejarahnya, Kabah diberi kiswah sejak jaman Ismail AS. Namun, tidak ada catatan yang mengisahkan kiswah pada masa itu terbuat dari apa dan berwarna apa. Baru pada masa kepemimpinan Raja Himyar Asad Abu Bakr dari Yaman, disebutkan kiswah yang melindungi Ka’bah dibuat dari kain tenun.

Kebijakan Raja Himyar untuk memasang kiswah sesuai tradisi Arab yang berkembang sejak jaman Ismail AS dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Sebagaimana disebutkan Muhammad bin Ishaq yang mengatakan, “Banyak Ulama’ menceritakan kepadaku, bahwa orang yang pertama kali memberi kiswah pada ka'bah adalah Tuba' As'ad al-Himyar."

Suatu ketika, dia bermimpi memasang kiswah Ka'bah, dan dia pun menutupi Ka'bah dengan al-Antha', yakni sebuah permadani yang terbuat dari kulit. Kemudian dia kembali bermimpi, mengenakan kiswah untuk Ka'bah, dan dia pun memasangnya menggunakan Al-Washayil, yakni kain berwarna merah, bergaris, buatan Yaman."(al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadits, 1/301)

Di Jaman Jahiliyah

Setelah masa Kerajaan Himyar, orang-orang di jaman jahililyah bergantian memasang kiswah. Mereka diperbolehkan memasang kiswah kapan saja dengan bahan apa saja.

Di antara jenis kain yang pernah digunakan untuk kiswah adalah al-Kasf (kain tebal), al-Ma'afir (kain buatan daerah Ma'afir), al- Mala' (kain halus, tipis), al-Washayil dan al-'Ashb, yang keduanya merupakan kain buatan Yaman yang ditenun dengan bambu.

Pada masa Qusay bin Kilab, salah seorang leluhur Rasulullah yang terkemuka, pemasangan kiswah pada Ka'bah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy. Mereka mewajibkan setiap kabilah untuk menanggung biaya pengadaan kiswah sesuai kemampuan masing-masing.

Sampai akhirnya datang Abu Rabi'ah bin al-Mughirah, dengan kekayaannya, dia sendiri yang menanggung biaya kiswah. Bahkan di saat kaum Quraisy sedang ditimpa paceklik. Karena itu, masyarakat arab menyebutnya dengan al-Adl (sepadan).

Karena jasa dia memasang kiswah telah sepadan dan menyamai amanah memasang kiswah yang menjadi tanggung jawab orang Quraisy. Untuk selanjutnya, keturunan Abu Rabi'ah diberi nama Bani al-Adl. (al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi' Jami' al-Hadis, 1/306).

Orang yang pertama kali memberi kiswah dengan kain sutera adalah Nutailah binti Janab, Ibunya Sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muthalib.

Kiswah Ka'bah Setelah Datangnya Islam
Pada masa Rasulullah berada di Mekkah, Ia dan para sahabat tidak memberikan kiswah untuk Ka'bah. Itu terjadi pada masa sebelum penaklukan kota Mekkah. Karena kaum Quraisy tidak mengijinkannya.

Setelah fathul Mekkah pun Rasulullah tidak mengganti kain kiswah yang menempel di Ka'bah, hingga kiswah tersebut terbakar karena seorang wanita yang ingin mengasapi kiswah dengan wewangian. Kemudian Nabi SAW menggantinya dengan kain buatan dari Yaman.

Pada masa Khulafa al-Rasyidin; Abu Bakr RA, Umar RA, dan Utsman RA, mereka memasang kiswah dari kain Qabathi (kain kapas, halus berwarna putih buatan Mesir). Pada masa Bani Umayyah, Khalifah Muawiyah RA, mengganti kiswah dua kali dalam setahun. Di hari 'Asyura dipasang dengan kain sutra dan di akhir Ramadhan dipasang dengan kain Qabathi.

Di masa Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan, kiswah dipasang dua kali dalam setahun dengan bahan dari sutra. Kiswah pertama dipasang dalam keadaan digulung dan dijahit. Kiswah ini dipasang pada hari tarwiyah.

Tujuannya agar tidak disobek oleh jamaah haji. Kiswah kedua dipasang tanpa digulung, pada hari 'Asyura, setelah jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Kemudian dilepas pada 27 Ramadhan, dan diganti dengan kain Qubathi untuk menyambut Idul Fitri.

Di masa Khalifah al-Makmun, kiswah dipasang sebanyak empat lapis. Di lapis yang keempat Ia menggunakan kain warna putih. Menurut catatan sejarah, kiswah tidak selalu berwarna hitam pekat seperti saat ini. Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur.

Sedangkan pada masa Khalifah Makmun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Kiswah juga pernah dibuat berwarna hijau atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 M) dan kiswah juga pernah dibuat berwarna kuning berdasarkan perintah Muhammad ibnu Sabaktakin.

Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun, rupanya mengusik benak Kalifah al-Mamun, hingga akhirnya diputuskan bahwa sebaiknya warna kiswah itu tetap dari waktu ke waktu yaitu hitam. Hingga saat ini, meskipun kiswah diganti setiap tahun, tetapi warnanya selalu hitam.

Pada tahun 810 H, dibuat kain penutup yang bermotif ukiran, dipasang di bagian luar Ka'bah, yang dinamakan al-Burq. Pembuatan dan pemasangan kain ini sempat dihentikan antara tahun 816 H - 818 H, dan baru dibuat serta dijadikan kiswah kembali tahun 819 H hingga sekarang.

Kiswah Ka'bah Hingga Saat Ini

Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman ‘Ali Su'ud mendirikan pabrik untuk pembuatan kiswah Ka'bah di Mekkah, dan menyediakan seluruh kebutuhan pembangunan. Proyek ini dilanjutkan putranya, Raja Faisal bin Abdul Aziz.

Dia memperbarui pabrik pembuatan kiswah, dan membangun gedung baru di daerah Ummul Jud Mekkah al Mukarramah. Pabrik kiswah ini dilengkapi peralatan modern untuk mencetak kain tenun dengan mempertahankan corak kerajinan tangan.

Di pabrik itu, kiswah dibuat secara massal. Semuanya disiapkan dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni dan perak hingga pada pemintalan kaligrafi dari benang emas maupun perak, lalu penjahitan akhir.

Meskipun kiswah tampak hitam jika dilihat dari luar, namun ternyata bagian dalam kiswah itu berwarna putih. Salah satu kalimat yang tertera dalam pintalan emas kiswah adalah kalimah syahadat, Allah Jalla Jalallah, La Ilaha Illallah, dan Muhammad Rasulullah. Surat Ali Imran: 96, Al-Baqarah :144, surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlash terpintal indah dalam benang emas untuk menghiasi kiswah.

