Peluk Hangat Tokoh Perempuan Muhammadiyah ke Jokowi

Peluk Hangat Tokoh Perempuan Muhammadiyah ke Jokowi
Setelah acara ditutup, Jokowi menyempatkan diri menghampiri murid-murid untuk bersalaman dan berfoto bersama. Namun, ketika turun panggung, dia dicegat seorang nenek berjilbab kuning. 

Sosok itu adalah mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Aisyiyah Elyda Djazman. Aisyiyah adalah organisasi sayap perempuan Muhammadiyah yang fokus pada pemberdayaan masyarakat.

Perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara, 11 Juli 1940 itu menyalami, memeluk, dan menepuk pundak Jokowi. Putri dari pasangan HM Bustami Ibrahim dan Rohana yang juga aktivis Muhammadiyah itu turut mendoakan Kepala Negara.

"Semoga Bapak panjang umur, sehat dan menjadi kebaikan bagi banyak orang," kata Elyda kepada Jokowi, Kamis, 6 Desember 2018.

Mendengar hal itu, Jokowi menunduk dan menganggukan kepalanya. "Terima kasih, terima kasih doanya," ujar Jokowi.

Elyda bukan orang sembarangan di Muhammadiyah. Dia memimpin PP Aisyiyah selama 3 periode berturut-turut, 1985 hingga 2000. Elyda dikenal kritis dan peka terhadap persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan.

metrotvnews.com

Kyai Ma'ruf : Pancasila dan UUD 45 Pemersatu Bangsa

Kyai Ma'ruf : Pancasila dan UUD 45 Pemersatu Bangsa
“NKRI bisa dibangun berdasarkan dua pilar utama, yaitu Pancasila dan UUD 45,” ujar Ma’ruf melalui rekaman yang diperdengarkan pada acara yang digelar di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 28 November 2018.

Ma'ruf juga mengajak mengenang jasa para pendiri bangsa khususnya Presiden Indonesia pertama Soekarno yang berhasil merumuskan Pancasila. Berbagai perjuangan, perbedaan, bukanlah hal mudah, namun pada akhirnya berhasil dilalui dan melahirkan landasan negara yang mampu menyatukan bangsa.

Bagi Ma’ruf, Pancasila muncul sebagai pemersatu setelah sebelumnya masing-masing kelompok bergulat agar pemikirannya yang menjadi dasar negara. Namun, pada akhirnya, Pancasila adalah kesepakatan semua pihak yang menjadi dasar negara.

"Pancasila adalah titik temu yang orang islam menamakannya sebagai kalimatul sawwab, yaitu satu kata-nya seluruh bangsa Indonesia," kata Maruf.

Begitu pula dengan UUD 1945 yang ia sebut sebagai hasil kerja keras buah pikiran para pemimpin bangsa sebagai kesepakatan sesama saudara sebangsa dan setanah air. Oleh karenanya, kedua pilar itu harus dijaga dengan baik.

"Karena dua pilar utama itulah lahir NKRI, oleh karena itu kita harus menjaga pilar ini tetap kokoh dan kuat. Karena itu upaya upaya maksimal yang harus kita lakukan harus terus kita dalam menjaga keutuhan NKRI," kata Ma'ruf.

medcom.id

Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Dinilai Belum Ampuh, Alasannya?

Narasi Ekonomi Prabowo-Sandi Dinilai Belum Ampuh, Alasannya?
Hal ini dibaca dari hasil survei elektabilitas Prabowo-Sandi yang masih kalah dari Joko Widodo-Ma'ruf Amin. 

"Prabowo belum menyakinkan narasi ekonominya, belum berhasil menyajikan pemilih bahwa (ekonomi) ini gagal, maka anda pilih saya, dia sebatas (ekonomi) ini gagal saja," kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat merilis hasil surveinya di Jakarta Pusat, Selasa, 27 November 2018. 

Ia menyarankan kubu Prabowo membuat gagasan nyata untuk mengatasi masalah ekonomi yang selama ini menjadi poin kritikan. Hasil survei Median, kata Rico, 48,9 persen responden masih merasa ekonomi dan kesejahteraan buruk.

"Ini belum menaikan elektabilitas Prabowo, kenapa? karena publik belum yakin Prabowo mampu menggantikan Jokowi," tambahnya.

Jajak pendapat juga menunjukkan kalau masyarakat membutuhak figur yang dinilai dapat menyelesaikan masalah ekonomi. Ini bisa jadi celah Prabowo menyalip perolehan elektabilitas. "Nah ini kalau dia (Prabowo) mampu meyakinkan mungkin Prabowo akan naik. Tapi kalau gagal, posisi suara kembali ke 2014 lalu ," tuturnya.

Median mendapati elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin masih unggul di Pilpres 2019 dengan angka 47,7 persen. Sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 35,5 persen.

Survei ini melibatkan 1.200 responden yang memiliki hak pilih. Sampel dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling dan proposional atas populasi provinsi dan gender.

Jajak pendapat ini memiliki margin of error sekitar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil survei menunjukkan dinamika politik selama masa pengambilan data, 4 sampai 16 November 2018.

www.medcom.id | Kautsar Widya Prabowo

Habaib Muda Nusantara Deklarasi Dukung Jokowi-Ma'ruf

Habaib Muda Nusantara Deklarasi Dukung Jokowi-Ma'ruf
"Kami melihat di capres cawapres 01, kami melihat prestasi mereka dari wali kota yang sukses dua kali di Solo dan di Jakarta dan jadi presiden. Kerjanya nyata, perhatiannya kepada rakyat tanpa memandang suku, agama, ras, kita merasakan Indonesia satu," kata Koordinator Hadana, Habib Syahdu, di Kopi Politik, Jalan Pakubuwono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (27/11/2018).

"Begitu juga KH Ma'ruf Amin, beliau berprestasi saat jadi santri dan Ketua MUI dan ahli ekonomi syariah. Jadi pilihan kita lebih mantap," sambungnya.

Habib Syahdu menyebut Hadana saat ini mulai tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, ada 7 kota tempat Hadana tersebar.

"Menurut hemat kami bahwa capres-cawapres 02 kami melihat telah lama vakum dari pemerintahan. Yang sangat disayangkan telah memilih cawapres yang belum menunjukkan prestasi yang signifikan, sehingga kalau jadi presiden kami jadi ragu," kata Habib Syahdu.

Acara deklarasi dukungan Hadana itu juga dihadiri Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Maman Imanulhaq. Mewakili TKN, Maman berterima kasih atas dukungan yang diberikan kepada Jokowi-Ma'ruf.

"Saya ucapkan terima kasih dan saya sudah sampaikan ke beliau (ke Jokowi-Ma'ruf) atas dukungannya. Saya mohon dari teman-teman Kopi Politik merekam ceramah beliau-beliau dan kita sebarkan. Jadi tolong dakwah kebangsaan, seperti Habib Syahdu, jadi ciri 01," kata Maman.

Selanjutnya, pembacaan deklarasi secara serentak dibacakan oleh anggota Hadana. Deklarasi itu dipimpin Habib Syahdu. Berikut ini deklarasi yang dibacakan Hadana:

Dengan rasa penuh syukur dan mengharapkan rahmat Allah SWT, hari ini, Selasa, 27 November 2018, kami yang tergabung dalam Habaib Muda Nusantara (Hadana) dengan ini menyatakan:

1. Mendukung pasangan capres cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.
2. Kami siap menjaga moral bangsa, nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai moral universal, nilai-nilai kesantunan, kebangsaan, bersama sama Bapak Jokowi, ulama, kiai, dan para habib seluruh Indonesia.

news.detik.com

Kekecualian Tentang Nahdlatul Ulama

Kekecualian Nahdlatul Ulama
BAGI yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama, dinamika yang terjadi selama Muktamar ke-33 di Jombang, yang dipicu oleh kontroversi sistem pemilihan rais am melalui ahlul halli wal aqdi (AHWA), bukanlah suatu drama yang mengejutkan.

Alasannya sederhana: NU adalah “drama” itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Itu sebabnya, selalu ada element of surprise, baik kejutan kecil maupun besar, yang mewarnai perjalanan panjang NU.

NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku, atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.

Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “kekecualian” atau exceptionalism. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal. Relasi NU dengan negara, misalnya, tidak pernah ajek. Pada masa Orde Lama, NU begitu mesra dengan Sukarno dan menganugerahinya gelar “waliyul amri dhoruri bissyaukah”.

Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Ia tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah. Nakamura (1981), dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-an melawan arus dari kecenderungan umum relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru. Saat Soeharto mendekati kelompok Islam (modernis), NU di bawah Gus Dur emoh menyambutnya.

Dan NU selalu punya alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzagnya. Pengamat yang tidak paham NU gampang mengobral tuduhan bahwa NU memiliki karakter oportunistik dan terjangkit short-termism, sebuah perilaku yang memuliakan tujuan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Tapi bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan itu.

Apa yang disebut pihak lain sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU sebenarnya punya akar dari tradisi Sunni yang disebut political quietism (pasif) yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Tertib sosial menempati posisi penting dalam pengambilan keputusan di NU.

Karakter politik NU yang liat dan elastis ini berbeda 180 derajat dengan watak politik Islam modernis yang menekankan pada kepastian, konsistensi, dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah Islam modernis di Indonesia selalu mudah ditebak, tidak sedinamis Islam tradisionalis. Gaya politik Masyumi, misalnya, terlalu mudah dibaca.

Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. NU bebas berinteraksi dengan negara tanpa harus membuat komitmen permanen yang justru membelenggu dirinya. Inilah mekanisme pertahanan (defense mechanism) ala NU yang membuat ormas ini bertahan hidup dan berkembang menjadi jemaah Islam dengan pengikut terbesar se-Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Bahkan, dalam metode penentuan awal dan akhir Ramadan, NU berpatokan pada metode yang “tak pasti”. Berbeda dengan Muhammadiyah yang mengunggulkan kepastian melalui metode hisab, NU setia pada rukyat. Melalui hisab, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mematok kapan puasa dimulai dan kapan Idul Fitri. NU sebaliknya merayakan ketidakpastian melalui rukyat. Bagi NU, peristiwa agama selalu punya dimensi. Klimaks-antiklimaks dan momentum menjadi penting dalam dramaturgi politik keagamaan NU.

