'Sentil' HTI, Quraish Shihab: Yang Realistis Saja

'Sentil' HTI, Quraish Shihab: Yang Realistis Saja
Pakar tafsir Alquran sekaligus pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ) Prof Quraish Shihab menyarankan agar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bersikap realistis terkait pendirian khilafah di Indonesia.

Quraish menegaskan, fakta sejarah membuktikan tidak pernah mendukung pendirian khilafah tunggal. Dia menunjuk bagimana kepemimpinan tunggal tersebut tidak ada dalam sejarah. Upaya untuk menyatukan kepemimpinan tersebut selalu gagal. Lihatlah bagaimana Jamaluddin al-Afghani dengan ide Pan Islamismenya yang gagal, Organisasi Kerjama Islam yang tak kompak, dan Liga Arab yang sulit bersatu.

“Mereka bertenggkar nggak? Kenyataan sejarah tidak memungkinkan, yang realistis lah,” kata dia dalam  diskusi bertajuk “Dari Ideologi Khilafah Menuju Manusia yang Khalifah” yang digelar PSQ di Jakarta, Kamis (20/12).

Quraish meminta  HTI tak muluk-muluk dan agar lebih memilih menjaga dan merawat warisan para pendiri bangsa karena sejatinya itulah inti dari tugas seorang khalifah.

Dia lantas menjelaskan akar kata khalifah dan penggunaannya dalam Alquran. Dalam Alquran, kata khalifah punya dua bentuk jamak yaitu yang pertama pertama khalaif dan kedua khulafa’a.

Kata khalifah dalam surah al-Baqarah jamaknya khalaif. Makna dari khalifah yang pertama di sini adalah bahwa Allah menugaskan tiap cucu anak Adam sebagai khalifah di muka bumi untuk memelihara segala yang ada di sana. Kemudian juga melakukan fungsi ishlah mengantarkan segala apa yang ada di bum menuju tujuan penciptaannya.

Dia menganalogikan, tugas manusia menjaga kursi agar bisa dipakai, mengantar baju supaya bisa digunakan,  dan jika tidak dipakai akan digunakan orang lain. “Kita wajib sebagai Khalifah makan sesuai kebutuhan jangan berlebih sehingga dibuang. Perjuangin itu dulu deh,” kata dia.

Sedangkan kata khalifah yang kedua dalam surah Shad ayat 26, konteksnya adalah pendekatan hukum. Penegakkan hukum itu tidak wajib bagi setiap orang.

Dalam konteks bernegara, kewajiban penegakkan hukum tersebut ada di otoritas pemerintah. Makanya, jamak dari kata khalifah di sini adalah khulafa’ sebagaimana penyebutan empat khalifah setelah Rasulullah SAW wafat. 

“Perkuat dulu diri Anda, mari perkuat Indonesia. Berjuang yang bisa sebabkan perpecahan tidak dibenarkan,” tutur dia.

republika.co.id | Nashih Nashrullah

Orang yang Menyiarkan Ujaran Kebencian Bukan Ulama

Orang yang Menyiarkan Ujaran Kebencian Bukan Ulama
Sehingga terkadang seseorang yang disebut ulama merupakan orang yang kesehariannya tak mencerminkan sifat keulamaan yakni yang memiliki pengetahuan yang luas dan akhlaq yang terpuji. Akibatnya, masyarakat kerap dibuat bingung sehingga salah memilih panutan orang yang mengaku ulama, padahal dia kerap melontarkan ujaran kebencian. 

Pendapat itu dikemukakan oleh ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Prof Ahmad Satori Ismail. Menurutnya seorang ulama adalah dia yang mewarisi keilmuan dan akhlaq dari Nabi Muhammad SAW, bukan dia yang mengajarkan ujaran kebencian. 

“Ulama adalah orang-orang yang dalam ucapannya selalu baik, dalam berperilaku juga baik, yang tentunya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Mereka mengambil contoh kehidupan dari Nabi, bukan malah berbicara menjelek-jelekkan,” katanya di Jakarta, Senin (10/12).  

Sebagai pewaris Nabi, para ulama memiliki tanggung jawab untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dari berbagai macam masalah. Namun ia mengakui beberapa orang yang dijuluki ulama justru mengajarkan kebencian antara satu dengan yang lain. 

Sejatinya, ulama telah memainkan peran penting dalam kehidupan berbangsa sejak jaman dulu. Selain menjadi rujukan keilmuan sebagai seorang pengajar di berbagai lembaga pendidikan, para ulama juga berperan sebagai perekat persatuan di antara perbedaan. Pada zaman sebelum kemerdekaan, peran ulama juga tak kalah besarnya dengan terlibat langsung pada proses perjuangan dan upaya merebut kemerdekaan Indonesia. 

 “Ulama itu tidak hanya sekedar mengajarkan agama saja, tapi ulama juga sebagai contoh dan merupakan guru bagi masyarakat karena ulama juga mampu mempererat persatuan bangsa. Dan ulama itu tentunya juga bisa menyatukan umat, bukan memecah belah,” katanya. 

www.nu.or.id | Ahmad Rozali

Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo

Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo
Namun pada saat akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15, hampir semua masyarakat di pesisir pantai utara Jawa sudah memeluk Islam. Tidak lain itu diyakini sebagai hasil dakwah dari Wali Songo. 