Kaligrafi yang digunakan untuk menghias kiswah terdiri dari ayat-ayat yang berhubungan dengan haji dan Kabah juga asma-asma Allah yang dimuliakan. Hiasan kaligrafi yang terbuat dari emas dan perak tampak berkilau indah saat terkena cahaya matahari. 


jumrahonline | jumrah.com

Mewaspadai Rencana Setan di Pergantian Tahun

Mewaspadai Rencana Setan di Pergantian Tahun
TAHUN baru merupakan moment yang ditunggu-tunggu oleh banyak masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Seluruh kalangan menyambutnya dengan gembira, termasuk di dalamnya umat Muslim di Indonesia. Namun, tanpa mereka ketahui, malam Tahun baru adalah waktu di mana setan menggencarkan strategi mereka dalam menyesatkan manusia.

Komunitas setan telah bekerja keras bertahun-tahun  untuk menyesatkan manusia, tidak terkecuali masyarakat Muslim Indonesia. Hingga akhirnya, mereka berhasil juga menjerumuskan masyarakat Muslim Indonesia ini ke dalam pesta ala mereka. Ilustrasi berikut ini mungkin bisa membantu kita untuk memahami kenapa hampir mayoritas masyarakat Msulim di negeri ini terjerumus ke dalam jurang tipu daya setan yang di tahun 70an kita belum melihatnya separah apa yang kita saksikan pada beberapa tahun belakangan ini.

Pada suatu hari, Iblis mengumpulkan komunitasnya sambil berkata kepada mereka :

"Kita harus bekerja keras agar anak-cucu Adam di Indonesia ini mau menjadi pengikut dan budak kita. Kita harus buat strategi yang jitu sehingga mereka suatu saat beramai-ramai tidak menyadari kekeliruan yang mereka lakukan dan bahkan merasakan kenikmatannya dan mengira itu adalah suatu kebenaran atau sah-sah saja."


Strategi itu ialah, kita tidak mungkin memulai dengan melarang mereka ke masjid-masjid, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, belajar Islam. Kita tidak mungkin melarang mereka berzikir dan membangun hubungan dengan Allah dan nabi mereka Muhammad. Kalau ini yang kita lakukan, kita akan kehabisan energy dan mereka tidak mungkin dapat dikalahkan.

Sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke masjid pada saat tertentu seperti hari jumat, idul fitri dan iedul adh-ha. Di tengah-tengah itu, dorong mereka agar menggunakan syahwat harta, tahta dan wanita. Bagi yang tidak kebagian, dorong syahwat pesta pora dan ingin bersenang-senang.Nah, malam tahun baru masehi adalah waktu yang paling pas untuk memobilisasi mereka terjerumus ke dalam perangkap kita.

Pada dasarnya, kata Iblis lagi; sibukkan kaum Muslimin di negeri ini dengan hal-hal yang tidak bermutu, dorong mereka untuk menghabiskan waktu dan uang pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan bahkan sampai ke tingkat mubazir, seperti terompet, petasan dan kembang api. Kalau kita sudah berhasil menciptakan kondisi seperti itu, berarti kita sudah menang dan mereka sudah menjadi saudara-saudara kita. (QS.Al-Isra’ : 27).

Agar strategi kita kuat dan berpengaruh jangka panjang, kita perlu meningkatkan kinerja. Berbagai daya tarik perlu diciptakan. Berbagai alternatif perlu ditawarkan dan berbagai langkah perlu dijalankan. Di antaranya :

Upayakan mereka hidup konsumtif dan hidup dalam berhutang dan berhutang (kredit dan kredit). Dorong mereka bekerja keras untuk mencari uang sepanjang hari, kalau perlu sampai larut malam dan buat alasan kerja itu ibadah. Kalau bisa, dorong mereka bekerja 10 -12 jam perhari, 6-7 hari perpekan dan begitulah sepanjang tahun.

Bangun angan-angan dan janji-janji kosong dalam benak mereka untuk jadi orang kaya, punya uang banyak, rumah besar, kendaraan mewah, anak-anak harus sekolah di sekolah-sekolah mahal. (QS.Annisa’ : 120 dan Al-Isra’ : 64)

Jangan sampai mereka punya waktu yang cukup untuk anak-anak dan istri-istri mereka, dengan alasan bekerja keras untuk membahagiakan mereka. Demikian juga upayakan agar tidak ada waktu silaturahmi dengan orang tua dan karib kerabat mereka dengan alasan sedang sibuk meniti karir dan mencapai kebebasan financial.

Buatlah mereka seakan-akan sangat sibuk dengan urusan yang besar-besar. Bangun dalam diri mereka kebanggaan pada kemewahan hidup dunia, seperti mobil, rumah, teknologi komunikasi dan berbagai sarana kemewahan lainnya. Dorong gengsi mereka setinggi-tingginya terhadap semua materi, dan mereka harus menjadi angkuh dan sombong.

Untuk itu, lalaikan mereka dengan berbagai bentuk hiburan seperti musik, video, sinetron, film, party dan sebagainya. Dengan demikian, mereka akan menjadi orang yang lalai mengingat Allah dan berorientasi duniawi dan tidak ingat lagi kematian dan akhirat.

Terkait wanita wanita Muslimah, rangsang mereka untuk keluar rumah dan meninggalkan anak-anak mereka, baik dengan alasan bekerja maupun dakwah, shopping atau arisan (silaturrahmi). Kembangkan dalam pikiran mereka semangat kompetisi tidak sehat dengan kaum pria. Ajarkan kepada mereka berbagai fashion dan teknis kecantikan fisik kendati harus merubah jenis kelamin mereka sendiri (QS. Annisa’ : 119).

Ajarkan mereka untuk selalu tidak puas pada pemberian suami mereka, baik terkait dengan harta maupun dengan nafkah batin. Pokoknya, buat mereka sibuk sesibuknya sehingga tidak ada waktu untuk melayani suami dan merawat anak-anak mereka secara sempurna. Dengan demikian, rumah tangga dan anak-anak mereka dijamin berantakan.

Inilah tugas kalian… Inilah tugas kalian… inilah tugas kalian, kata sang Iblis. Mendengar perintah tersebut, para setan serentak menjawab : Oke Bos… Kami akan lakukan…

Lalu Iblis berkata : Apa bukti kalian berhasil?