Dalam dramaturgi NU, hasil akhir menjadi susah ditebak. Siapa yang menebak KH Mustofa Bisri yang terpilih sebagai rais am tiba-tiba menyatakan tak bersedia, kemudian digantikan KH Ma’ruf Amien. Menganalisis NU secara temporal bisa terperangkap dalam jebakan target yang selalu bergerak. Siapa yang membayangkan NU yang pada sidang-sidang Konstituante 1950-an menjadi pihak paling keras menyuarakan formalisasi syariah Islam dan menuntut pelembagaan ulama dalam negara justru sekarang menjadi penjaga gawang Islam tanpa campur tangan negara.

Siapa pun pihak yang berupaya mengubah konstitusi Indonesia dengan memaksakan Piagam Jakarta, misalnya, harus melangkahi mayat NU lebih dulu. Metamorfosis NU membuat kebinekaan kita seperti mendapat jaminan. Inilah amal jariah terbesar NU bagi bangsa yang majemuk.

Kekecualian NU yang sulit ditandingi ormas lain adalah secara statistik responden yang mengaku sebagai warga NU mencapai 45 persen dari seluruh populasi muslim di Indonesia. Hasil ini diperoleh berdasarkan data cross-sectional yang dihimpun dari survei-survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia sejak 2003 hingga 2015.

Jumlahnya membengkak jika ditanyakan kedekatan secara kultural. Ada 60 persen responden yang mengaku dekat secara kultural keagamaan dengan NU. Proporsi besar warga nahdliyin ini akan selalu membuat NU punya data tarik elektoral di mata politikus.

Survei juga menemukan bahwa warga yang mengaku secara kultural dan emosional dekat dengan tradisi NU tidak pernah berkurang. Berbeda dengan warga ormas lain yang banyak melepaskan identitas partikularnya sebagai bagian dari ormas tertentu seiring dengan maraknya new Islamic movement, seperti gerakan Tarbiyah atau Hizbut Tahrir sejak dekade 1980, jemaah NU tampak memiliki basis pertahanan kultural yang tangguh. Ritual NU, seperti tahlilan, barzanji, dan manaqiban, berhasil membentengi umat dari pengaruh gerakan Islam transnasional dan menjaga identitas kenahdliyinan mereka.

Mujani (2003) menemukan bahwa ritual nahdliyin inilah yang menjadi modal sosial demokrasi di Indonesia karena ibadah jenis ini memiliki dimensi kolektivisme-sosial yang menjadi intisari demokrasi yang partisipatif. Sekali lagi inilah kekecualian NU. Warga NU yang aktif dalam ritual nahdliyin cenderung mendukung demokrasi dan terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di PKK, karang taruna, dan sejenisnya.

Meski bukan organisasi pluralis karena anggotanya terbatas bagi yang beragama muslim saja, NU tidak diciptakan untuk memusuhi agama lain. Tingkat toleransi warga NU yang relatif tinggi ini bisa bermata dua. Di satu sisi, warga NU menjadi eksemplar Islam yang ramah, tapi toleransi ini juga membuat mereka cenderung nrimo ing pandum atas ketidakmampuan pemerintah atau pengurus NU dalam meningkatkan kesejahteraan jemaah.

Tugas utama NU sekarang adalah tidak sekadar mengandalkan keunggulan massa, tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya jemaahnya. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, NU jangan sekadar bertumpu pada “jamaah” (isi), tapi juga bisa menjadi “jam’iyyah” (sistem, wadah). Sejauh ini NU belum berhasil menjadikan dirinya sebagai “jam’iyyah”, atau meminjam istilah Cak Nur, “Muhammadiyah punya katalog tapi tidak punya kitab; NU punya banyak kitab tapi tidak punya katalog.” Dengan menjadi jam’iyyah yang kuat, NU tak lagi dilihat sebagai kerumunan, tapi barisan; bukan sekadar buih, tapi gelombang.

Peran sosial NU dalam menyediakan jasa schooling (pendidikan), feeding (kesejahteraan sosial), dan healing (pengobatan, rumah sakit) harus ditingkatkan. Sebelum beranjak jauh, tentu saja residu pasca-Muktamar harus dihilangkan. Jangan sampai faksionalisasi dalam arena Muktamar berlarut-larut. Kalau itu yang terjadi, bukan hanya NU yang rugi, bangsa Indonesia juga ikut menangisi.

suaraislam.co | Burhanuddin Muhtadi
Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.

Kabar Soetrisno Bachir Dukung Jokowi-Ma’ruf. Begini tanggapan Ketum PAN

Kabar Soetrisno Bachir Dukung Jokowi, Ma’ruf: Ini tanggapan Ketum PAN
“Terima kasih saya,” kata Kyai Ma'ruf Amir sambil tertawa setelah menghadiri konser amal di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (20/10).

Ma’ruf Amin sebut langkah Soetrisno berpandangan objektif
Meski belum dipastikan Soetrisno akan bergabung, Ma’ruf mengapresiasi jika benar adanya. Menurutnya, Soetrisno berpandangan objektif dan patut dicontoh

“Terima kasih pada mereka. Saya kira layak (Soetrisno dukung Jokowi). Artinya pandangan mereka sangat objektif, tidak subjektif. Itu patut jadi contoh,” ucap Maruf.

Kader PAN di daerah dukung Jokowi
Selain itu, diketahui ada sejumlah kader dan caleg dari PAN di daerah yang beralih mendukung Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Salah satunya adalah Ketua DPD PAN Pesisir Selatan Hendrajon. 

Baca juga : Keputusan Pendiri PAN Abdillah Toha Hijrah ke Jokowi

Dewan Kehormatan PAN pun hingga saat ini belum mengambil keputusan terhadap perbedaan sikap dari segelintir kadernya itu, termasuk Hendrajoni.

Hal itu terjadi karena mereka kecewa cawapres Prabowo bukan Zulkifli Hasan
Sebelumnya, Sekretaris Jendral PAN Eddy Soeparno, blak-blakan dengan mengatakan bahwa ada sejumlah kader PAN merasa kecewa atas pilihan cawapres Prabowo Subianto yang ternyata bukan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Zulkifli Hasan tanggapi santai kabar dukungan ini
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menanggapi santai soal kabar dukungan Mantan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Menurut Zulkifli Soetrisno Bachir memiliki banyak ilmu.

"Mas Tris itu kan orang Sufi, ilmunya banyak," ujar Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (12/9) lalu.

Zulkifli tidak menjelaskan hubungan soal Soetrisno orang Sufi dengan dukungan kepada Jokowi. Ia hanya menegaskan kembali bahwa seorang Sufi memiliki banyak ilmu.

www.idntimes.com

Ketum PBNU dan Grand Syekh Al Azhar Sepakat Tolak Khilafah

Ketum PBNU dan Grand Syekh Al Azhar Sepakat Tolak Khilafah
Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Said Aqil Siroj berdiskusi tentang Islam nusantara dengan Grand Syekh Al Azhar, Ahmed Muhammad Ahmed Al-Thayyeb. Dalam diskusi yang berlangsung di Kantor PBNU Jakarta Pusat itu, Kiai Said menyebut Al Azhar dan NU memiliki kesepahaman tentang Islam yang moderat.

Keduanya sepakat penerapan ajaran Islam harus dilakukan secara adil dan proporsional. Mereka juga sepakat untuk secara bersama-sama menolak adanya khilafah, bahkan menurut Kiai Said sebagian besar umat Islam juga sudah menolak khilafah.

“Barang siapa yang mengkafirkan orang yang salat, orang yang hajinya ke Makkah, kiblatnya ke Makkah, itu dia sendiri yang kafir. Jadi tidak boleh mengkafirkan orang yang salat, masih menghadap kiblat salatnya. Tidak ada alasan untuk mengkafirkan orang yang salat,” ujar Kiai Said di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (2/5).

Kiai Said menambahkan, dalam kesempatan itu Ahmed berpendapat bahwa khilafah merupakan persoalan kecil yang tak perlu dibesar-besarkan. Hal tersebut bahkan pernah diutarakan langsung oleh pemikir muslim, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari.

“Ketika ditanya tentang khilafah, bagaimana pendapat beliau tentang sekelompok orang yang ingin mendirikan khilafah, ‘ikutilah mayoritas, mayoritas umat Islam ingin khilafah atau tidak? Kalau tidak jangan macam-macam’, beliau jawab gitu,” jelas Kiai Said.

Melanjutkan apa yang disampaikan Ahmed, dalam kesempatan itu Kiai Said menyebut Ahmed juga menyampaikan sejumlah pesan untuk seluruh umat Islam di Indonesia. Ahmed meminta seluruh muslim dapat mencintai dan menghormati warga Arab, sebab Nabi Muhammad SAW berasal dari Arab.

Selain itu, Ahmed juga mengimbau umat Islam untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Hal itu penting, agar umat Islam dapat terhindar dari fitnah, adu domba, kebohongan, hingga kebencian.

“Bahwa media sosial itu besar sekali manfaatnya. Tapi juga besar sekali mudaratnya. Kalau media sosial di-manage dengan baik, itu manfaatnya besar sekali,” ucap Said menirukan ucapan Ahmed.

Terakhir, Ahmed berpesan agar agama tak dijadikan alat politik. “Kalau agama dijadikan alat untuk pemenangan pilkada, pilgub, pilpres sangat berbahaya,” tutup Kiai Said.

news.baldatuna.com

PKB Belum Dukung Jokowi Tapi Calonkan Jokowi-Muhaimin

PKB Belum Dukung Jokowi Tapi Calonkan Jokowi-Muhaimin
Deklarasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusung Ketua Umumnya Muhaimin Iskandar tidak main-main. Bahkan yang dideklarasikan bukan hanya Muhaimin tetapi pasangan Jokowi-Muhaimin sebagai capres dan cawapres.