Oleh sebab itu, ada penilaian kalau dakwah Wali Songo adalah dakwah yang paling sukses dan berhasil karena mampu mengislamkan masyarakat Jawa. Yang tidak kalah menarik, perubahan masyarakat Jawa, dari agama sebelumnya –Hindu, Budha, Kapitayan, dan lainnya, menjadi Muslim, hanya berlangsung sekitar 50 tahunan. Lagi-lagi, itu merupakan hasil dari kecanggihan dan kejeniusan dakwah Wali Songo.

Lantas, bagaimana ada apa strategi dakwah yang dilakukan Wali Songo sehingga membuahkan hasil yang gemilang seperti itu? Dalam buku Islam Indonesia, Islam Paripurna: Pergulatan Islam Pribumi dan Islam Transnasional (Imdadun Rahmat, 2017), setidaknya ada lima pendekatan dakwah yang digunakan Wali Songo. 

Pertama, pendekatan teologis. Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel adalah yang menggunakan pendekatan ini. Mereka berdakwah bahkan hingga ke tingkat lapisan masyarakat paling bawah (waisya dan sudra) saat itu. Masyarakat diajari tentang nilai-nilai Islam, perbedaan antara pandangan hidup Islam dengan yang lainnya, dan menanamkan dasar-dasar Islam.

Kedua, pendekatan ilmiah. Tidak seperti dua sunan sebelumnya, Sunan Giri berdakwah dengan cara menggunakan pendekatan ilmiah. Ia membangun pesantren, membuat pelatihan dan pengkaderan, serta menugaskan muridnya untuk berdakwah di suatu tempat. 

Tidak hanya itu, Sunan Giri juga menggunakan permainan sebagai medium untuk berdakwah. Oleh karena itu, ia menciptakan permainan anak-anak seperti jemblongan, tembang syair seperti ilir-ilir, padang bulan, dan lainnya. Singkatnya, Sunan Giri mengembangkan dakwah secara sistematis dan metodologis.  

Ketiga, pendekatan kelembagaan. Tidak semua anggota Wali Songo berdakwah di masyarakat langsung. Ada juga yang berdawah di pemerintahan. Mereka adalah misalnya Sunan Kudus dalam Kesultanan Demak Bintoro dan Sunan Gunung Jati di Kesultanan Cirebon. Mereka ikut serta mendirikan kesultanan dan aktif di dalamnya. Mereka memiliki pengaruh yang besar di kalangan bangsawan, birokrat, pedagang, dan kalangan elit lainnya.

Keempat, pendekatan sosial. Sunan Muria dan Sunan Drajat lebih senang hidup jauh dari keramaian. Mereka memilih untuk berdakwah pada masyarakat kecil di desa-desa atau kampung-kampung. Mereka mengajarkan masyarakat kecil untuk meningkatkan pemahaman keagamaannya. Mereka juga membina masyarakat agar kehidupan sosialnya meningkat.

Kelima, pendekatan kultural. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang lebih menonjol menggunakan pendekatan kultural. Mereka sadar bahwa budaya adalah sesuatu yang sudah mendarah daging di masyarakat. Jika langsung ditolak, maka masyarakat akan emoh mengikutinya. 

Solusinya, keduanya melakukan islamisasi budaya. Budaya-budaya yang sudah ada dan berkembang disisipi dengan ajaran-ajaran Islam. Tidak hanya itu, mereka juga menciptakan budaya-budaya baru yang mengandung nilai-nilai Islam. Diantara produk budaya yang mereka ciptakan dan masih ada hingga hari ini adalah Gamelan Sekaten (dari kata syahadatain), Gapura Masjid (berasal dari kata ghofura), baju takwo (dari kata takwa), dan lain sebagainya. 
  
Disadari atau tidak, dakwah merupakan kunci utama untuk memperkenalkan Islam kepada mereka yang tidak atau belum tahu tentangnya. Berhasil atau tidaknya dakwah sangat dipengaruhi oleh orang yang melakukan dakwah itu sendiri. Sejauh mana ia memahami ajaran agama Islam. Sejauh mana ia mengenal sasaran dakwahnya (masyarakat). Dan seberapa lihai ia mentransformasikan ajaran agama Islam kepada masyarakat sehingga diterima dengan baik. 

Melalui lima pendekatan di atas, Wali Songo terbukti mampu mengislamkan hampir seluruh masyarakat di pesisir pantai utara Jawa dalam tempo waktu yang cukup singkat. Diakui atau tidak, itulah dakwah yang sangat gemilang. Dari situ, umat Islam kini bisa saja mencontoh atau meneladani apa yang telah dikerjakan Wali Songo. Tentunya dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian sebagaimana dengan situasi dan kondisi masa kini. 

www.nu.or.id | A Muchlishon Rochmat

Seminar Internasional Aswaja: Dunia Goncang karena Salah Doktrin

Seminar Internasional Aswaja: Dunia Goncang karena Salah Doktrin
Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Kajian Sumber Daya manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kota Malang bekerja sama dengan Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan the Aswaja internasional seminar dengan tema Islam, Traditionality, and Urbanity di aula Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang, Jumat (30/11).

Seminar tersebut mendatangkan tiga pembicara, Julian Millie dari Monash School of Social Sciences, Australia, Mas'ud Said selaku Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, dan M Hasan Basri dari Western Sydney University. Kegiatan dimoderatori Achmad Tohe  selaku dosen Universitas Negeri Malang.