Salah satu setan senior menjawab : Lihat saja nanti saat menyambut tahun baru masehi… Bila mayoritas kaum Muslim tumpah ruah sambil berpesta pora ala kita dalam menyambut tahun baru masehi dan tidak ingat lagi sholat, tidak ingat lagi Allah, bahkan tokoh-tokoh dakwahnya sudah pada ikutan, saat itulah misi kita berhasil (QS.Al-Hijr : 39 -42)

Saudaraku,

Ini hanyalah sebuah ilustrasi, namun faktanya mungkin lebih dari itu. Untuk itu, sebagai umat muslim sudah seharusnya mewaspadai setiap langkah dan tipu daya setan. Tipu daya mereka sangat cerdik dan licik. Dan membahayakan kehidupan dunia dan akhirat kita. Allah berfirman :

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya."
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (27) Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-A’raf : 27 -28)

Kita sudah melihat bahwa sebagian besar strategi setan yang dilakukan pada tahun baru masehi ini sudahlah berhasil. Banyak diantara umat Muslim Indonesia yang pada akhirnya terhanyut dalam pesta pora tahun baru masehi yang sia-sia. Hingga akhirnya hidupnya dipenuhi dengan kemasiatan. Naudzubillah.


islampos.com


Bolehkah Mengucap Selamat Tahun Baru Masehi?

Bolehkah Mengucap Selamat Tahun Baru Masehi?
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.

Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi.

Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. 


(Simak : Kajian Ilmiah Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW)

Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.

Lantas, bagaimana hukumnya mengucap selamat tahun baru? Mengingat tidak ada anjuran untuk perayaan pergantian tahun dalam Islam, mengucapkan ucapan tersebut bukan sebuah masalah.

Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi. Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu.

Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.

Kebiasaan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru (bid’ah). Perihal ini sudah ada sejak dulu kala. Orang dulu juga terbiasa menyapa koleganya dengan “Selamat Tahun Baru” menjelang tahun baru datang. Meskipun tak dipungkiri, sebagian orang menafikan kebolehannya dan mengategorikannya sebagai perbuatan terlarang.

Terkait permasalahan ini, Imam As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa menuturkan sebagai berikut.

أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة


Al-Hafidz Abu Hasan al-Maqdisi ditanya tentang hukum mengucapkan “Selamat  bulan baru dan tahun baru”, apakah bid’ah atau tidak? Ia menjawab, “Banyak orang berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut pendapat saya, hukumnya adalah mubah, tidak termasuk sunah ataupun bid’ah.”

Memberi ucapan selamat tahun baru terbilang masalah khilafiyah. Hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama. Karenanya, dibutuhkan kearifan dalam menyikapinya. Menurut Abu Hasan al-Maqdisi, seperti yang dinukil as-Suyuthi, hukumnya ialah mubah. Ia tidak termasuk perbuatan yang disunahkan dan tidak pula bid’ah.

Siapapun diperbolehkan mengucapakan kalimat ini. Terlebih lagi, bila ucapan tersebut dapat menambah keakraban di antara masyarakat. Orang yang sudah sekian lama tidak bertegur sapa, bisa jadi dengan adanya momen tahun baru, ucapan selamat bisa menjadi media baginya untuk berkomunikasi kembali. Wallahu a’lam.


jumrahonline | jumrah.com

Beberapa Dosa Ibu-ibu pada Tukang Sayur

Beberapa Dosa Ibu-ibu pada Tukang Sayur
Dunia ibu tak bisa dilepaskan dari tukang sayur. Bisa dikatakan, orang ini adalah idola dan idaman para ibu. Kehadirannya tiap hari ditunggu dengan harap cemas. Ketidakhadirannya diikuti oleh rasa kecewa, karena stok makanan hari itu terancam. Si ibu terpaksa harus keliling cari tukang sayur lain, atau malah harus pergi ke pasar.

Sejatinya kehadiran tukang sayur tiap pagi membuat para ibu bisa lebih mudah dan cepat memperoleh bahan menu impian. Tetapi ibu-ibu sering juga bagaikan "musuh dalam selimut" atau "benci tapi rindu" terhadap tukang sayur. Mereka membutuhkan, tetapi di sisi lain mereka ingin menekan tukang yang satu ini.

Tekanan-tekanan itu yang menjadikan para ibu ini melakukan kesalahan/dosa tanpa sengaja. Apa saja "dosa" ibu-ibu pada tukang sayur:

1. Menawar dagangan terlalu murah


Keunikan belanja di pasar tradisional maupun tukang sayur adalah bahwa kita bisa menawar harga barang.

Tapi untuk harga sayur/buah/pangan pokok lainnya, biasanya pedagang tidak akan membandrol barang dengan harga yang terlalu tinggi. Apalagi dengan asas persaingan sempurna, mereka tak mau terlalu banyak selisih harga dengan pedagang lain karena kuatir kehilangan pelanggan. Karena itu kita sebaiknya menjaga adab dalam menawar harga. Berilah tawaran harga yang sewajarnya.

Jangan sampai pedagang melepas barangnya pada kita dengan rasa terpaksa/tidak ikhlas. Keterpaksaan itu bisa mengurangi keberkahan dalam barang yang akan kita konsumsi.

2. Pesan suatu barang tetapi tidak jadi dibeli.

Ketahuilah bunda, modal yang dimiliki tukang sayur itu sudah ada peruntukannya. Dia sudah mempelajari bahan apa saja yang ingin dikulak sesuai kecenderungan konsumen. Jika kita pesan suatu barang tertentu, modalnya akan terpakai untuk kita. Jika kita tak jadi membelinya, tentu menjadi kerugian baginya. Masih bagus jika barang pesanan kita itu ada yang menggantikan. Jika tidak, modal si pedagang akan tertahan di barang tersebut. Ini akan mengurangi kemampuannya kulakan barang di hari berikutnya.

3. Berhutang pada tukang sayur dalam waktu lama, tapi membayar tunai pada toko besar.

Sudah rahasia umum sebagian ibu berhutang pada tukang sayur, bahkan dalam jangka waktu lama. Namun di waktu yang relatif sama, ibu tersebut mampu membeli barang-barang di toko besar/swalayan. Sudah tentu di swalayan ia harus membayar tunai. Bukan masalah jika ibu sedang kesulitan keuangan. Tetapi hendaknya disertai empati untuk menahan keinginan membeli barang-barang lain yang kurang perlu.

Terlalu lama ibu berhutang, membuat tukang sayur menjadi kekurangan modal.

4. Mengutil

Seorang tukang sayur bercerita pada saya, di tengah keramaian orang belanja, suka ada ibu-ibu yang mengutil barang. Perilaku itu tidak hanya sekali tapi bisa beberapa kali dilakukannya. Juga tidak hanya satu-dua ibu yang melakukan pengutilan itu.

Tukang sayur tidak mau menegurnya karena kasihan jika ibu tsb menjadi malu di hadapan orang banyak.

5. Selalu ingin dilayani lebih dahulu.

Karena ibu-ibu enggan bersabar, tukang sayur menjadi panik. Kadang hitung-hitungan manualnya kacau alias salah harga. Ini juga berpotensi mengakibatkan kerugian.