“Tadi itu kita sudah sampaikan bahwa kita akan mengusung Jokowi-Muhaimin Iskandar,” kata Muhaimin di kantor DPP PKB, Selasa (10/4).

Bahkan Muhaimin mengulang jawabannya saat ditanya tentang hal yang sama. “Ya secara resmi tadi kan sudah saya umumkan, yang akan diusung PKB 2019 adalah Jokowi-Muhaimin,” ungkapnya.

PKB merupakan salah satu partai yang mendukung pemerintahan Joko Widodo tetapi belum menyatakan mendukungnya dalam Pilpres 2019. Muhaimin membantah bahwa cara ini menjadi alat tawar untuk dijadikan syarat partainya mendukung Jokowi.

“Bukan syarat. Memang itu yang diusung PKB. Bukan syarat ya,” tegas Muhaimin yang tetap meyakini bahwa Jokowi bersedia menjadikannya cawapres pada Pilkada 2019. “Kita yakin bersedia,” jelasnya.

Dukungan Kyai Said Aqil Perkuat Posisi Cak Imin, Cawapres Jokowi

Dukungan Kyai Said Aqil Perkuat Posisi Cak Imin, Cawapres Jokowi
Dukungan yang diberikan KH Said Aqil Siradj kepada Muhaimin Iskandar (Cak Imin) untuk maju mendampingi Joko Widodo ( Jokowi) sebagai cawapres, dinilai memperkuat posisi Cak Imin. Pasalnya saat ini, terjadi kompetisi figur-figur yang akan mendampingi Cak Imin. Dengan dukungan Said Aqil, posisi Cak Imin sebagai representasi kaum Nahdliyyin semakin kokoh.

"Dukungan KH Said Aqil Siradj kepada Cak Imin sangat penting bagi Cak Imin bahkan PKB secara keseluruhan," ujar Direktur Said Aqil Siroj Institute, M Imdadun Rahmat, dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (16/3/2018). Imdadun menjelaskan, sebagai ketua umum PBNU, dukungan yang diberikan Said Aqil memberi kesan bahwa NU memiliki hubungan lebih dekat ke PKB dibanding partai lainnya.

Sebagai ulama yang dihormati, sambung Imdadun, Said seperti menegaskan kepada kaum Nahdliyin bahwa Cak Imin adalah kader terbaik yang paling pantas didukung sebagai cawapres. Secara khusus, dukungan ini memberi sinyal kepada Jokowi dan partai pendukungnya untuk mempertimbangkan Cak Imin sebagai pilihan terbaik. "Dukungan terbuka dari Kiai Said menunjukkan Cak Imin direstui penuh Keramat Raya 164 (PBNU).

Selama ini Cak Imin juga dekat, runtang-runtung dengan Kiai Ma'ruf Amin. Lengkap sudah, Ketum Tanfidliyah dan Rois Aam kompak mendukung Cak Imin," papar Imdadun. Namun, menurut mantan ketua Komnas HAM ini, Cak Imin tidak boleh berpuas diri dengan dukungan anggota NU. Untuk meyakinkan Jokowi, Cak Imin harus betul-betul merepresentasikan muslim moderat secara keseluruhan. Hal ini dinilai strategis, sebab Jokowi yang oleh lawan politiknya distigma anti Islam, sehingga sangat membutuhkan wakil yang didukung luas oleh publik muslim religius.

"Ini bukan hal yang sulit. Didukung Kiai Said, Cak Imin bisa masuk dan menarik dukungan ormas-ormas Islam di bawah LPOI yang ketuanya Kiai Said sendiri. Cak Imin juga bisa masuk ke semua ormas Islam di bawah MUI. Kiai Ma'ruf kan ketua umum MUI. Pintunya terbuka lebar," tambah Imdadun.

Imdadun menyarankan, Cak Imin dan PKB segera mengumumkan dukungan resmi ke Jokowi. Hal ini penting untuk menepis isu PKB bermain dua kaki ke "poros Islam" atau "poros ketiga". Isu ini tidak hanya merugikan posisinya di mata Jokowi dan partai koalisi pemerintah, tetapi juga di mata pendukung internalnya, khususnya Said Aqil dan Ma'ruf Amin yang merupakan tokoh Majlis Dzikir Hubbul Waton yang sejak awal mendukung Jokowi.

kompas.com | Reni Susanti

Islam Arab atau Islam Cina?

Islam Arab atau Islam Cina?
Teori klasik menyebutkan pedagang keturunan Arab yang membawa Islam ke Nusantara. Versi lain menyebut justru pedagang Tionghoa yang menyebarkan Islam

Beberapa teori menyangkut hadirnya Islam di Kepulauan Nusantara dikemukakan para pakar sejarah. Ada dua teori klasik yang utama ihwal penyebaran Islam di Nusantara. Pertama, dikemukakan oleh Niemann dan de Holander yang menyebutkan kalau Islam dibawa oleh pedagang Timur Tengah. Kedua, adalah teori pedagang Gujarat yang diusung oleh Pijnapel dan kemudian diteliti lanjut oleh Snouck Hurgronje, Vlekke, dan Schrieke.

Agaknya teori-teori klasik itu menyandarkan validitasnya pada laporan perjalanan yang ditulis Marcopolo yang menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, yang ketika singgah di Aceh tahun 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi′i.

Adapun peninggalan tertua kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satunya adalah makam Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis tahun 475 H/1082 M, yaitu zaman Singasari. Diperkirakan makam ini bukan penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

M.C. Ricklefs memiliki serangkaian intepretasi yang meragukan kesahihan teori klasik itu. Semisal dalam kasus batu nisan di Gresik ia menyebut tentang kemungkinan batu nisan itu hanya pemberat kapal atau mungkin batu nisan yang dipindahkan setelah muslimah itu meninggal. Dan batu itu tidak memberikan kejelasan apa-apa mengenai mapannya agama Islam di tengah-tengah penduduk Indonesia.

Sampai dengan awal abad ke-14 M, Islamisasi secara besar-besaran belum terjadi di Nusantara. Baru pada pertengahan abad ke-14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti.

Kekuatan politik itu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, dan Ternate. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu/Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Sunda.

Menarik juga mengamati kisah-kisah pengislaman Nusantara yang dapat ditemui dalam historiografi tradisional. Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan bagaimana Islam masuk ke Samudra dan juga tentang batu nisan Malik as-Salih bertarikh 1297 M.

Dalam hikayat ini diceritakan tentang Khalifah Mekah yang mendengar adanya Samudra dan memutuskan mengirimkan sebuah kapal ke sana memenuhi ramalan Nabi Muhammad bahwa suatu saat akan ada sebuah kota besar di timur yang bernama Samudra, yang akan menghasilkan banyak orang suci. Hikayat itu dipenuhi cerita tentang proses penganutan Islam oleh raja Samudra: Marah Silau (atau Silu), bermimpi bahwa Nabi menampakkan diri padanya dan sekonyong meludah ke dalam mulutnya untuk mengalihkan pengetahuan Islam serta sekaligus menggelarinya Sultan Malik as-Salih.

Cerita yang kurang lebih sama juga ditemui dalam Sejarah Melayu. Historiografi ini mengisahkan tentang pengislaman Raja Malaka. Sebagaimana Malik as-Salih yang bertemu Nabi di dalam mimpinya, demikian pula dengan Raja Malaka. Dalam pada itu, Nabi mengajarkan kepadanya cara mengucapkan dua kalimat syahadat.

Hal yang unik justru terjadi pada kitab Babad Tanah Jawi. Jika dalam dua naskah Melayu di atas Islamisasi selalu ditandai dengan adanya simbol-simbol formal dari perubahan agama seperti mengucapkan dua kalimat syahadat dan penggunaan nama Arab maka cerita pengislaman Jawa yang dituturkan melalui Babad Tanah Jawi memberikan kesan suatu proses asimilasi yang sedang berlangsung di Jawa.

Naskah Babad Tanah Jawi menuturkan tentang Islamisasi tanah Jawa yang dilakukan oleh sembilan wali (wali sanga). Di sini pengislaman secara formal tak tampak, namun garis genealogis yang mengacu pada Arab (baca: Timur Tengah) tetap menjadi alur utama kisah di dalamnya.

Dari keseluruhan historiografi tradisional ada satu benang merah yang saling menghubungkan perihal penyebaran agama Islam di Nusantara: berasal dari Arab. Besar kemungkinan hal ini dilakukan agar ada semacam legitimasi ideologis bagi agama Islam untuk masuk ke Nusantara. Di lain pihak, hal ini juga menimbulkan bias bahwa seakan-akan Islam akan lebih sahih jika dibawa dari Arab, bukan dari wilayah lainnya.

Kembali kepada persoalan diskursus teori klasik kedatangan Islam, amat dimungkinkan jika teoritisi sejarah Islam juga melihat kenyataan yang dicatat di dalam naskah-naskah kuno itu sebagai dasar menjadikan pedagang Timur Tengah sebagai pembawa Islam ke Nusantara.

Juga perlu dicatat kiranya tentang dua dokumen lain yang bisa menghantarkan pada substansi Islamisasi di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Kedua naskah itu berisi tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang diberikan di Jawa pada abad XVI. Salah satu naskah yang berisi tentang pertimbangan-pertimbangan terhadap hal-hal yang diperdebatkan, kemudian naskah dinisbahkan oleh G.W.J. Drewes kepada seorang ulama yang bernama Syekh Bari.

Naskah kedua berisi tentang primbon yang berisi tuntunan menjalankan agama Islam yang dibuat beberapa murid ulama terkenal. Kedua naskah itu bersifat ortodoks dan mistik, sekaligus mencerminkan mistisisme Islam dan tasawuf yang berkembang saat itu. Dan kelak Islam di Indonesia dipenuhi bid’ah dan khurafat yang pada masa selanjutnya mendorong munculnya gerakan pembaharuan sepanjang abad XIX dan XX.