Julian yang mengambil tema tentang Islam Tradisoional: Budaya Manakib Syeh Abdul Qadir al-Jailani di Sunda menyatakan bahwa kegiatan manakib sangat relevan untuk menumbuhkan suasana intim, kehangatan, meriah, dan inklusif.  Itu sebagai hasil penelitian disertasinya.

"Dalam manakib ada konsep tawasul, yang mana dari sudut pandang antropologi, sangat menarik,” katanya. 

Setidaknya ada tokoh lokal setempat, Rustana, yang menjadi idola untuk memimpin manakib. “Dan keluarga yang memiliki acara, akan sangat bahagia apabila Rustana membacakan tawasul yang kemudian mendoakan para leluhur keluarga," tegasnya.

Menurut dosen lulusan Belanda ini, pusat tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang mentradisikan kegiatan manakib ada di Pondok Suralaya. “Dan minimal satu bulan sekali, para jamaahnya berkumpul untuk membaca manakib secara bersama,” ungkapnya.

Walaupun menurut penelitiannya, sebagian anak muda Bandung, merasa bahwa budaya manakib ini kolot, akan tetapi faktanya tetap berlangsung secara turun-temurun. “Suasana kekeluargaan dan perasaan saling terbuka, menjadikan manakib sesuatu yang dibutuhkan untuk kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Sedangkan Mas'ud, mengangkat tema tentang pentingnya kurikulum yang tepat untuk pendidikan di Indonesia. Dan kurikulum yang relevan itu adalah doktrin keberagamaan futuristik yakni Islam rahmatan lil alamin.

Menurutnya, dunia goncang karena salah doktrin. Baik kesalahan doktrin di bidang agama, politik, ekonomi, maupun pendidikan. Kalau itu tidak diantisipasi akan sangat berbahaya untuk keberlangsungan bangsa dan negara ini. “Karena agama yang dibumbui konflik etnis dan kesenjangan, akan sangat mudah tersulut kaos yang massif," terangnya.

Menurut dosen Universitas Islam Malang lulusan Flinders University ini, konflik bahkan peperangan sekarang bukan lagi antaragama maupun negara, tapi mayoritas sesama pemeluk agama dan antarwarga negara. “Dan ini bermula dari manusia yang digerakkan oleh doktrin keliru tersebut,” sergahnya. 

Karenanya, betapa penting keberadaan lembaga pendidikan untuk mengajarkan doktrin yang benar. “Dan Islam rahmatan lil alamin hadir sebagai ajaran yang tepat untuk Indonesia yang majemuk,” tegasnya. 

Dalam pandangannya, bangsa Indonesia wajib bersyukur. “Kita perlu bersyukur bahwa Indonesia bineka tunggal ika, dan itu harus terus kita jaga dan rawat,” katanya.

Hasan Basri sebagai narasumber penutup mengemukakan bahwa Islam di Indonesia adalah green Islam terbesar di dunia. "Dunia yang sedang mengalami sekarat, karena ulah tangan manusia yang mengeksploitasinya secara berlebihan," ungkap dosen Unusia Jakarta ini.

Alumnus Pesantren an-Nuqayah Guluk-guluk Sumenep tersebut mengemukakan pesantren dan para tokoh agamawan harus hadir dan memberikan solusi atas keberlangsungan penghijauan di dunia ini. 

Hal tersebut bisa dimulai dari penanaman pohon, seperti yang dilakukan di Pesantren an-Nuqayah. “Pada waktu saya awal modok dulu, santri diwajibkan untuk menanam tiga pohon. Dan diberikan tanggung jawab untuk mengurus pohon tersebut sampai besar," tutur peneliti dalam bidang green pesantren ini.

Acara yang berlangsung hingga sore tersebut dihadiri Rais Pengurus Cabang NU Kota Malang, KH Chamzawi, Ketua PCNU Kota Malang, KH Isroqunnajah, Wakil Dekan 1 Fakultas Humaniora yang juga Ketua PC Lakspedam NU Kota Malang, Faisol Fatawi, dan para tokoh masyarakat. 

Juga tampak hadir civitas akademika UIN Maliki Malang, pengurus NU, mahasiswa, serta peserta yang berasal dari luar kota Malang. 

www.nu.or.id | Achmad Diny H - Ibnu Nawawi

Menjawab Pertanyaan Jebakan Para Anti-Maulid

Menjawab Pertanyaan Jebakan Para Anti-Maulid
Pertanyaan ini sukses menipu banyak orang awam sehingga mereka menyangka bahwa Maulid Nabi adalah bid’ah yang terlarang. Rangkaian pertanyaan jebakan tersebut sebagai berikut:

1. Apakah Maulid Nabi merupakan ketaatan ataukah maksiat? Lumrahnya yang ditanya akan menjawab: “Maulid adalah ketaatan”.

2. Apakah Nabi mengetahui ketaatan tersebut atau tidak mengetahui? Di sini penanya mencoba mengarahkan pada salah satu jawaban saja. Bila yang ditanya menjawab bahwa Nabi tidak mengetahuinya, maka berarti dia menganggap Nabi bodoh dan tak mengerti soal ketaatan pada Allah. Akhirnya yang ditanya tak punya pilihan kecuali menjawab: “Nabi mengetahuinya”.