6. Berinisiatif mengambil bonus sendiri


Kadang ada ibu-ibu menambahkan suatu barang sebagai bonus/pembulatan harga belanjaannya.


Sebaiknya kita tanya dulu pada tukang sayur apakah ia membolehkan? Akan lebih baik jika ia yang memilihkan/menentukan jenis bonusnya. Sekalipun hanya sebutir tomat kecil yang kita minta, jika harganya sedang tinggi tentu akan memberatkannya.

Demikian hal-hal kecil yang sering dilakukan ibu-ibu terhadap tukang sayur. Semoga kita tak termasuk dalam kategori ibu-ibu yang lalai dalam hal tersebut.

Kedzoliman kecil yang tanpa terasa kita lakukan tiap hari tentunya bisa makin menumpuk menjadi kedzoliman yang besar, na'udzubillah.

Penulis: Sofia S. Wardani  

Lima Keuntungan Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah Di Usia Muda

Lima Keuntungan Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah Di Usia Muda
Tak banyak dari umat muslim yang memilih untuk menunaikan ibadah haji di usia muda. Terang saja, di usia ini orang lebih suka bersenang-senang daripada bersusah-susah menunaikan ibadah haji.

Padahal, ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menunaikan ibadah umrah dan haji di usia muda. Memang, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berhaji di usia muda. Namun, jika rezekinya sudah ada, tidak ada salahnya menunaikan ibadah haji di usia yang semuda mungkin.

Nah, inilah lima keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan menunaikan ibadah haji dan umrah di usia muda.


Punya Stamina yang Baik

Di usia produktif, tentu kamu masih punya banyak tenaga untuk melakukan berbagai ritual ibadah haji. Kamu masih punya banyak energi untuk tawaf, banyak beribadah di Masjidil Haram, atau mungkin mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Mekkah.


Bisa Menolong Orang yang Membutuhkan Di Mekkah Sana

Ada banyak orang yang telah berusia lanjut dan sebenarnya tidak sanggup melakukan perjalanan jauh, tapi memaksakan diri untuk berangkat haji demi menunaikan rukun islam yang ke-lima ini. Nah, bagi kamu yang masih muda, berangkat haji di usia muda juga bisa membuat kamu punya banyak kesempatan untuk memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan tenagamu di Mekkah sana. Ini bisa mejadi lading pahala buat kamu.

Mencari Pencerahan Saat Mencari Jati Diri

Hingga usia 30an, sebenarnya masih banyak orang yang masih berada dalam taraf pencarian jati diri. Dengan bersimpuh di hadapan ka’bah, kamu bisa menyerahkan segala keresahan hati kepada Allah. Adakah yang lebih menenangkan daripada bersandar kepada Allah?


Memohon Jodoh yang Terbaik

Nah, berhaji di usia muda juga bisa menjadi ajang untuk kamu berdoa memohon jodoh kepada Allah. Kamu juga bisa berdoa di Jabal Rahma yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa. Semoga kamu dan jodohmu nanti bisa selanggeng dan seromantis Adam dan Hawa.

Banyak Waktu untuk Mengubah Diri Sepulang Dari Berhaji

Kamu pasti akan mendapat banyak pengalaman dan pelajaran dari perjalanan hajimu. Nah, di usia kamu yang masih muda ini, kamu masih punya banyak kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik sepulang dari perjalanan hajimu.

Semoga kita selalu diberkahi Allah dan diberi kesempatan untuk mengunjungi rumah-Nya secepat mungkin. Aamiin.

Misteri Jembatan Setipis Rambut Dibelah Tujuh, Shirathal Mustaqim

Misteri Jembatan Setipis Rambut Dibelah Tujuh, Shirathal Mustaqim
Benarkah jembatan Shirathal Mustaqim seperti rambut dibelah tujuh? Jembatan ini merupakan jembatan yang harus dilalui siapa pun tanpa terkecuali pada waktu hari kiamat tiba. Jembatan ini disebut-sebut sebagai penghubung antara neraka dan surga. Dan menurut cerita yang beredar, jembatan ini seperti rambut yang dibelah tujuh.

Adapun cerita ini berkembang karena penafsiran dari Surah Al Fatihah yang di dalamnya disebut kata "Shirathal Mustaqim". Beberapa ulama meyakini, arti "jalan yang lurus" adalah jembatan yang lurus dan panjang. Wallahualam. Dan tidak ada dalil yang shahih yang menyatakan bahwa Shirath seperti rambut yang dibelah tujuh.

Dalam riwayat ditemukan bahwa nama jembatan ini adalah jembatan Shirath yang terbentang diatas neraka menuju ke surga. Semua manusia akan melewatinya sesuai dengan amalan mereka. Ada yang jatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat.

Dalam suatu riwayat mengatakan, bahwa adanya suatu jembatan diatas neraka Jahanam adalah hadist yang artinya berbunyi: "Maka dibuatlah As Shirath diatas Jahanam," Hadist Riwayat Al Bukhori dan Muslim

Diriwayatkan pula bahwa jembatan ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Seperti ucapan Abu Sa’id Al Hudri “Sampai kepada ku bahwa jembatan ini (As Shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang” hadist riwayat Imam Muslim.

Melewati jembatan As Shirath merupakan salah satu peristiwa dasyat yang akan dialami oleh manusia yang telah mengucapkan ikrar syahadat tauhid. Menyebrangi jembatan yang terbentang di dua punggun Neraka Jahanam ini tidak hanya dialami oleh umat Islam dari kalangan Nabi Muhammad SAW. Melainkan juga oleh umat beriman dari para Nabi sebelumnya, baik mereka yang imannya sejati, maupun mereka yang suka berbuat maksiat dan kaum munafik.

Menurut sebagian ahli tafsir, peristiwa menyebrangi jembatan diatas neraka, telah diisyaratkan Allah dalam Al-Qur’an.

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” (Qs Maryam/19: 71-72).

Lalu bagaimanakah bentuk jembatan Shirath yang nantinya akan kita lalui?  Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW menggambarkan keadaan jembatan As Shirath. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Licin lagi menggelincirkan, diatasnya terdapat besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, Ia bagikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan. Dan dibentangkanlah jembatan Jahanam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para Rasul pada saat itu, “Ya Allah Selamatkan lah, selamatkanlah,”. Pada Shirath itu juga terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besar kecuali Allah. Maka Ia mengait manusia, sesuai dengan amalan mereka,” (HR. Al-Bukhari).

Jembatan Shirath tersebut amat licin, sehingga sangat mengkuatirkan bagi siapa saja yang melewatinya. Dimana kita mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh. Shirath tersebut juga mampu menggelincirikan orang-orang yang berjalan diatasnya. Para ulama telah menerangkan bahwa maksud dari kata menggelincirkan, yaitu jembatan tersebut bergerak ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.