Dalam historiografi Indonesia, teori klasik penyebaran Islam menjadi satu monoversi yang sulit dibantah. Hal itu bercampur aduk dengan bias politik kekuasaan Orde Baru yang mengintervensi penulisan sejarah. Semisal, kasus pelarangan buku Slamet Muljana yang pernah mengajukan versi bahwa Tionghoa adalah penyebar Islam.

Menurut Muljana, Islam Nusantara, dan di Jawa khususnya, bukanlah Islam “murni” dari Arab, melainkan Islam campuran yang memiliki banyak varian. Dalam bukunya, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara Muljana menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, menurut Muljana, adalah Toh A Bo, putra dari Tung Ka Lo, alias Sultan Trenggana.

Pelarangan versi Slamet Muljana oleh pemerintah Orde Baru didasari pengkaitan Cina dalam peristiwa Gestok 1965. Semua hal yang berbau Tionghoa dilarang saat itu, sehingga “haram” hukumnya mengaitkan Tionghoa ke dalam sejarah Islam Nusantara.

Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina Islam Jawa juga menggugat teori klasik penyebaran Islam. Sumanto menemukan fakta bahwa nama tokoh yang menjadi agen sejarah Islam merupakan transliterasi dari nama Cina ke nama Jawa. Semisal dalam nama Bong Ping Nang misalnya, kemudian terkenal dengan nama Bonang.

Raden Fatah yang punya julukan pangeran Jin Bun, dalam bahasa Cina berarti “yang gagah”. Raden Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata “sa-it” (sa = 3, dan it = 1; maksudnya 31) sebagai peringatan waktu kelahirannya di masa ayahnya berusia 31 tahun. Tentu buku yang ditulis Sumanto tidak dilarang, karena buku ini terbit setelah Orde Baru tumbang. Namun sejauh mana masyarakat menerima versi ini, belum kelihatan secara jelas.(*)

historia.id

Ketua NU dan Muhammadiyah Yakin Indonesia Tak Akan Bubar di 2030

Ketua NU dan Muhammadiyah Yakin Indonesia Tak Akan Bubar di 2030
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir optimistis negara Indonesia akan tetap utuh karena masih berpegang teguh pada ajaran agama dan Pancasila. Menurut Haedar, Indonesia akan tetap mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa sehingga tidak akan bubar atau terpecah. 

"Kita harus punya optimisme bahwa Indonesia itu akan tetap utuh. Sampai kapan pun itu dan Allah merahmati kita, kenapa? Karena bangsa ini bangsa yang beriman," ucap Haedar di Kantor Pusat PBNU, Jumat (23/03/2018)

Haedar menambahkan, masyarakat saat ini harus mewarisi semangat generasi sebelumnya yang bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

"Jadi ini penting bahwa memang ada selalu tantangan-tantangan bangsa. Tetapi kita mewarisi nilai-nilai perjuangan generasi terdahulu sehingga generasi baru tak boleh menyerah pada keadaan. Indonesia akan bertahan," ucapnya. 

Hal serupa diucapkan oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj. Dia yakin Indonesia tidak akan bubar selama rakyatnya beriman kepada Tuhan. "Kami yakin Indonesia akan selamanya tetap ada. dengan syarat bangsa yang beriman, bertakwa dan berbudaya Insya Allah (tidak akan bubar)," ucapnya di tempat yang sama. 

Prediksi soal Indonesia bisa bubar pada 2030 muncul dalam potongan video Pidato Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang belakangan memancing banyak tanggapan, termasuk kritik.

Potongan video itu diunggah oleh akun Twitter dan Facebook resmi milik Partai Gerindra, pada 19 Maret 2018. Dalam pidato itu, Prabowo sempat menyatakan ada sejumlah kajian di luar negeri yang meramalkan Republik Indonesia bubar pada 2030.

"Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar," kata Prabowo dalam pidato tersebut.

tirto.id

NU Yakin Warga Depok Dukung Kang Maman Dampingi Ridwan Kamil di Pilgub Jabar

NU Yakin Warga Depok Dukung Kang Maman Dampingi Ridwan Kamil di Pilgub Jabar
Ketua Tanfidziyah PCNU kota Depok, Raden Salamun Adiningrat meyakini warga di Depok akan mendukung Anggota DPR RI KH Maman Imanulhaq di pilgub Jawa Barat tahun 2018 mendampingi Ridwan Kamil.

“Saya yakin warga NU Depok akan mendukung Kang Maman di Pilgub Jabar,” kata Raden Salamun, Minggu(3/12/2017).

Politikus PKB KH Maman Imanulhaq diketahui pada Sabtu malam ikut menghadiri acara shalawat bersama Pengurus NU Depok di Al Abror, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Puluhan kiai dan ratusan jemaah menyimak lantunan munajat dan salawat dari Ketua Lembaga Dakwah PBNU ini.

Hadir pula dalam acara itu antara lain mantan anggota DPRD Depok, Babai Suhaemi, koordinator Halaqoh Kebangsaan, KH Asnawi Ridwan, Pengurus Ikatan Santri Bahrul Ulum (IKABU) Jabodetabek dan Gerakan Santri Nusantara (GSN).

Sebelumnya, IKABU dan GSN yang mempunyai jaringan di seluruh wilayah di Jabar telah menyatakan
mendukung pasangan Emil -Maman untuk memimpin Jabar 2018-2023.

Seusai acara, Raden Salamun Adiningrat mengatakan dirinya sudah mendengar adanya sokongan dari banyak pihak agar Kang Maman, sapaan akrab Maman Imanulhaq mencalonkan diri sebagai wakil gubernur.

Ia pun berjanji akan mengerahkan seluruh daya untuk memenangkan Kang Maman.

Raden Salamun berharap kelak jika diberi amanat memimpin Jawa Barat, Kang Maman bisa membenahi
Jawa Barat, terutama di bidang keagamaan dan sosial.

“Saya yakin warga NU Depok akan mendukung Kang Maman,” katanya

www.tribunnews.com | Willy Widianto

Ketua Umum PBNU: KH Hasyim Asy'ari Tak Pernah Mengkafirkan Orang

Ketua Umum PBNU: KH Hasyim Asy'ari Tak Pernah Mengkafirkan Orang
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan Masjid KH Hasyim Asy'ari tidak hanya simbol umat Islam di Jakarta saja melainkan seluruh Indonesia.

Penamaan masjid itu sendiri, kata dia merupakan penghormatan untuk salah satu ulama serta pahlawan Nasional.

"Hasyim Asyari merupakan nama besar dalam merebut kemerdekaan dan ikut serta dalam melawan penjajah. Tidak ada ulama besar di dunia yang mempunyai jargon membela tanah air bagian dari iman kepada Allah SWT," kata Said saat tasyakuran Masjid KH Hasyim Asyari, di Jakarta Barat, Senin, 17 April 2017 malam.

Dalam sambutannya, Said juga menegaskan kalau Hasyim Asyari, yang merupakan kakek dari Presiden RI ke -4 Abdurrahman Wahid itu tidak pernah mengkafirkan orang lain. Bahkan, kata dia, Kiai Hasyim Asy'ari merupakan salah satu ulama dengan kecintaan tanah air yang tinggi.

"Kata beliau barang siapa mati saat membela tanah air, maka mati syahid sedangkan siapapun yang membela penjajah Belanda boleh dibunuh. Saya juga memiliki tema besar yaitu Islam Nusantara dimana Islam yang menghormati budaya kearifan lokal kecuali tidak bertentangan dengan syariat Islam," papar dia.

Terkait hal tersebut, Said menegaskan Islam Nusantara pada dasarnya berprinsip moderat.

"Dimana masyarakat yang berilmu dapat membangun, cerdas, toleransi, lahir dari Budi pekerti yang luhur. Sehingga dapat serta mampu membangun Islam yang bermartabat," ujar dia.

Selain itu, Said berharap pendirian masjid tersebut dapat memperkokoh Islam di masyarakat. 

"Mudah-mudahan masjid ini jadi benteng Islam Nusantara dan simbol dalam memperkuat Islam yang modern dan toleran," Said menandaskan.

liputan6.com |

Cara Nahdlatul Ulama Menghadapi Perbedaan

Cara Nahdlatul Ulama Menghadapi Perbedaan
Kiai Bisri Syansuri menggebrak meja.

Tentu saja jemaah terkejut. Belum reda keterkejutan jemaah, Kiai Wahab Chasbullah membalas. Hanya, caranya sedikit berbeda, lebih ekstrem. Ia menggebrak meja memakai kakinya.

Kiai Bisri adalah Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, dan Kiai Wahab adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Mereka tak sedang adu jotos, melainkan berdebat tentang bagaimana hukum Islam memandang drumben. Kiai Bisri merupakan ahli fikih dengan beberapa pandangan yang cenderung konvensional, sedangkan Kiai Wahab adalah ahli usul fikih, atau ilmu tentang sumber-sumber fikih, dengan pendekatan yang acapkali lebih moderat.

Uniknya, begitu perdebatan selesai, kedua kiai karismatik itu malah berebut untuk melayani satu sama lain dalam jamuan makan.

“Kalau debat masalah hukum agama, muka mereka sampai merah. Gebrak-gebrakan meja, lagi. Tapi kalau sudah mendengar azan, mereka akan berhenti dan menuju masjid bersama-sama. Sudah tidak ada masalah,” ujar Abdrurrahman Wahid alias Gus Dur, sebagaimana dikutip oleh Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan dalam Gitu Aja Kok Repot! Ger-geran Gaya Gus Dur.

Kisah antara Kiai Bisri dengan Kiai Wahab itu menunjukkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal biasa di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Tidak hanya satu-dua kali keduanya berbeda pandangan. Contoh lainnya: Kiai Wahab pernah membujuk Kiai Bisri agar NU terlibat dalam Dewan Perwakilan Rakyat Gotong-royong (DPRGR) semasa pemerintahan Presiden Soekarno.

Dalam pandangan Kiai Bisri, keberadaan DPRGR dengan membubarkan Konstituante ialah ghasab, perampasan hak rakyat. Sedangkan menurut Kiai Wahab, untuk tahu apakah DPRGR bermasalah atau tidak, NU harus terlibat lebih dulu.