3. Bila Nabi mengetahuinya, maka apakah Nabi menyampaikan soal itu ataukah tidak? Dari sini yang ditanya terjebak dalam dilema. Bila dia menjawab bahwa Nabi tak menyampaikan soal itu berarti sama saja menuduh Nabi tak menyampaikan ajaran Islam, ini mustahil. Namun bila dia menjawab bahwa Nabi menyampaikannya, maka dia akan dituntut untuk menunjukkan ayat atau haditsnya, dan itu tak mungkin ada. Sampai pada titik ini, jebakan orang anti maulid ini berhasil membuat pengamal maulid kebingungan.

Sebenarnya rangkaian pertanyaan di atas sangat lemah bahkan sama sekali tak berdasar. Pertanyaan itu hanya menipu orang-orang awam yang kurang memahami ilmu fiqh atau ilmu ushul fiqh. Begini dua cara untuk mematahkan rangkaian pertanyaan jebakan tersebut:

Cara pertama:

Bila ditanya apakah maulid Nabi merupakan ketaatan atau maksiat? Dijawab saja bahwa ketaatan berarti melakukan perintah yang ada sebelumnya. Imam al-Jurjani menjelaskan:

الطاعة: هي موافقة الأمر طوعًا

“Taat: adalah melaksanakan perintah secara sukarela.” (al-Jurjani, at-Ta’rîfât, halaman 140)

Seperti halnya ketika Allah memerintahkan untuk shalat, maka mengerjakan shalat adalah ketaatan sedangkan meninggalkan shalat adalah maksiat atau pembangkangan terhadap perintah tersebut. Adapun maulid Nabi tidak diperintah secara khusus sehingga melakukannya tak termasuk dalam kategori ketaatan tetapi tak termasuk pula dalam kategori maksiat sebab tak ada aturan yang dilanggar. 

Peringatan maulid bukanlah ibadah mandiri tetapi statusnya sama dengan segala bentuk tradisi (‘adah) manusia yang tak diperintah secara khusus tetapi tak juga melanggar aturan syariat, seperti menyelenggarakan rapat, seminar atau kajian mingguan atau bulanan. Tradisi-tradisi seperti itu hukum asalnya adalah netral (mubah), namun secara fiqih bila ternyata isi dan tujuan acaranya baik maka akan dihukumi sebagai kebaikan dan sebaliknya bila isi dan tujuannya negatif maka akan dianggap terlarang.

Dengan demikian, pertanyaan pertama tersebut yang hanya menyediakan dua opsi antara ketaatan dan maksiat adalah pertanyaan yang terbukti salah sehingga harus ditolak. Pertanyaan selanjutnya otomatis gugur dengan sendirinya.

Cara kedua:

Bila ditanya apakah maulid Nabi merupakan ketaatan atau maksiat? Dijawab saja bahwa maulid merupakan ketaatan dalam arti tindakan yang menimbulkan pahala sebab berisi kebaikan, meskipun tak mempunyai perintah yang khusus. Lalu bila ditanya apakah Nabi mengetahuinya atau tidak? Maka dijawab saja bahwa Nabi mengetahuinya.

Bila ditanya apakah Nabi menyampaikannya atau tidak? Maka dijawab saja bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh risalahnya tanpa terkecuali, hanya saja penyampaian Nabi Muhammad terhadap risalah dilakukan dengan dua cara, yakni: Disampaikan secara literal dengan nash (teks ayat atau hadits) yang spesifik atau disampaikan secara global dengan isyarat atau dalil-dalil yang bersifat global. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وقد قال الله تعالى ما فرطنا في الكتاب من شيء ومعناه أن من الأشياء ما يعلم منه نصا ومنها ما يحصل بالاستنباط

“Allah Ta’ala telah berfirman: “Tak ada sesuatu pun yang Aku luputkan dari al-Qur’an”, maknanya bahwa sesungguhnya terdapat hal-hal yang diketahui secara tegas berupa nash dan ada pula yang dihasilkan dengan cara penggalian hukum (istinbat).” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, juz XI, halaman 88)

Nah, peringatan Maulid Nabi tergolong hal yang tak ada nash-nya secara spesifik namun bisa masuk dalam cakupan kategori dalil-dalil global, misalnya: Dalam QS. Yunus: 58, Allah memerintahkan manusia untuk bergembira atas rahmat yang diberikan Allah sedangkan dalam QS al-Anbiya: 107 ditegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian, maka bergembira atas keberadaan Nabi di dunia merupakan hal yang sesuai dengan perintah bergembira dalam QS. Yunus: 58 tersebut.

Dalil umum lainnya adalah tindakan Rasul yang memperingati hari kelahirannya setiap Senin dengan puasa adalah bukti bahwa momen kelahiran beliau layak diperingati. Dan banyak dalil-dalil lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan dalam artikel ini yang kesemuanya dapat menjadi patokan penggalian hukum (istinbath) terhadap hukum peringatan Maulid Nabi.

Dengan jawaban seperti di atas, penanya yang bermaksud menjebak itu akan kebingungan sebab mau tak mau dia harus mengakui bahwa memang tak semua hal ada nash-nya. Kesalahan pertanyaan itu makin jelas ketika logika itu dipakai pada seluruh hal lain yang tak ada nash-nya. 