Shirath tersebut memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri dan dibagian ujungnya bengkok. Ini menunjukan siapa yang terkena besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkramannya. Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak dan tersambar oleh pengait besi atau tidak semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing.

Shirat ini terbentang di neraka Jahanam sehingga barang siapa yang terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait maka Ia akan jatuh ke dalam Neraka Jahanam. Shirath tersebut sangat halus sehingga akan sulit melewatkan kaki di atasnya. Shirath juga sangat tajam sehingga bisa membelah orang yang melewatinya.

Sekalipun Shirath ini halus dan tajam manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allah SWT maha kuasa untuk menjadikan manusia mempu berjalan diatas apapun. Kesulitan untuk melewati Shirath karena kehalusannya atau terluka karena ketajamannya, semua itu tergantung pada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.

Setelah kita mengetahui bagaimana bentuk Shirath dalam hadist-hadist shahih, kita akan mengetahui pula bagaimana keadaan manusia saat melewati Shirat tersebut. Rasulullah SAW bersabda dalam (Shahih, HR. Muslim) artinya:

"Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shirath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat." Aku bertanya: "Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?" Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : "Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang."

Akan ada manusia yang menyebrangi jembatan dengan selamat dan ada pula yang terluka karena sabetan duri-duri yang mencabik-cabik tubuhnya. Lalu ada pula mereka yang gagal menyebranginya hingga ujung, mereka terpeleset, tergelincir hingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya ke nereka yang menyala-nyala di bawah jembatan. Lalu bagaimana seseorang menyebranginya dengan selamat?

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung, para Nabi dan malaikat sibuk mendoakan bagi orang-orang berimana. Mereka berdoa yang artinya, “Ya Rabbi selamatkanlah, Ya Rabbi selamatkanlah”. Selanjutnya Allah akan meberikan cahaya bagi orang yang beriman dan bertaqwa. Allah telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an yang artinya artinya :

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman yang bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS.At-Tahrim:8)

Dan pada saat itulah, setiap orang tidak akan ingat pada orang lainnya, betapa sulitnya bagi kita untuk menyeberang di atasnya. Tetapi Allah maha perkasa sekaligus maha bijaksana, Allah akan memberikan bekal bagi orang-orang beriman dan bertaqwa untuk sangggup melintas di jembatan tersebut.

Sungguh pemandangan yang pastinya sangat mendebarkan. Pantaslah jika Rasulullah menyatakan, bahwa jika saat menyeberangi jembatan di atas neraka Jahanam ini sedang berlangsung, seseorang tidak akan ingat orang lainnya sebab setiap orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.
jumrahonline

Review: Situs Sejarah Islam di Mekkah Makin Punah

Review: Situs Sejarah Islam di Mekkah Makin Punah
Beberapa situs paling suci bagi umat Islam, Mekkah, di Arab Saudi terancam punah. Pemerintah Kerajaan di Riyadh setuju dengan pembangunan Masjidil Haram menjadi kawasan megapolitan. Akibatnya, beberapa peninggalan sejarah Rasul Muhammad saw dinyatakan hilang.

The Independent baru-baru ini mengatakan upaya penyulapan kawasan Masjidil Haram menjadi kawasan elitis telah berlangsung sejak sepekan lalu.

Sebuah dokumentasi yang dilansir beberapa media internasional menunjukkan aktivitas pengerukan tanah di sebalah timur Ka'bah. Jejeran eskavator melubangi lahan dan membumihanguskan beberapa situs-situs bersejarah umat Islam.

.
Dikatakan, situs yang telah hancur adalah tempat Rasul Muhammad mengawali perjalanan Isra' Mi'raj (620 M). Situs lain yang ikut dihancurkan adalah kolom peninggalan Dinasti Ottoman dan Dinasti Abbasiyah.

 

Di tempat-tempat tersebut, dikatakan menyimpan segudang peninggalan kejayaan Islam berupa dokumentasi kaligrafi (seni menulis ayat-ayat suci Al-quran) tertua di dunia. Tempat-tempat yang babak belur itu juga mengandung sejarah bagi masa Khulafaur Rasyidin (632 - 661 M).

Press Television mengatakan, Kerajaan Saudi mengklaim penghancuran situs-situs tersebut adalah bagian dari rencana pembangunan multi-miliar dolar. Pembangunan dikatakan untuk peningkatan kapasitas peziarah yang singgah ke Masjidil Haram.

Raja Saudi Abdullah juga menunjuk ulama Wahabi dan Imam Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais sebagai penanggungjawab pembangunan kali ini. Tercatat dalam kesepakatan, konsorsium bernama Binladin Group adalah sebagai pemenang tender pembangunan tersebut.

Binladin Group adalah salah satu anggota utama dalam lingkaran ekonomi terbesar di Arab Saudi. Konsorsium itu dikatakan menjadi pintu lebar bagi investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Tanah Arab.

Binladen Group juga menjadi kontraktor utama perluasan kompleks Masjid Nabawi di Madinah pada 2012 lalu. Pemerintah Kerajaan Saudi memang gemar meremajakan kompleks Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah.

Saban tahunnya, miliaran dolar digelontorkan untuk ekspansi dan perluasan. Kerajaan berdalih ekspansi tersebut adalah untuk peningkatan layanan dan daya tampung peziarah.

Memang, saban tahunnya jutaan umat muslim melangsungkan ritual keagamaan wajib di Makkah dan Madinah. Perluasan diperlukan lantaran semakin membludaknya jumlah jemaah.

Tahun lalu, pembangunan dan perluasan di Masjid Nabawi, sempat mendapat kecaman luas dari kelompok muslim dunia. Sebab konsorsium ini menyulap rumah Rasul Muhammad di kompleks masjid sebagai toilet umum.

Makam manusia tersuci bagi Umat Islam itu juga pernah terancam akan dibongkar untuk tujuan serupa. Bagi keluarga kerajaan dan Wahabi, situs-situs relijius tersebut berpotensi melunturkan nilai-nilai keagamaan, dan mendekati kemusyrikan.

Direktur Islamic Heritage Research Foundation, Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai objek penghancuran.

Kata dia, penghancuran tiga situs penting Umat Islam kali ini adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Al-Alawi menuding Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah Umat Muslim.

Kritikus sejarah peradaban islam lainnya mengatakan, penghancuran situs-situs Islam adalah penghinaan. Press Television menggolongkan aktivitas penghancuran tersebut sebagai bagian dari agenda terselubung untuk menghilangkan rekam sejarah agama samawi terbesar ini.


republika.co.id - Minggu, 17 Maret 2013

Ketika Mekkah Menjelma 'New Las Vegas'?