Ketika dialog telah benar-benar buntu, sebagaimana dikisahkan ulang oleh Akhmad Fikri A.F. dalam Tawashow di Pesantren, Kiai Wahab mengajak Kiai Bisri, yang merupakan saudara iparnya itu, untuk makan gulai kambing ke kediamannya.

“Gulainya memang enak. Saya enggak menyangka kalau masakan sampean bisa melebihi masakan penjual profesional,” kata Kiai Bisri memuji Kiai Wahab. Namun, sebelum Kiai Wahab menanggapi, Kiai Bisri bicara lagi, “Tapi kalau masalah DPRGR itu saya masih belum bisa menerimanya.”

Kiai, dalam dunia pesantren NU, berkedudukan sebagai junjungan. Dawuh kiai adalah segalanya. Dan itulah yang membedakan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dengan organisasi keagamaan yang lain. 

Keadaan itu menjadikan satu individu Nahdiyin bisa mengikuti kiai A dan kiai B sekaligus, sekalipun keduanya punya sikap yang berseberangan. Tidak pernah ada cerita santri Kiai Bisri bersitegang dengan santri Kiai Wahab karena junjungan masing-masing sering berdebat hebat. Karena terbiasa mengalami perbedaan pikiran dan sikap dalam lingkup internal itulah warga NU cenderung mudah menerima keberagaman.

Sahal Mahfudz dalam bukunya Pendidikan Islam, Demokrasi, dan Masyarakat Madani menyatakan bahwa NU ibarat sebuah pesantren besar dan pondok-pondok pesantren adalah NU versi kecil. Artinya, pemikiran NU adalah manifestasi dari pusparagam pemikiran di pesantren-pesantren.

Untuk menjawab permasalahan keagamaan dan perbedaan pendapat di kalangan jemaah Nahdiyin, NU membentuk forum Lajnah Bahtsul Masail. Dan pada salah satu pertemuan forum itulah peristiwa gebrak-gebrakan meja yang melibatkan Kiai Bisri dengan Kiai Wahab terjadi.

Pada prinsipnya, sebagaimana dijelaskan dalam Lajnah Bahtsul Masa’il 1926-1999: Tradisi Intelektual NU, Bahtsul Masail adalah dialog untuk menyelesaikan masalah-masalah yang maudu’iyyah (tematik) dan waqi’iyyah (aktual). Mulai dari persoalan fikih sehari-hari sampai polemik politik berskala nasional, semua dapat dibicarakan.

Diskusi itu mengedepankan semangat perdebatan argumentatif berdasarkan kitab-kitab salafi atau buku-buku fikih. Peserta Bahtsul Masail bebas menyampaikan pandangan atau membantah. Bahkan, peserta juga diberi kebebasan untuk meninjau ulang tinjauan-tinjauan yang ditawarkan oleh pengurus.

Bahtsul Masail tidak hanya difasilitasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pusat. Secara hierarkis, kajian dalam Bahtsul Masail dibahas secara bertahap, mulai dari Majelis Cabang. Jika perkara belum rampung, pembicaraan akan dilanjutkan di tingkat Wilayah. Setelah itu, kalau masih ada ganjalan, barulah ia dirembuk dalam Forum Muktamar Nasional.

Sekalipun secara teoretik hasil Bahtsul Masail PBNU mengikat seluruh jemaah Nahdiyin, praktiknya tidaklah sedemikian kaku. Banyak jemaah Nahdiyin yang punya sikap berseberangan dengan sikap PBNU. Sebab, kesetiaan jemaah kepada kiai yang mereka ikuti jauh lebih kuat ketimbang hubungan mereka dengan PBNU.

Tidak hanya punya cara menyelesaikan perbedaan tafsir keagamaan, NU juga punya cara-caranya sendiri untuk mengatasi persoalan organisasi.

Pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, Agustus 2015 silam, misalnya, kericuhan mewarnai pembahasan tata tertib pemilihan Rais Aam Syuriah (Ketua Umum Dewan Penasehat) PBNU. Perdebatan yang sempat membelah peserta Muktamar jadi dua kubu ini baru mereda setelah Kiai Maimun Zubair dan Kiai Mustofa Bisri turut menenangkan peserta Muktamar.

Dalam politik juga jarang terjadi tegangan serius antar-jemaah Nahdiyin, meski mereka berbeda pendapat. Kiai Said Aqil Siradj, Ketua Umum Dewan Pelaksana PBNU, misalnya, mengimbau jemaah Nahdiyin untuk tidak turut serta dalam demonstrasi 212. Namun, seandainya ada yang hendak menyatakan sikap politik lewat aksi tersebut, ia tak melarang, selama mereka tak mengatasnamakan PBNU.

Hal ini juga terlihat pada perbedaan antara Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa sekaligus tokoh NU, Muhaimin Iskandar, yang mendukung pasangan calon Gubernur Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, dan Nusron Wahid, salah satu Ketua Bidang PBNU, yang merupakan bagian dari tim sukses pasangan Ahok-Djarot Syaiful Hidayat.

Sekalipun Muhaimin dan Nusron kerap terlibat perang komentar di media, umumnya jemaah Nahdiyin tidak ikut baper. Sebab mereka mengerti: perbedaan pandangan tak semestinya membuat orang-orang berhenti jadi saudara dan sahabat, sebagaimana dicontohkan oleh Kiai Wahab dan Kiai Bisri.

tirto.id | Ahmad Khadafi dan Dea Anugrah

Tiga Fakta Langka Seputar Muharam dan Kalender Hijriyah

Hari ini, 1 Muharram, umat Islam memasuki tahun baru 1438 dalam sistem penanggalan Hijriyah. Muharram merupakan salah satu bulan yang istimewa. Keutamaan bulan pertama dalam sistem penanggalan Hijriyah ini, terekam di sejumlah dalil Alquran ataupun hadis.

Surah at-Taubah ayat 36 menyebut Muharram, termasuk empat bulan yang dimuliakan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu."

Ada sejumlah fakta penting yang jarang terungkap di hadapan kita, terkait Muharraam dan penanggalan Hijriyah. Apa sajakah fakta tersebut? Redaksi merangkum beberapa fakta itu sebagai berikut:

Sejak kapan Muharram dikenal sebagai bulan?

Penamaan Muharram, pertama kali muncul sebagai hasil konsensus dari Bangsa Arab ketika itu, di bawah kepemimpinan Kilab bin Murrah, buyut Rasulullah SAW.

Peristiwa tersebut berlangsung pada 412 M atau 150 tahun sebelum risalah kenabian Muhammad SAW turun.

Tradisi yang berlaku di Arab ketika itu, nama-nama bulan ditentukan oleh masing-masing suku. Misalnya, orang arab mengenal beberapa nama bulan misalnya bulan Mu’tamar dan bulan Tajir.

Sedangkan tahunnya mereka mengorelasikannya dengan kejadian-kejadian penting, seperti Tahun Gajah (Aam Fil), saat pasukan gajah Abrahah menyerang Ka’bah.

Setelah konsensus tersebut disepakati, tercetuslah 12 nama bulan Muharram dan seterusnya yang merujuk pada peredaran bulan. Selama setahun terdapat 354 hari dan tiap bulannya ada 29 dan atau 30 hari.

Dinamakan Muharram, karena sepanjang bulan ini, mereka, Bangsa Arab mengharamkan pertikaian dan pertumpahan darah selama sebulan penuh.

Rasulullah SAW Penentu Penanggalan Hijrah bukan Umar RA?

Imam as-Suyuthi dalam as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, mengemukakan fakta mencengangkan tentang siapakah yang pertama kali mempopulerkan penggunaan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan.

Menurut murid ulama bermazhab Hanafi terkenal , Taqiyuddin as-Subki itu, Umar bin Khatab bukanlah sosok yang pertama kali menyerukan penggunaan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai acuan penanggalan.

Akan tetapi, Rasulullah SAW-lah yang paling awal menyerukan penggunaannya. Informasi itu ia peroleh secara langsung dari sang guru, Bulqaini. Riwayat secara lisan itu menyambung hingga Ibnu Syihab az-Zuhri.

Dituturkannya, bahwa, konon Rasulullah pernah memerintahkan penanggalan. Ibnu Asakir membenarkan fakta tersebut. Menurutnya, riwayat inilah yang paling kuat.

Sementara, informasi yang selama ini beredar yang memerintahkan penggunaan momentum hijrah adalah Umar bin Khatab. Fakta itu salah. Ibnu Asakir menukil pernyataan Ibnu Shalah.

Ibnu Shalah yang merupakan pakar hadis itu memperoleh data yang menyatakan fakta bukan umar pertama kali yang menyerukan dari Kitab Fi as-Syuruth, karangan Abu Thahir Ibnu Mahmasy (Az Ziyadi).

Dalam kitab itu disebutkan, bahwa Rasulullah pernah menulis surat ke umat Nasrani di Najran.

Untuk penulisannya, Nabi Saw memerintahkan Ali untuk menuliskan dalam surat tersebut kalimat "Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah". Dengan yakin, As Syuthi menegaskan, penyeru penggunaan hijrah sebagai pedoman penanggalan Islam, bukan Umar bin Khatab.

"Jelas yang pertama Rasulullah, Umar hanya mengikuti," tulisnya. Pendapat ini dikuatkan dengan riwayat lain, misalnya riwayat di Kitab at- Tarikh as-Shaghir, karya imam al-Bukhari.

Bahwa, saat Umar Bin Khatab hendak menetapkan sistem penanggalan, ia mengumpulkan para sahabat dan meminta saran mereka. Ibnu al-Munayyir menyebutkan, peristiwa itu terjadi ketika masa pemerintahannya berjalan dua setengah tahun. Setelah mendapatkan masukan, ia pun memilih pendapat Ali bin Abi Thalib, bahwa acuannya ialah peristiwa hijrah.

Mengapa Tahun Hijriyah dimulai dari Muharram?

Fakta menarik berikutnya adalah, mengapa sistem penanggalan Hijriyah diawali dengan Muharram?