Hasilnya semua akan berstatus haram, meskipun sebenarnya sunnah atau bahkan wajib sekalipun; Pembukuan Al-Qur’an menjadi satu mushaf seperti sekarang, penulisan hadits Nabi beserta seluruh ilmu hadits, pendirian lembaga pendidikan Islam, penambahan azan shalat Jumat di masa Khalifah Utsman, penambahan harakat dan titik dalam mushaf, bahkan kebiasaan penduduk Makkah saat ini yang berkumpul secara massal tiap malam 27 Ramadhan saja untuk memburu Lailatul Qadar, dan seluruh hal yang tak ada di masa Rasul akan menjadi haram tanpa kecuali sebab itu semua adalah ketaatan yang kita tak punya pilihan kecuali dianggap “diketahui Rasul” tetapi tak sekalipun Rasulullah menyampaikannya kepada kita dengan instruksi nash yang spesifik tentang itu.

Namun tentu saja mengharamkan seluruh hal tersebut adalah tindakan konyol sehingga penanya tersebut harus mengakui bahwa teorinya salah total. Wallahu a'lam.

www.nu.or.id | Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember

Ini Suasana Hati Nabi Ketika Ditinggalkan Kedua Orang Tuanya

Ia sudah bisa berjalan dan berbicara dengan baik. Terbersit dalam pikiran sang ibu keinginan untuk berziarah ke pusara ayah sang anak, dan paman-pamannya yang wafat dan dimakamkan di Madinah. Waktunya dirasa cukup untuk membawa Muhammad pergi jauh. 

Aminah ingin sekali menunjukkan kepada Abd Allah, suaminya, akan buah hati mereka berdua itu, meski tentu saja tidak mungkin, karena ayah anak itu telah lama pulang, saat janin Muhammad masih baru 2 bulan di perut ibu Aminah.

Andaikata suaminya masih ada, ia mungkin akan mengatakan kepadanya dengan bangga : “Sayangku, ini buah hati dan hasil cinta kasih kita berdua. Lihatlah anak kita ini. Betapa tampan, gagah, rendah hati”.

Ketika keinginan dan kerinduan itu begitu kuat, ia pun bertekad pergi ke Madinah dengan membawa serta anak yatim yang telah bisa berjalan dan berlari-lari. Dan dengan membawa bekal seadanya, mereka berdua berangkat, menempuh perjalanan sekitar 450 km, melintasi padang pasir dan gunung gemunung yang tandus. Mereka tiba di pusara ayah Muhammad dan suami sayyidah Aminah: Abdullah bin Abdul Muthallib.

Dalam perjalanan pulang dari ziarah itu, Aminah sakit dan tak lama kemudian wafat menyusul suaminya. Ia meninggal di Abwa, sebuah desa antara Makkah dan Madinah. Muhammad, anak laki-laki tampan itu kini kehilangan orang-orang yang menjadi penyangga hidup dan pelabuhan hatinya. Ia kini jadi yatim-piatu. Hati anak kecil ini tentu amat berduka atas kematian ibunya itu.

Ia sangat terpukul atas peristiwa itu. Kita tentu bisa mengerti dan tahu bagaimana perasaan sepi dan duka hatinya pada momen seperti itu.
Perpisahan dengan orang-orang tercinta selalu menitipkan sepi dan luka yang mendalam. Muhammad saw kehilangan tumpuan harapan, kasih sayang, kelembutan, dekapan hangat sang ibu. Ia tak akan lagi merasakan tangan lembut yang menyuapinya. Tak ada lagi senda-gurau yang mengembangkan bibir untuk tersenyum-senyum atau tawa lebar yang indah bersama seorang perempuan yang mengandung dan melahirkannya itu.

Kita semua dapat membayangkan atau merasakan betapa kebingungan, pilu dan sedihnya anak yang tak punya ibu, tak punya ayah, tak punya kekasih, tak punya dambaan kalbu, tak punya tempat mengadu, dan menumpahkan gelisah ketika hatinya luka atau terganggu. Tetapi Muhammad kecil itu menerima kehilangan orang yang sangat dicintainya dengan sangat sabar dan tabah.

bangkitmedia.com | KH Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon

Rasulullah Pun Bermaulid (dengan sumber rujukan)

Rasulullah Pun Bermaulid (dengan sumber rujukan)
Melalui ayat tersebut Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk bergembira dengan datangnya karunia Allah berupa Islam dan rahmat-Nya berupa Al-Quran. Perintah untuk bergembira tersebut dapat dimengerti sebab Islam adalah petunjuk yang menunjukkan manusia jalan yang benar, sedang Al-Qur'an adalah petunjuk yang mengajarkan manusia tentang kebenaran. Dengan keduanya manusia akan dapat meraih kebahagiaan yang paripurna yang tidak akan dicapai dengan mengumpulkan harta dunia seberapa pun banyaknya.

Sementara itu, Islam dan Al-Quran tidaklah hadir di muka bumi ini melainkan lewat lisan Baginda Rasulullah ﷺ. Karenanya, kegembiraan dengan kelahiran (maulid) Rasulullah ﷺ hakikatnya merupakan bagian dari kegembiraan atas datangnya Islam dan turunnya al-Qur'an. Bahkan, Imam Ibn Abbas radhiyallah 'anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud 'rahmat' dalam ayat tersebut adalah Rasulullah ﷺ. Ini sebagaimana yang disebutkan pada ayat lain "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS al-Anbiya [21]:107).