Ketika Mekkah Menjelma 'New Las Vegas'?
Di balik pintu tertutup—dimana polisi dan keamanan lainnya tidak dapat mendengarkan—penduduk Mekkah mulai menyebut kota mereka sebagai Las Vegas baru, dan itu sama sekali bukan pujian kebanggaan.

Selama 10 tahun terakhir situs paling suci dalam agama Islam itu telah mengalami transformasi besar, dan membelah umat Islam di seluruh dunia.
.
Kota yang asalnya merupakan padang pasir berdebu itu berjuang untuk mengatasi jumlah jamaah haji yang membludak jutaan setiap tahunnya, dan sekarang, Mekkah menjulang dengan gedung pencakar langit berkilauan, pusat perbelanjaan dan hotel-hotel mewah.


Untuk monarki al-Saud, Mekah adalah visi mereka tentang masa depan, sebuah kota metropolis baja dan beton dibangun di atas hasil kekayaan minyak yang sangat besar dan ya, mereka menganggapnya itu semua yang bisa menampilkan kebanggaan nasional mereka.

Kapitalisme Mekkah dan Madinah

Namun angka pertumbuhan penduduk, khususnya mereka yang tinggal di dua kota suci Mekkah dan Madinah, jelas-jelas terperanjat ketika menyadari bahwa warisan arkeologi bangsa diinjak-injak di bawah mania-konstruksi yang ironisnya didukung oleh ulama garis sebelah, yang menggembor-gemborkan pelestarian warisan mereka sendiri.

Mekah, merupakan tempat di mana Nabi Muhammad mengatakan bahwa semua Muslim akan berkedudukan sama, telah menjadi tempat bermain untuk orang kaya; dan kapitalisme telah merebut spiritualitas kota itu sebagai raison d’etre (justifikasi).

Dan hanya sedikit orang yang bersedia untuk membicarakan ketakutan mereka secara terbuka karena risiko yang terkait jika mereka mengkritik kebijakan resmi di kerajaan. Arkeolog Barat? Mereka pun diam karena takut bahwa beberapa situs dimana mereka telah diberi izin untuk mengaksesnya, akan ditutup lagi bagi mereka.

Mekkah dan Madinah; Selesai?

Namun sejumlah arkeolog dan sejarawan terkemuka Saudi berbicara sangat yakin bahwa peluang untuk menjaga situs suci yang tersisa di Arab Saudi secara historis telah tertutup rapat.

“Tidak ada yang memiliki nyali untuk berdiri dan mengutuk budaya vandalisme,” kata Dr Irfan Al-Alawi, Direktur Eksekutif Yayasan Riset Warisan Islam, yang tampaknya telah berjuang sia-sia untuk melindungi situs sejarah negara dan agamanya. “Kami telah kehilangan 400-500 situs.  Saya hanya berharap tidak terlalu terlambat untuk membalikkan keadaan…”

Sami Angawi, pakar terkenal di arsitektur Islam di Saudi, tak kurang khawatir juga. “Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Mekkah dan kesucian rumah Allah,” katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. “Baik [Mekkah dan Madinah] secara historis hampir selesai. Anda tidak menemukan apa-apa lagi kecuali gedung pencakar langit..”

Renovasi Masjidil Haram

Keprihatinan Dr Alawi yang paling mendesak adalah renovasi Masjidil Haram yang diperkirakan akan menelan 690 juta poundsterling. Masjidil Haram merupakan situs paling suci dalam Islam yang di dalamnya terdapat Ka’bah.

Renovasi itu sendiri secara resmi dimulai awal bulan ini dengan Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berdalih bahwa proyek itu adalah penghormatan terhadap “kesucian dan kemuliaan terhadap masjid”.

Ada sebuah argumen kecil bahwa Mekah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur; Dua belas juta jemaah haji mengunjungi kota-kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.

Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas tempat-tempat ini telah memungkinkan pemerintah hanya menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. The Washington, sebuah institut yang berbasis di Teluk, memperkirakan bahwa 95 persen dari bangunan Mekah telah dihancurkan dalam dua dekade terakhir saja.

Orang non-Muslim tidak dapat mengunjungi Mekah dan Madinah, tapi The Independent, sebuah media Barat, mampu mewawancarai sejumlah warga yang menyatakan ketidakpuasan akan perubahan kota mereka.


Seorang wanita muda yang rumahnya baru-baru ini dibuldoser untuk pembangunan, menggambarkan bagaimana keluarganya masih menunggu kompensasi. "Hanya ada peringatan yang sebentar, mereka datang dan mengatakan bahwa rumah harus dibuldoser," katanya.

Seorang Mekah lain menambahkan: "Jika seorang pangeran dari anggota keluarga kerajaan ingin memperluas istananya, dia akan melakukannya. Tidak ada yang berbicara tentang hal itu di depan umum."

Dr Alawi berharap masyarakat internasional akhirnya akan mulai bangun dengan apa yang terjadi pada peninggalan suci Islam. “Kita tidak akan mengizinkan seseorang untuk menghancurkan Piramida (di Mesir), jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam menghilang?”


jumrahonline

Rahasia Terkabulnya Doa, Yang Kita Lupakan

Rahasia Terkabulnya Doa Yang Kita Lupakan
Manusia sebagai makhluk yang tak bisa hidup tanpa berkomunikasi dengan Tuhannya. Tak ada satu tempat pun yang dapat kita minta selain meminta kepada-Nya. Bagaimana cara kita meminta? Caranya ialah dengan berdoa. Kita berdoa kepada Allah Ta'ala dengan maksud memohon sesuatu yang belum kita miliki dan berharap Allah mengabulkanya dalam waktu cepat atau lambat.

Sebagian sumber memang ada yang mengatakan bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan doa kita. Allah hanya akan mengabulkan doa kita di saat yang tepat. Di saat dimana kita benar-benar membutuhkan realisasi doa tersebut. Tetapi, semakin berkembanganya jaman semakin dangkal pula pemikiran manusia yang kebanyakan hanya mau meminta tanpa memperhatikan apakah dia sudah pantas dan sudah benar meminta.

Bahwasanya ternyata ada beberapa faktor yang membuat doa kita tidak terkabul, hal itu justru adalah hal sepeleh yang sama sekali tidak kita ingat. Berikut beberapa rahasia mujarab terkabulnya doa yang justru kita lewatkan para pecinta kumpulan misteri semuanya.

Makanan
Makanan adalah sesuatu yang kita cari dan kita masukan ke dalam tubuh kita, diproses menjadi darah dan daging. Maka dari itu apa yang kita makan akan mendarah daging di dalam tubuh kita. Begitu juga dengan baik buruknya makanan tersebut. Jika makanan tersebut baik maka akan mendarah daging menjadi hal yang baik pula.