Padahal peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, berlangsung bukan pada Muharram, melainkan Rabi’ul Awwal, tepatnya pada 22 Rabi’ul Awwal (24 September 622 M)?

Muharram dipilih sebagai awal tahun Hijriyah, menurut Imam as-Suyuthi dalam as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, karena sejumlah alasan dan ketetapan ini adalah murni ijtihad Umar bin al-Khatab yang diamini oleh para sahabat.

Alasan pertama, ditetapkan Muharram, karena bulan ini menjadi waktu kembalinya para jamaah haji setelah menjalankan ritual haji.

Di samping itu pula, alasan keduanya adalah, dengan menetapkan Muharram, lebih memudahkan urutan tiga bulan terlarang (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) dalam urutan yang saling berdampingan.

Sementara alasan yang kedua, Hijrah memang berlangsung pada Rabi’ul Awwal, tapi embrio peristiwa bersejarah itu, sudah muncul dan berlangsung sejak Muharram, sehingga, saling melengkapi esensi dan substansi Hijrah.*

Peziarah Haji, Kisah Mereka Di Masa Lalu

Peziarah Haji, Kisah Mereka Di Masa Lalu
Perjalanan menantang, dalam misi menegakkan pilar Islam kelima dan terakhir...

Seiring waktu kita telah kehilangan begitu banyak tradisi yang indah dari Islam. Salah satunya adalah rombongan karavan peziarah haji, yang menjadi pemandangan sehari-hari di daratan semenanjung Arabia di masa lalu. Karavan ini adalah kelompok orang yang melakukan perjalanan jauh bersama-sama dan bertemu dengan kafilah yang lebih besar, dan dari sana mereka bergabung dalam perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan haji.

Jalur darat yang paling banyak diceritakan adalah dari Kairo dan dari Damaskus. Ada banyak kisah menarik tentang para peziarah haji dan perjalanan mereka. Seperti perjalanan Ibn Battuta, kisah perjalanan haji dengan kereta api, bahkan kisah mereka di atas kapal uap di awal abad ke-20. Namun dari semua kisah perjalanan ziarah haji, tantangan dan bahaya lebih banyak terjadi di masa lalu di abad ke 13, sebagai bukti keteguhan hati dan keikhlasan mereka.

Dalam sebuah perjalanan panjang ditengah gurun pasir yang terik. Sekelompok karavan bergerak perlahan melawan angin. Mereka adalah para peziarah haji yang melewatkan siang malam diatas pelana unta sementara lainnya mengikuti dengan berjalan kaki.

Kala malam tiba, dibawah langit tanpa cahaya, mereka terus melangkah mengikuti bayangan rekan-rekan mereka yang berada di barisan depan. Kusir dan penumpangnya sesekali memejam mata menikmati kantuk kemudian tersentak bangun, dan kembali terpejam. Di tengah gelapnya malam mereka melepas lelah, sambil melihat dari kejauhan tampak kereta-kereta berjalan pelan seperti menyapu permukaan gurun dengan goyangan lentera, suara samar rebana, ringkikan kuda dan unta.

Tak berapa lama, langit di timur sedikit lebih terang, menandai datangnya pagi. Rombongan kafilah kembali bersiap melangkahkan kaki di tengah hamparan pasir yang berkerikil. Saatnya matahari mulai naik memberi sedikit sengatan di kulit. Unta berdeguk, kuda pun meringkik, menolak keras untuk berdiri. Mereka sama lelahnya seperti tuan-tuan yang menunggangi mereka dan yang berjalan kaki. Namun, tanpa emosi semua kembali berjalan diatas komando yang diteriakan pemimpin rombongan kafilah.

Saat pertama kali mereka melihat satu titik kecil dalam jangkauan mata, mereka menatap dengan semangat, meskipun kembali menghilang diantara batas langit dan permukaan pasir. Dorongan semangat itu membuat kafilah berupaya menaiki Jabal Nur, sebuah bukit kecil untuk memastikan arah tujuan. Mereka mendaki lereng bukit, dan berhenti di puncak untuk memastikan titik hitam adalah ujung perjalanan mereka.

Tak jauh dari bukit tempat kafilah berdiri, ter-hampar di depan mereka Lembah Ibrahim. Tampak bangunan rumah-rumah berdinding putih, sebuah kota di tengah dataran kecil yang hijau, itulah Mekkah. Seketika tatapan mata mereka dipenuhi emosi, kerinduan yang tersimpan dalam hati, sepanjang perjalanan berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya.

Sebuah realisasi dari pengerahan tenaga yang luar biasa dari rombongan peziarah ke kota suci itu, akhirnya menemukan tujuannya, yakni Baitullah.

Perjalanan, Waktu dan Keimanan 

Selama berabad-abad, jejak kaki kuda, unta, para peziarah, dan teriakan kafilah terekam di setiap sisi lembah, di desa-desa dan masjid.

Mulai dari pantai Atlantik Afrika dan Semenanjung Iberia (di ujung barat daya Eropa, meliputi Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar dan sebagian Perancis) sampai pantai Pasifik. Dari kawasan Cina, dari Zanzibar di Selatan ke Kaukasus hingga sisi utara Asia Tengah. Jejak jejak itu bahkan melewati sudut desa-desa di kawasan paling terpencil dunia Islam.

Setiap peziarah haji telah melewatinya dan menyimpan memori yang begitu nyata, dalam balutan keimanan.

Setiap umat muslim bisa segera memahami bahwa dalam jaringan yang luas dari ibadah haji, mereka tidak pernah benar-benar merasa asing dengan sesama muslim dari berbagai negeri. Dendangan musiknya, gaya berpakaiannya dan aksen bahasanya bisa berbeda-beda antara mereka di Tangier dan di Delhi atau antara di Samarkand dan di Mekkah.

Tetapi kalender, etiket dan banyak lagi perilaku umat muslim selalu identik dan semuanya hampir serupa.

Di mana-mana umat muslim shalat lima kali di waktu yang sama setiap hari, menghadap ke kiblat. Di mana pun itu, mereka berpuasa bersama-sama selama Ramadhan. Mereka juga bergabung dengan jamaah lain untuk menyembelih hewan qurban di akhir ritual haji. Di mana saja mereka mengamalkan kebaikan dan mengambil hikmah dari Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. < selanjutnya >

*Ditulis oleh Erwin E Ananto.

Peziarah Haji, Kisah Mereka Di Masa Lalu (2)

Peziarah Haji, Kisah Mereka Di Masa Lalu (2)
Sepanjang awal abad ke13, umat muslim sama sekali tidak memerlukan tiket pesawat untuk berziarah haji.

Perjalanan haji masa lalu adalah maraton yang sangat panjang di tengah medan yang tak mengenal ampun, dan ziarah itu bisa memakan waktu puluhan tahun bila seseorang harus berhenti dalam perjalanan untuk bekerja dan menyimpan sebelum berangkat melanjutkan perjalanan kembali.

Bahkan perjalanan darat sering 'dikotori' dan 'rusak' oleh para perampok, serangan penyakit, kekurangan air atau tersesat dan hilang. Dan setiap peziarah yang berlayar di lautan pun mengetahui bahwa laut telah menelan banyak kapal layar beserta para penumpangnya. Juga risiko sering dikenakan pungutan pajak kepada peziarah untuk membatasi mereka, tapi ini tidak sedikit pun membuat surut arus kedatangan para peziarah haji di masa itu.

Keteguhan iman para peziarah haji dalam perjalanan itu mengalahkan kemampuan pasukan kerajaan yang bertahan dalam situasi perang, kelaparan dan serangan wabah penyakit. Kisah perjalanan ziarah haji masa lalu itu, selalu menginspirasi umat muslim selama berabad-abad dan memberi gambaran nyata atas pengorbanan dan keikhlasan, juga keimanan, dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.

Kisah para peziarah, kafilah dari berbagai rute itu menjadi perekat yang menyatukan seluruh peradaban Islam di semua jaman. Semuanya makin mempertegas bahwa perjalanan ke tanah suci bukan sekadar destinasi wisata.

Tahun-tahun terakhir,
jamaah haji datang dengan cara yang sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat masif. Hanya diperlukan selama 75 tahun untuk merealisasi perjalanan dengan kapal uap, kereta api, bus serta pesawat. Setelah semua itu tersedia, maka rute-rute darat yang telah bertahan selama hampir 13 abad itu, menjadi tampak usang.

Pada akhir abad ke-19, terutama setelah dibukanya Terusan Suez, terjadi peningkat-an jumlah peziarah yang menuju Mekkah dengan kapal laut yang berlabuh di dermaga di Jeddah. Tidak hanya orang Mesir yang turun ke laut, tapi dari Suriah dan Anatolia pun berlayar dari Beirut melalui kanal-kanal, dan jumlahnya terus bertambah dari India serta Indonesia yang tiba dari Samudera Hindia.

Tahun 1908 pembukaan Hijaz Railway dari Damaskus ke Jeddah menjadi awal hilang-nya tradisi perjalanan kafilah Damaskus. Setelah Perang Dunia II, rute ke Mekkah itu ditandai semakin banyak melalui udara. Tahun 1990, sebesar 95 persen jamaah haji dari luar Saudi (dan banyak orang-orang Arab) tiba dengan pesawat terbang. Hanya beberapa gelintir peziarah yang lewat jalur darat, sebagian besar dari negara-negara Timur Tengah yang berbatasan Arab Saudi, mereka meluncur di jalan raya dengan bus ber-AC berkecepatan tinggi.

Dan itu menjadi akhir dari abad 'kelompok kafilah' yang penuh pengorbanan, usaha keras, kesabaran dan keimanan, yang menjadi ujian bagi para peziarah haji dalam menjelajah ke negeri-negeri yang tidak dikenalnya. Sarat dengan tantangan dan bahaya di tengah gurun. Namun di atas pelana unta itu, mereka memiliki keyakinan untuk memenuhi 'undangan' Allah Ta'ala.