Imam Ibnu Katsir menafsiri, "Allah Ta'ala memberitahukan bahwasanya Dia mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam dan nikmat bagi manusia, maka barangsiapa yang menerimanya dan mensyukurinya ia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menolaknya serta mengingkarinya ia akan merugi di dunia dan akhirat". Dari sini jelas kiranya kenapa kemudian kelahiran Baginda Rasulullah ﷺ harus disyukuri, diperingati, dan dirayakan dengan sepenuh suka cita.

Pertama, apabila yang dimaksud dengan "memperingati" adalah memperingati secara mutlak, yakni tanpa membatasi bagaimana ekspresi peringatannya, maka Rasulullah ﷺ telah mempraktikannya. Beliau adalah orang pertama yang memperingati hari kelahirannya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan kesunahan puasa hari senin beliau menjelaskan, "Hari itu adalah hari kelahiranku". Hadits tersebut menginformasikan bahwa Rasulullah ﷺ memperingati hari kelahirannya, yakni hari senin, dengan cara berpuasa.

Kemudian dalam hadits lain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ suatu ketika mengunjungi Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa di hari 'Asyura. Beliau ﷺ bertanya kepada mereka tentang puasa yang dilakukannya, mereka menjawab, "Ini adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir'aun dan menyelamatkan Musa darinya, sebab itulah kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah.". Rasulullah ﷺ lalu berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa karena beliau dan umat Islam merasa lebih berhak untuk memperingatinya daripada orang-orang Yahudi.

Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani mengomentari hadits tersebut, "Dari hadits tadi dapat diambil kesimpulan bahwa diperbolehkan mengekspresikan rasa syukur kepada Allah pada hari tertentu yang di situ dilimpahkan nikmat atau diselamatkan dari mara bahaya, dan hal itu dilakukan pada setiap tahun bertepatan dengan hari tersebut. Adapun rasa syukur itu bisa diekspresikan dengan berbagai ibadah seperti sujud syukur, puasa, sedekah, atau membaca Al-Qur'an. Lalu adakah nikmat yang lebih agung dari kelahiran sang Nabi yang menjadi rahmat?".

Peringatan-peringatan di atas juga sejalan dengan firman Allah ﷻ., "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah" (QS Ibrahim [14]:5). Maksud dari "hari-hari Allah" adalah peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di antara umat-umat terdahulu berupa nikmat dan siksaan yang dialami mereka. Dan tidak ada kesangsian bahwasanya kelahiran Rasulullah ﷺ adalah termasuk "hari-hari Allah" bahkan yang paling agung di antaranya sehingga peringatan atasnya adalah suatu ibadah yang utama.

Kedua, apabila yang dimaksud dengan "memperingati" adalah memperingati dalam rupa perayaan (ihtifal) tertentu sebagaimana yang dilakukan kebanyakan umat muslim sekarang dengan berkumpul membaca kisah hidup beliau, bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur'an dan sebagainya, maka peringatan semacam itu merupakan hal baru (bid'ah) yang tidak dilakukan di masa Nabi ﷺ bahkan di masa generasi al-salaf al-shalih setelah beliau. Al-Hafizh Imam al-Sakhawi mengatakan, "Perayaan Maulid baru ada setelah kurun ketiga Hijriyah. Perayaan tersebut kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia dan kota-kota besar. Orang-orang bersedekah di malam harinya dengan berbagai macam jenis sedekah dan melakukan pembacaan Maulid Rasulullah ﷺ yang mulia. Saat itu, nampaklah bagi mereka karunia yang sempurna dan melimpah sebab berkahnya Maulid." Namun demikian, meski perayaan Maulid Nabi disebut sebagai bid'ah, ia masuk dalam kategori bid'ah yang baik (bid'ah hasanah) yang tentunya akan berpahala manakala dilakukan dengan niatan taqarrub. Perayaan Maulid dikategorikan sebagai bid'ah hasanah berdasarkan beberapa alasan berikut:

1. Maksud dari perayaan Maulid adalah mengingat kelahiran manusia termulia Baginda Rasulullah ﷺ, dan hal semacam itu telah dicontohkan sendiri oleh beliau ﷺ.

2. Rasulullah ﷺ adalah rahmat yang layak untuk disyukuri dan disambut dengan kegembiraan, sementara syariat tidak membatasi bagaimana ekspresi rasa syukur dan kegembiraan itu asalkan tidak menimbulkan kemungkaran dan kerusakan.

3. Allah ﷻ. memerintahkan umat Islam untuk mengingat hari-hari-Nya, dan menyelenggarakan perayaan (ihtifal) kelahiran Rasulullah ﷺ merupakan salah satu upaya untuk "mengingat" hari-hari-Nya.

4. Berkumpul membaca kisah kehidupan beliau yang mulia, bersedekah, berdzikir, membaca Al Qur'an, menyelenggarakan pengajian adalah hal baik dan mempunyai banyak sekali manfaat terlebih di zaman sekarang. Ada banyak sekali nushus al-syari'at yang menjelaskan tentang keutamaan bersedekah, berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan mengaji.

5. Perayaan Maulid tidak pernah dilakukan oleh al-salaf al-shalih sebab saat itu mereka disibukkan dengan urusan penguatan kaedah-kaedah agama dan rukun-rukunnya, perluasan wilayah Islam (ekspansi), dan menolak gangguan musuh-musuh Islam yang mencoba menghalang-halangi dakwah Islam sehingga tidak terlintas dalam pikiran mereka gagasan untuk merayakan Maulid.