Tetapi jika makanan itu buruk maka akan mendarah daging menjadi yang buruk pula di dalam tubuh kita. Kebaikan dan keburukan makanan tak dinilai dari rasa dan penampilannya, tetapi dari bagaimana makanan itu berasal, bagaimana kita mendapatkan makanan tersebut. Apakah diperoleh cara halal kah atau dengan cara haram?

Sebuah hadist nabi yang diriwayatkan oleh HR. Tabrani mengatakan bahawa dahulu Sa’ad Bin Ai Waqash pernah meminta baginda rosullullah untuk mendoakannya agar segera di kabulkan. Maka serta merta baginda menjawab, “hai Sa’ad perbaikilah makanan mu maka niscaya doamu akan di kabulkan.

Sesungguhnya orang yang telah memasukan makanan haram kepada tubuhnya maka doanya tidak akan diterima selama 40 hari”. Tak hanya itu saja sebuah riwayat dan sumber yang menjelaskan dan menunjukan bukti bahwa makanan sering kali kita lupakan sebelum kita berdoa.

Suatu kisah ada seorang ulama di arab yang setiap doanya selalu dikabulkan oleh Allah. Suatu hari ulama itu pergi ke kota untuk membeli kurma, ketika penjual kurma sedang melayaninya dan menimbang kurmanya, dia melihat ada satu kurma tergeletak di dekat timbangan. Dia pun mengambil dan memakan kurma itu karena mengira bahwa kurma itu adalah kurma miliknya yang jatuh saat proses penimbangan.

Menjelang beberapa hari setelah kejadian itu, dia tak merasakan adanya perubahan hanya suatu ketika ketika dia sedang berzikir ada dibelakangnya suara-suara ghaib yang sedang bercakap-cakap membicarakan dia. “ kau lihat, lelaki tua itu? Dia adalah lelaki yang dulunya selalu dikabulkan doa-doanya oleh Allah, tetapi sekarang doa-doanya tidak akan dikabulkan selama 40 hari karena dia telah memakan sesutu yang bukan haknya”.

Mendengar percakapan itu, lelaki alim itu langsung bingung dan mengingat-ingat makanan apakah yang sekiranya telah masuk kedalam kerongkongannya yang bukan haknya. Maka dia ingat akan kejadian buah kurma itu. 


Hingga setelah itu lelaki ini langsung kembali ke kota dan mencari pedagang kurma yang dulu. Sayangnya sesampai disana pedagang korma telah berganti, bukan lagi orang yang dulu melayaninya. Begitu dia meminta penjelasan baru tahulah dia jika pedagang kurma yang dulu telah meninggal dan kini anaknya yang meneruskan.

Maka diapun segera menceritakan perihal yang menimpa dirinya, sang anak memaafkan dan mengikhlaskan kurma itu. Tetapi ternyata ahli waris dari pedagang kurma itu bukan hanya satu orang melainkan 7 orang, maka pergilah lelaki alim itu menemui satu persatu ahli waris sang pedagang kurma. 


Setelah lengkap semua ahli waris memaafkan dan mengikhlaskan beliau tampak lega. Sambil menuju perjalanan pulang terdengarlah kembali percakapan ghaib dibelakangnya “lihatlah..dialah lelaki alim yang kemarin doa-doanya tak dikabulkan oleh Allah, tetapi sekarang Allah sudah mengabulkan doanya”.

Pentingnya Makanan Halal Terhadap Doa Kita
Melihat kisah tersebut tentunya kita harus sadar. Bahwa benar adanya bahwa makanan adalah faktor penyebab tidak terkabulnya doa yang sering kita remehkan. Apalagi manusia sekarang banyak yang menganggap semuanya remeh. Apa yang ada di meja makan langsung dimakan karena menganggap siapapun yang memiliki pasti akan mengikhlaskannya.

Padahal tak seharusnya kita menarik kesimpulan seperti itu. Karena pada kenyataanya ikhlas adalah hal yang tidak mudah. Dan jika seseorang tidak mengikhlaskan akan apa yang sudah masuk kedalam tubuh kita maka sudah masuk dalam hitungan makanan haram.

Maka dari itu sebaiknya kita berhati-hati pada makanan yang kita makan karena ini menjadi rahasia terkabulnya doa-doa kita.

jumrahonline

Tidak Ada Gelar Haji Dalam Islam

Tak Ada Gelar Haji dalam Islam
Di Arab Saudi dan negara lainnya tidak ada yang memakai gelar haji.

Apakah Anda sudah tahu jika gelar Haji yang biasa ditambahkan di depan nama seseorang yang telah menunaikan ibadah Haji itu hanya terjadi di Indonesia dan juga Malaysia. Selain itu ada negara lain yang juga memakai gelar Haji yaitu Brunei Darussalam.


Padahal di negara Arab Saudi dan juga negara lainnya di dunia tidak ada yang menggunakan gelar Haji di depan nama setelah pulang berhaji. Di sini pertanyaan timbul, bagaimana ceritanya sampai ada gelar Haji itu ada, khususnya di negara Indonesia?


Menurut informasi pada situs kemenag.go.id, ketika zaman kolonial Belanda, ternyata sangat banyak pahlawan di Indonesia telah menunaikan ibadah Haji contohnya adalah Pangeran Diponegoro dan Ki Hajar Dewantara tapi mereka tidak pernah menyematkan gelar Haji di depan nama mereka.

Apakah Anda sudah tahu jika gelar Haji yang biasa ditambahkan di depan nama seseorang yang telah menunaikan ibadah Haji itu hanya terjadi di negara Indonesia dan juga Malaysia. Selain itu ada negara lain yang juga memakai gelar Haji yaitu Brunei Darussalam.

Padahal di negara Arab Saudi dan juga negara lainnya di dunia tidak ada yang menggunakan gelar Haji di depan nama setelah pulang berhaji. Disini pertanyaan timbul, bagaimana ceritanya sampai ada gelar Haji itu ada, khususnya di negara Indonesia?


Menurut informasi pada situs kemenag.go.id, bahwa ketika zaman kolonial Belanda dulu, ternyata sangat banyak pahlawan di Indonesia telah menunaikan ibadah Haji contohnya adalah Pangeran Diponegoro dan Ki Hajar Dewantara. Tapi mereka tidak pernah menyematkan gelar Haji di depan nama mereka.

Terbukti dengan pulangnya para pahlawan yang telah beribadah Haji membawa perubahan ke arah yang sangat baik dibanding sebelumnya. Adanya pendirian Sarekat Islam oleh H.O.S Cokroaminoto dan juga perjuangan dalam dunia pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Tentu saja bagi pihak penjajah Belanda ini adalah sesuatu yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, sebagai langkah selanjutnya, pihak Belanda berusaha melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap tokoh-tokoh ini dengan cara mewajibkan adanya gelar Haji di depan nama orang yang sudah menunaikan ibadah Haji dan kembali ke Indonesia.