< sebelumnya  | selanjutnya >

* Ditulis oleh Erwin E Ananto

Peziarah Haji dari Nusantara Masa Silam

Peziarah Haji dari Nusantara Masa Silam
Ratusan ribu bahkan jutaan muslim asal Indonesia, hingga hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai tamu Allah, untuk melaksanakan ibadah haji.

Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok dunia, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya.

Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan, dan sebagainya.

Di sana tidak ada lagi diskripsi yang bersifat material, oleh karena itu perbedaan golongan, ras, ekonomi, pangkat, bangsa ataupun status sosial hanya merupakan suatu pertunjukan 'panggung' secara komunal dalam kebersamaan antar umat manusia. Pemegang peran dalam panggung ini adalah masing-masing jamaah pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama di mata Allah.

Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual haji ini, adalah pada 9 Dzulhijjah, saat mereka melakukan wuquf di Arafah. Tanpa wuquf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah ibadah hajinya. Sebagaimana Rasulullah menegaskan dalam sabdanya :

"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"


Sejak ratusan tahun umat muslim dari Indonesia telah banyak yang berangkat ziarah ke tanah suci Mekkah. Di masa, ketika masih menggunakan kapal layar hingga kini dengan pesawat terbang, niat umat muslim tanah air untuk pergi ke tanah suci tak pernah memudar.

Di dalam sebuah ceramahnya, Buya Hamka menyampaikan kisah tentang pelaksanaan haji umat muslim nusantara di masa lalu. Ia katakan bahwa sekitar tahun 1927 itu, sewa kapal layar seharga 165 rupiah pulang pergi. Meskipun di saat itu nilai 165 rupiah sudah mahal, tetapi umat muslim berbondong-bondong berangkat ke tanah suci.

Pada tahun 1950, di bulan Agustus, dikatakan harga sewa kapal laut sudah naik menjadi tujuh ribu rupiah, dan seterusnya naik menjadi sebesar 1,5 juta dan seterusnya.  Dari tahun ke tahun belum pernah harga sewa transportasi hingga hari ini turun, tetapi jumlah jamaah yang pergi ke Tanah Suci, tak pernah surut. Tahun 2015 lalu, tercatat hingga 150 ribu jamaah telah berangkat melaksanakan haji (belum terhitung yang pergi umrah).

Hamka mengatakan, ini adalah sebuah fakta betapa mustajab do'a Ibrahim AS kepada Allah Ta'ala agar Ka'bah (yang dibangunnya) itu menjadi 'magnet' yang menarik hati umat muslim di seluruh bumi untuk datang ke 'tanah yang suci', Mekkah al Mukaromah.

< sebelumnya  | selanjutnya >

* Ditulis oleh Erwin E Ananto

Bolehkah Mengucap Selamat Tahun Baru Masehi?

Bolehkah Mengucap Selamat Tahun Baru Masehi?
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.

Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi.

Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. 


(Simak : Kajian Ilmiah Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW)

Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.

Lantas, bagaimana hukumnya mengucap selamat tahun baru? Mengingat tidak ada anjuran untuk perayaan pergantian tahun dalam Islam, mengucapkan ucapan tersebut bukan sebuah masalah.

Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi. Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu.

Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.

Kebiasaan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru (bid’ah). Perihal ini sudah ada sejak dulu kala. Orang dulu juga terbiasa menyapa koleganya dengan “Selamat Tahun Baru” menjelang tahun baru datang. Meskipun tak dipungkiri, sebagian orang menafikan kebolehannya dan mengategorikannya sebagai perbuatan terlarang.

Terkait permasalahan ini, Imam As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa menuturkan sebagai berikut.

أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة


Al-Hafidz Abu Hasan al-Maqdisi ditanya tentang hukum mengucapkan “Selamat  bulan baru dan tahun baru”, apakah bid’ah atau tidak? Ia menjawab, “Banyak orang berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut pendapat saya, hukumnya adalah mubah, tidak termasuk sunah ataupun bid’ah.”

Memberi ucapan selamat tahun baru terbilang masalah khilafiyah. Hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama. Karenanya, dibutuhkan kearifan dalam menyikapinya. Menurut Abu Hasan al-Maqdisi, seperti yang dinukil as-Suyuthi, hukumnya ialah mubah. Ia tidak termasuk perbuatan yang disunahkan dan tidak pula bid’ah.

Siapapun diperbolehkan mengucapakan kalimat ini. Terlebih lagi, bila ucapan tersebut dapat menambah keakraban di antara masyarakat. Orang yang sudah sekian lama tidak bertegur sapa, bisa jadi dengan adanya momen tahun baru, ucapan selamat bisa menjadi media baginya untuk berkomunikasi kembali. Wallahu a’lam.


jumrahonline | jumrah.com

Tanya-Jawab Ilmiah Sekitar Perayaan Maulid Nabi

Dalam diskursus perayaan maulid Nabi banyak dari kalangan ikhwan yang masih belum tahu mengenai sumber dalil yang mendasari bahwa maulid memang pekerjaan yang sesuai syariat. Sehingga perlu adanya kita menghadirkan dalil-dalil ilmiah dengan konsep tanya-jawab seputar maulid.

Tanya    : Apakah maulid itu?

Jawab   : Maulid diambil dari kata bahasa Arab walada-yalidu yang bermakna kelahiran, yaitu kelahiran baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun dalam pelaksanaannya, maulid merupakan kegiatan keagamaan yang mengadung esensi pesan ayat suci al-Qur'an, disertakan kisah-kisah seputar kehidupan Nabi Muhammad, dan di dalamnya terdapat pujian dan shalawat dalam bentuk syair. Di akhir acara, terkadang sebagian orang bersedekah makanan untuk sesama.

Tanya    : Siapakah orang yang pertama kali merayakan maulid?

Jawab   : Yang merayakan maulid pertama kali adalah penguasa Kota Irbil, Mudzoffar Abu Said Kaukabari bin Zainuddin, seorang raja terpuji dan pembesar yang dermawan. Ibnu Katsir pernah berkomentar tentangnya: "Beliau melaksanakan maulid pada Rabiul Awal dan memperingatinya dengan meriah. Ia sosok yang santun, pemberani, cerdik, dan adil. Semoga Allah merahmati beliau. (Hawi lil Fatawi, halaman 292)

Tanya : Apa pandangan ulama mengenai maulid Nabi?


Jawab : Imam Jalaluddin As-Suyuthi ketika ditanya perihal maulid beliau menjawab secara eksplisit dengan sebuah karya kitab yang diberi nama Husnul Maqshad fi Amalil Maulid. Menurut beliau, "Hukum asal maulid Nabi yang mana di dalamnya terdapat orang yang membaca ayat suci al-Qur’an dan hadits Nabi tentang pengarai Rasulullah, begitu juga ayat yang ada hubungan dengan kisah kenabiannya. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah, lalu bubar tidak lebih dari itu. Maka, itu adalah bid'ah hasanah dan pelakunya mendapat pahala.” (Husnul Maqshad, halaman 251-252).

Imam Suyuti juga berkata bahwa suatu ketika Imam Ibnu Hajar ditanya tentang maulid, beliau menjawab, “Asal muasal amalan maulid (seperti yang ada saat ini) adalah bid'ah, dan tidak pernah dinukil dari para salafus shalih, bersamaan dengan hal tersebut terdapat amalan yang baik di dalamnya dan menjauhi amalan yang buruk. Maka barangsiapa yang berusaha mengamalkan (yang baik di dalamnya) dan menjauhi sebaliknya maka amalan ini hukumnya bid'ah hasanah, dan tidak begitu jika sebaliknya. (Hawi lil Fatawi, halaman 282). Dari dua komentar di atas jelas bahwa merayakan maulid itu boleh selama tidak ada kemungkaran di dalamnya.

Ibnu Taimiah berpendapat, memulyakan hari kelahiran dan menjadikannya sebagai ritual musiman telah dikerjakan oleh sebagian orang. dan menjadikannya mendapat pahala yang sangat agung karena bagusnya tujuan dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam (Sirah Halabiah Juz I, halaman 84-85).

Sayyid Zaini Dahlan mengatakan, merasa senang pada hari kelahiran Nabi termasuk sebagian cara penghormatan kepada beliau (Addurarus Saniyah, halaman 190).

Tanya : Adakah ulama yang mengarang kitab tetang kebolehan maulid?

Jawab : Tentu saja, berikut di antara nama-nama ulama beserta karyanya:

1. Husnul Maqshad fi Amalil Maulid (imam jalaluddin As7Suyuthi)
2. Khulashatul Kalam fi Ihtifal bi Maulidi Khairil Anam (Syekh Abdulloh bin Syekh Abubakar bin Salim)
3. Ihtifal bil Maulid (DR. Said Ramadhon Buthi)
4. Haulal Ihtifal bil Maulid Nabawi (Prof DR muhammad bin alwi almaliki)
5. Ihtifal bil Maulid Bainal Muayyidin wal Muaridlin (Abil Hasanain Abdulloh al-Husaini al-Makky), dan lain-lain.

Sementara ulama ahli Hadits yang merangkum sejarah Nabi dalam bentuk maulid sangat banyak, di antaranya:

1. Al-Hafidz Abil Fida' ibn Katsir (774 H; maulidnya ditahqiq DR. Sholahuddim Munjid)
2. Al-Hafidz Abil Fadhl Abdurrahim Al-Kurdi (806 H)
3. Al-Hafidz Abul Khair Muhammad As-Sakhowi (902 H)
4. Al-Hafidz abdurrohman ali assyibani (994 H; maulidnya yang ditahqiq Sayyid Muhammad al-Maliki)
5. Al-Hafidz Mula Ali Al Qori (104H; Mauridurrawi fi Maulid Nabawi)
6. Al-Hafidz Muhammad bin Abu Bakar al-Qisi (842 H; Jamiul Atsar fi Maulidil Mukhtar)
7. Al-Hafidz Al-Iraqi (808 H; Mauridul Hani fi Maulid Assunni), dan masih banyak ulama lainnya.

Tanya    : Apakah dalil kebolehan Maulid?