Di akhir tulisan, penulis kutipkan syair dari al-Hafizh Imam Syamsudin al-Dimasyqi di dalam kitab Maurid al-Shadi fi Maulid al-Hadi tentang kisah Abu Lahab yang mendapatkan keringanan azab setiap hari senin disebabkan saat Rasulullah ﷺ lahir ia turut merasa gembira yang lalu diekspresikannya dengan memerdekakan seorang budak. Imam al-Dimasyqi bersenandung,

إذا كان كافرا جاء ذمه * وتبّت يداه في الجحيم مخلّدا
أتى أنه في يوم الإثنين دائما * يخفّف عنه للسرور بأحمد
فما ظنّ بالعبد الذي كان عمره * بأحمد مسرورا ومات موحّدا

Jika ia (Abu Lahab) seorang kafir yang layak dicela,
yang binasa kedua tangannya dan kekal di neraka Jahim,
setiap hari senin untuk selama-lamanya,
azabnya diringankan karena gembira dengan (kelahiran) Ahmad
Lalu bagaimana prasangkamu dengan seorang hamba yang sepanjang umurnya,
bergembira dengan (kelahiran) Ahmad ﷺ padahal ia mati dalam keadaan bertauhid (mukmin)?

Semoga kita semua diberi kesemangatan dalam bermaulid, dan semoga kita mendapat keberkahan di bulan Maulid yang mulia ini. Wallahu Ta'ala 'Ala wa A'lam.

www.nu.or.id | Muhammad Habib Mustofa, Ketua Rijalul Ansor PAC Losari Brebes & Dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Sumber rujukan :
Al-Bayan al-Qawim karya Syekh Ali Jumuah
Al-Ibda' fi Madhar al-Ibtida' karya Syekh Ali Mahfuzh
Al-Syari'ah wa al-Hayat, hasil wawancara dengan Syekh Wahbah al-Zuhaili
Haula al-Ihtifal karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki
Muhammad Rasulullah shallallah a'laihi wa sallam karya Syekh Muhammad Ridha
Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim karya Imam Ibnu Katsir
Tafsir Jami' al-Bayan karya Imam al-Thabari

Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah

Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah
Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah
“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim as.

Tidak sedikit kitab dan buku yang menerangkan bagaimana mengangumkan dan menakjubkannya detik-detik menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Nabi dan rasul terakhir Allah. Banyak kejadian ajaib dan luar biasa terjadi, baik pada saat-saat sebelum dan sesaat setelah Rasulullah lahir.

Pada malam menjelang kelahiran Rasulullah misalnya, pintu-pintu surga dibuka lebar. Sementara pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat. Ribuan malaikat turun ke bumi sehingga memenuhi seluruh gunung di Makkah. Bulan terbelah. Bintang bersinar begitu terang. Burung-burung yang penuh cahaya memenuhi ruangan rumah Aminah.

Tidak hanya itu, Aminah juga mengalami hal-hal yang luar biasa dan tidak lazim selama mengandung Rasulullah. Berbeda dengan wanita hamil lainnya, Aminah tidak pernah merasakan rasa letih, payah, dan lesu ketika mengandung Rasulullah.

Di dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii sebagaimana diuraikan buku Happy Birthday Rasulullah, banyak kejadian mengagumkan dan menarik yang menimpa Aminah selama mengandung, utamanya selama 12 hari sebelum kelahiran Rasulullah atau mulai dari malam tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

Pada malam tanggal pertama Rabi’ul Awwal, Aminah mendapatkan kedamaian dan ketenteraman dari Allah sehingga ia merasa begitu tenang dan damai. Pada malam tanggal kedua, Aminah menerima seruan berita dari Allah kalau ia akan segera mendapatkan anugerah yang agung dan mulia.

Pada malam ketiga, lagi-lagi Aminah menerima pesan dari Allah (hatif) bahwa ia sebentar lagi akan melahirkan nabi paling agung dan paling mulia, Nabi Muhammad saw. Pada malam keempat, suara dzikir malaikat terdengar dengan jelas hingga ke telinga Aminah.

Memasuki malam kelima bulan Rabi’ul Awwal, Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim as. meminta Aminah untuk bergembira karena telah mengandung Nabi Muhammad, nabi pemilik keutamaan.

“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim as. kepada Aminah.

Pada malam keenam, Aminah melihat cahaya memenuhi sudut-sudut alam semesta hingga tidak ada kegelapan padanya. Tidak lain, ini adalah untuk menyambut kedatangan Rasulullah. Pada malam ketujuh, Aminah melihat malaikat ramai-ramai mendatangi rumahnya. Mereka menyampaikan kabar gembira bahwa waktu kelahiran Rasulullah semakin dekat. 

Pada malam kedelapan, Aminah mendengar berita (hatif) yang menyerukan kepada seluruh penghuni alam semesta untuk berbagai karena kelahiran nabi kekasih Allah telah semakin dekat. Pada malam kesembilan, Aminah begitu tenang dan damai. Tidak ada rasa susah dan sedih sedikit pun padanya lantaran Allah telah menganugerahi Aminah kasih sayang yang begitu berlimpah.

Malam kesepuluh, Aminah melihat kalau tanah Mina dan Khaif bergembira menyambut kelahiran Rasulullah. Malam kesebelas, Aminah melihat seluruh penghuni langit begitu senang menyambut detik-detik kelahiran Rasulullah. 