Keharusan akan hal tersebut dimasukkan dalam Peraturan Pemerintahan Belanda yaitu Staatsblad pada tahun 1903. Tahukah Anda kalau Pulau Khayangan dan Onrust dijadikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai lokasi masuk utama jalur lalu lintas haji di Indonesia.

Sudah jelas bahwa penambahan gelar Haji pada masa itu akan mempermudah Belanda dalam mencari orang yang sudah berhaji dan memberikan perubahan baik bagi masyarakat apabila suatu saat nanti membuat pemberontakan terhadap Belanda.

Akhirnya gelar Haji masih saja digunakan hingga saat ini oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada kesimpulannya, istilah ibadah dalam Islam seperti sholat, zakat bahkan haji tidak dibenarkan untuk dijadikan gelar bagi seseorang dan itu tidak ada aturannya di dalam agama Islam.

mrasyiduddin.blogspot.com

Mendulang Pahala dari Adzan dan Iqomah

Mendulang Pahala dari Adzan dan Iqomah
Ketika menunggu datangnya imam untuk shalat berjamaah, sering kita saksikan sebagian kaum muslimin justru asyik ngobrol sambil berdiri. Mereka tidak menyadari bahwa sejatinya mereka telah melakukan dua kesalahan: pertama, meninggalkan amalan sunah yang bisa dikerjakan antara adzan dan iqamah. Kedua, mengganggu orang lain yang sedang mengerjakan sunah-sunah tersebut.

Beberapa amalan sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah untuk dikerjakan oleh umatnya antara adzan dan iqamah, diantaranya:


Shalat tahiyatul masjid dan shalat rawatib

Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat untuk menghormati masjid. Sebagai tempat suci, masjid selayaknya mendapatkan penghormatan dari seorang Muslim yang akan melakukan aktivitas ibadah di tempat itu. Karena Rasulullah saw pernah bersabda:

 إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُم المَسجِدَ فَلاَ يَجِلسَ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكعَتَينِ

Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat. (Muttafaq’ alaih)

Salah seorang sahabat pernah masuk ke Masjid Nabawi ketika Rasulullah SAW sedang menyampaikan khutbah jumat, lalu dia langsung duduk. Beliau menyuruhnya berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Kemudian beliau menyatakan bahwa masjid-masjid itu memiliki kesucian dan kehormatan, bahwa ia memiliki hak tahiyat atas orang yang memasukinya yaitu dengan cara mengerjakan shalat dua rakaat sebelum duduk.

Mengerjakan shalat ketika memasuki masjid, dengan niat apapun, telah dianggap sebagai penghormatan terhadap masjid. Akan tetapi, akan lebih baik jika shalat Tahiyatul Masjid dikerjakan secara terpisah dari shalat-shalat lainnya. Artinya, seseorang yang baru masuk masjid, sebaiknya mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid dulu, baru mengerjakan shalat-shalat lainnya. 

Namun jika waktu tidak mencukupi untuk menyendirikan shalat Tahiyatul Masjid, misalnya waktu yang tersedia hanya mencukupi untuk dua rakaat saja, maka Tahiyatul Masjid dapat digabung dengan shalat lainnya. Misalnya mengerjakan shalat qabliyah Subuh (Shalat Fajar) sekaligus diniatkan shalat Tahiyatul Masjid. Imam Nawawi menyebutkan, tidak ada khilaf diantara ulama’ dalam permasalahan ini.

 Shalat Tahiyatul Masjid disyariatkan kapanpun waktunya meskipun pada waktu larangan shalat, demikian menurut pendapat ulama yang paling shahih berdasarkan keumuman hadits Nabi saw. Larangan mengerjakan shalat pada waktu-waktu tertentu seperti sebelum matahari terbit dan setelah shalat Ashar hanyalah berlaku untuk shalat sunah mutlaq. Sedangkan mengerjakan shalat sunah yang ada sebabnya seperti shalat Tahiyatul Masjid, atau shalat jenazah maka tidak ada larangan.

Waktu antara adzan dan iqamah juga bisa kita manfaatkan untuk mengerjakan shalat sunah rawatib qabliyah (yang dikerjakan sebelum shalat fardhu). Faidah rawatib ini ialah untuk menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu. Mengenai fadhilahnya, Rasulullah pernah bersabda:

Tidak ada seorang hamba muslim yang melaksanakan shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat sunah bukan fardhu, kecuali Allah akan membangunkan untuknya rumah di Surga, atau dibangunkan untuknya rumah di Surga. (HR. Muslim dan Tirmidzi). Beliau menambahkan: Empat rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya’, dan dua rakaat sebelum Subuh. 

Berdoa kepada Allah

Tempat mengadu, meminta, dan kembali segala urusan bagi orang beriman hanyalah Allah. Rasulullah memberitahukan waktu-waktu yang mustajab untuk menghadap dan memohon kepada Allah. Diantara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah antara adzan dan iqamah, berdasarkan sabda Rasulullah saw:

لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Tidak akan ditolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah” (HR. Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan At Tirmidzi)

Doa yang kita panjatkan pada waktu tersebut pasti akan dikabulkan oleh Allah, mestinya setelah kita kerjakan rukun, syarat dan adabnya. Jika kita telah berdoa dengan kekhusyu’an hati, merendahkan diri di hadapan Sang Penguasa, menghadap kiblat, dalam kondisi suci dari hadats, mengangkat kedua tangan, memulai dengan tahmid (pujian kepada Allah), kemudian membaca shalawat atas Muhammad. 

Kemudian bertobat dan beristighfar sebelum menyebutkan hajat, bersungguh-bersungguh dalam memohon dengan penuh kefaqiran, dibarengi dengan rasa harap dan cemas, bertawasul dengan nama-nama dan sifat-Nya serta mentauhidkan-Nya, maka doa seperti itu akan didengar oleh Allah dan hampir tidak tertolak selamanya.

Diantara doa yang dituntunkan adalah permohonan kepada Allah ‘afiah (keselamatan) di dunia dan akherat. Sebagaimana sabda beliau:

“Doa tidak ditolak antara azan dan iqamah. Mereka bertanya, ‘Lantas apa yang kami katakan wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Mohonlah kepada Allah ‘afiah (keselamatan) di dunia dan akhirat.” (HR. At Tirmidzi)

Sayangnya waktu mustajab ini sering disalahgunakan sebagian umat Islam yang kurang mengerti atau menyepelekan sunah, sehingga diisi dengan hal-hal yang tidak baik dan tidak dianjurkan Islam, membicarakan urusan dunia atau hal-hal lain yang tidak bernilai ibadah. Wallahul Musta’an