Jawab   : Sebelumnya kita perlu melihat interpretasi maulid itu sendiri. Kalau kita mau tahu hukumnya, kita lihat apa pekerjaannya (karena hukum diberlakukan untuk perbuatan (af’alul mukallafin, Red). Adapun pekerjaan dalam maulid di antaranya adalah membaca ayat suci al-Quran, membaca sejarah Nabi, mahallul qiyam, i'tikaf di masjid, membaca syair di masjid, doa mendekatkan diri kepada Allah, dzikir berjamaah, taushiyah dan nasihat, menghidupkan syiar Islam, dan sedekah. Beberapa hal yang disebutkan di atas para ulama sepakat mengenai kebolehannya, mungkin sebagian orang kurang percaya mengenai dalil kebolehan dua hal yaitu mahallul qiyam dan menbaca syair pujian. Sebenarnya bagaimana hukumnya?

Tanya    : Mengapa kita pada hari kelahiran nabi harus senang, apakah mendapatkan pahala?

Jawab   : Ungkapan rasa bahagia di saat kelahiran baginda Nabi adalah wujud rasa syukur kepada Allah sebab dengan lahirnya beliau agama Islam ini ada. dan agama Islam sampai di tangan kita semua. Dikisahkan seorang wanita yang bernadzar ingin menabuh rebana di dekat Nabi, bahkan di dekat kepala beliau jika Nabi datang dalam keadaan selamat. Maka, apa jawaban Nabi "Laksanakan nadzarmu!”

Bukankah kita semua tau tidak boleh bernadzar dalam perkara yang mubah dalam fiqh, dan tidak ada yang lebih mulia dari kepala Nabi Muhammad di alam semesta ini. Tetapi dalam kenyataannya Nabi memperbolehkan. Mengapa begitu? Karena nabi mengetahui bahwa hal ini dibarengi dengan perasaan senang, cinta dan takdhim kepada beliau.

Abu Lahab, orang yang sangat kejam terhadap Nabi, diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa setiap hari Senin ia diringankan dari siksa neraka karena di saat nabi lahir Abu Lahab bergembira. Ia bahkan memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai ungkapan kebahagiaan atas kelahiran ponakannya. Dalam hal ini Imam Al-Hafidz Syamsyuddin Muhammad Nasirruddin Addimsyiqi bersenandung:

ذا كان هذا كافرا جاء ذمه ¤ وتبت يداه في الجحيم مخلدا

اتى انه في يوم الاثنين دائما  ¤ يخفف عنه للسرور بأحمد
فما الظن بالعبد الذي كان عمره ¤ باحمد مسرورا ومات موحدا


"Jika orang seperti Abu Lahab saja yang jelas-jelas jahat dan disiksa di neraka setiap hari Senin diringankan siksanya sebab ia bergembira dengan lahirnya Nabi Muhammad maka apalagi jika yang bergembira seorang muslim yang sepanjang hidupnya bergembira atas lahirnya Nabi Muhammad dan wafat dalam keadaan Islam."

Tanya    : Apakah landasan hukum mahallul qiyam?

Jawab   : Mahallul qiyam jika kita artikan ke dalam bahasa Indonesia bermakna tempat kita berdiri. Yakni, sikap berdiri untuk menunjukkan ekspresi kebahagiaan dan dan penghormatan atas lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang menganggap tidak boleh berdiri untuk memuliakan orang lain. Namun dalam hadits sendiri, Rasulullah memerintahkan sahabat Anshor untuk berdiri saat kedatangan pemimpin mereka. Nabi berkata: لسيدكم قوموا (berdirilah atas kedatangan pemimpin kalian!)

Sementara ulama menjelaskan apa kandungan mahallul qiyam di antaranya dalam sebuah syair:

وقد سن أهل العلم والفضل والتقى ¤ قياما على الأقدام مع حسن الامعان

بتشخيص ذات المصطفى وهو حاضر بأي مقام فيه يذكر بل دان


"Para ulama memulai pekerjaan ini (mahallul qiyam) dengan meresapi kisah beliau (Nabi) dan membayangkan sosoknya yang agung bahkan dan tidak hanya dalam hal ini namun dalam segala kondisi"

Contoh lain hadits dari Sayyidatina Fatimah Azzahra, putri Nabi yang berdiri jika Nabi hadir; Rasulullah pun begitu saat Fatimah hadir. Dalam Sunan Abi Dawud (5217) disampaikan: "Sayyidatina Fatimah saat masuk menghadap Nabi, maka beliau (Nabi) berdiri dan mencium Fatimah lalu mempersilakan duduk di tempatnya. Begitu pun Rasulullah saat masuk ke hadapan Fatimah maka Fatimah berdiri dari tempat duduknya lalu Nabi menciumnya dan Fatimah mempersilakan Nabi duduk di tempatnya."

Pada praktiknya saat kita berdiri yang kita lakukan adalah memuji, bershalawat, bersyukur atas anugerah Allah yang menghadirkan keistimewaan dari kehadiran kekasihnya, Nabi Muhammad. Allah subhanahu wata'ala menyuruh kita berdzikir kapan saja di mana saja dan kondisi apa saja:


 اذْكُرُوا اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُم

Bahkan ulama juga angkat bicara mengenai kebolehan mahallul qiyam dan secara detail dijelaskan dalam satu kitab khusus yang bernama Attarkhis bil Qiyam li Dzawil Fadhl wal Maziyyah min Ahlil Islam yang dikarang oleh Al Imam Nawawi.

Tanya    : Apakah Nabi memperbolehkan sahabat memuji beliau?

Jawab   : Tentu saja Nabi memperbolehkan. Coba kita telisik kitab Al-Isti'ab fi Ma'rifatil Ashab tentang hadits Kharim bin Aus bin Haritsah yang mana ia berkata: "Aku berhijrah kepada Rasulullah selepas dari Perang Tabuk dan aku memutuskan untuk masuk Islam, lalu aku mendengar Abbas bin Abdul Mutholib berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin memujimu.’ Nabi menjawab, ‘Katakanlah, tidak akan pecah gigimu’.” Lalu Abbas mengutarakan syair pujian:

من قبلها طبت في الظلال وفي ¤ مستودع حين يخصف الورق
ثم هبطت البلاد لا بشر ¤ أنت ولا مضغت ولا علق

(Dan setiap orang yang didoakan Nabi seperti kepada abbas giginya awet sampai tua)

Tanya    : Adakah bukti lain sahabat memuji Nabi?


Jawab   : Berikut nama beberapa sahabat beserta syairnya yang dalam sejarah pernah memuji Nabi, di antaranya:

1. Ka'ab bin Zuhair bin Abi Sulma

بأنت سعاد فقلبي اليوم متبول ¤ متيم إثرها لم يجز مكبول

2. Hasan bin Tsabit

شق له من اسمه كي يجله ¤ فذوا العرش محمود وهذا محمد

3. Bujair bin Zuhair al-Muzani

أتانا نبي بعد يأس وفترة ¤ من الله والأوثان في الأرض تعبد

4. Abbas bin Madras

وأنت لما ولدت اشرقت الــ ¤  أرض وضائت بنورك الأفق

5. Nabigha Al Ja'di

ونحن أناس لا نعود خيلنا ¤ إذا ما التقينا ان تحيد وتنفرا


Tanya    : Tolong disebutkan siapa ulama yang juga memuji Rasulullah?

Jawab   : Ulama juga tak ingin ketinggalan dalam menggapai cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka ramai-ramai mengarang syair pujian. Akan saya sebutkan beserta penggalan syairnya, seperti:

Al-Imam al-Hafidz ibn Daqiq berkata:

شرف المصطفى رفيع عماده ¤ ليس يحصى بكثرة تعداد

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar al Atsqalani berkata dalam syairnya:

يا سعد لو كنت إمرأ مسعودا ¤ ما كان صبري فى النوى مفقودا

Al-Imam Aminus Syuara' Ahmad Syauqi berkata:

ولد الهدى فاكائنات ضياء ¤  وفم الزمان تبسم

Tanya    : Kenapa banyak orang melakukan maulidan pada hari Kamis dan bulan Robiul Awal?

Jawab   : Sebenarnya melaksanakan maulid boleh kapan saja, adapun maulidan di hari Jumat sebab berlandasan kepada hadits Nabi:

اكثروا الصلاة عليّ يوم الجمعة وليلة الجمعة فمن صلى علي صلاة صلى الله عليه عشرا

سنن البيهقي ٥٤٩٠

“Perbanyaklah shalawat atasku di hari Jumat dan malam jumat, dan barangsiapa bershalawat sekali maka Allah akan bershalawat atasnya 10 kali."

Mengenai perayaan di bulan Rabiul Awal maka ada baiknya kita lihat sejarah. Ketika seseorang berpuasa asyura mereka berpuasa atas keberhasilan Nabi Musa, dan ketika hari raya Idul Adha kita berkorban mengenang jasa Nabi Ismail, dan saat Rabiul Awal kita memperingati lahirnya Nabi Muhammad shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda:

قال شارح البخاري شهاب الدين القصطلاني

فرحم الله امرء اتخد ليالي شهر مولده المبارك اعيادا ليكون اشد علة على من في قلبه مرض

"Maka Allah mengasihani seseorang yang menjadikan hari kelahirannya sebagai hari raya (untuk mensyukuri) agar menjadi penyakit yang parah bagi orang yang di hatinya terdapat penyakit."

Kelahiran Nabi Muhammad merupakam kelahiran yang istimewa karena pada bulan ini tidak ada perayaan lain selain kelahirannya. Sementara kalau kita lihat bulan lain terdapat banyak keistimewaannya. Oleh karena itu ini menunjukkan bahwa keagungannya secara istiqlaliyah atau terkhusus kepada beliau saja.

Dari beberapa pertanyaan di atas kita bisa simpulkan bahwa maulid Nabi bukanlah hal yang dilarang agama. Karena maulid Nabi adalah ungkapan kita dan bentuk syukur kita dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ditulis oleh Moh Nasirul Haq, Santri Rubat Syafi'ie Mukalla Yaman | www.nu.or.id