Malam kedua belas, Aminah yang ada di rumah melihat langit begitu cerah, tidak ada mendung sama sekali. Mulanya Aminah menangis tersedu-sedu karena pada malam ini ia sendirian di rumah. Abdul Muthalib, sang kakek Rasulullah, tengah bermunajat di Ka’bah. Namun kemudian Allah mengutus empat wanita utama untuk menemani Aminah selama proses kelahiran Rasullah. Mereka adalah Hawa istri Nabi Adam as., Sarah istri Nabi Ibrahim as., Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa as.

Pun sesaat setelah kelahiran Rasulullah, banyak peristiwa tidak lazim juga terjadi. Arsy bergetar hebat. Seluruh langit dipenuhi cahaya sehingga menjadi terang. Istana Kisra berguncang begitu dahsyat sehingga menyebabkan 14 balkonnya roboh. Api abadi yang disembah oleh umat Majusi padam. Gereja di sekitar Buhaira roboh. Bahkan, Ka’bah juga ikut bergetar selama tiga hari karena bahagia menyambut kehadiran Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)
Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah
“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim as.

Tidak sedikit kitab dan buku yang menerangkan bagaimana mengangumkan dan menakjubkannya detik-detik menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Nabi dan rasul terakhir Allah. Banyak kejadian ajaib dan luar biasa terjadi, baik pada saat-saat sebelum dan sesaat setelah Rasulullah lahir.

Pada malam menjelang kelahiran Rasulullah misalnya, pintu-pintu surga dibuka lebar. Sementara pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat. Ribuan malaikat turun ke bumi sehingga memenuhi seluruh gunung di Makkah. Bulan terbelah. Bintang bersinar begitu terang. Burung-burung yang penuh cahaya memenuhi ruangan rumah Aminah.

Tidak hanya itu, Aminah juga mengalami hal-hal yang luar biasa dan tidak lazim selama mengandung Rasulullah. Berbeda dengan wanita hamil lainnya, Aminah tidak pernah merasakan rasa letih, payah, dan lesu ketika mengandung Rasulullah.

Di dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii sebagaimana diuraikan buku Happy Birthday Rasulullah, banyak kejadian mengagumkan dan menarik yang menimpa Aminah selama mengandung, utamanya selama 12 hari sebelum kelahiran Rasulullah atau mulai dari malam tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

Pada malam tanggal pertama Rabi’ul Awwal, Aminah mendapatkan kedamaian dan ketenteraman dari Allah sehingga ia merasa begitu tenang dan damai. Pada malam tanggal kedua, Aminah menerima seruan berita dari Allah kalau ia akan segera mendapatkan anugerah yang agung dan mulia.

Pada malam ketiga, lagi-lagi Aminah menerima pesan dari Allah (hatif) bahwa ia sebentar lagi akan melahirkan nabi paling agung dan paling mulia, Nabi Muhammad saw. Pada malam keempat, suara dzikir malaikat terdengar dengan jelas hingga ke telinga Aminah.

Memasuki malam kelima bulan Rabi’ul Awwal, Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim as. meminta Aminah untuk bergembira karena telah mengandung Nabi Muhammad, nabi pemilik keutamaan.

“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim as. kepada Aminah.

Pada malam keenam, Aminah melihat cahaya memenuhi sudut-sudut alam semesta hingga tidak ada kegelapan padanya. Tidak lain, ini adalah untuk menyambut kedatangan Rasulullah. Pada malam ketujuh, Aminah melihat malaikat ramai-ramai mendatangi rumahnya. Mereka menyampaikan kabar gembira bahwa waktu kelahiran Rasulullah semakin dekat. 

Pada malam kedelapan, Aminah mendengar berita (hatif) yang menyerukan kepada seluruh penghuni alam semesta untuk berbagai karena kelahiran nabi kekasih Allah telah semakin dekat. Pada malam kesembilan, Aminah begitu tenang dan damai. Tidak ada rasa susah dan sedih sedikit pun padanya lantaran Allah telah menganugerahi Aminah kasih sayang yang begitu berlimpah.

Malam kesepuluh, Aminah melihat kalau tanah Mina dan Khaif bergembira menyambut kelahiran Rasulullah. Malam kesebelas, Aminah melihat seluruh penghuni langit begitu senang menyambut detik-detik kelahiran Rasulullah. 

Malam kedua belas, Aminah yang ada di rumah melihat langit begitu cerah, tidak ada mendung sama sekali. Mulanya Aminah menangis tersedu-sedu karena pada malam ini ia sendirian di rumah. Abdul Muthalib, sang kakek Rasulullah, tengah bermunajat di Ka’bah. Namun kemudian Allah mengutus empat wanita utama untuk menemani Aminah selama proses kelahiran Rasullah. Mereka adalah Hawa istri Nabi Adam as., Sarah istri Nabi Ibrahim as., Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa as.

Pun sesaat setelah kelahiran Rasulullah, banyak peristiwa tidak lazim juga terjadi. Arsy bergetar hebat. Seluruh langit dipenuhi cahaya sehingga menjadi terang. Istana Kisra berguncang begitu dahsyat sehingga menyebabkan 14 balkonnya roboh. Api abadi yang disembah oleh umat Majusi padam. Gereja di sekitar Buhaira roboh. Bahkan, Ka’bah juga ikut bergetar selama tiga hari karena bahagia menyambut kehadiran Rasulullah.

www.nu.or.id |A Muchlishon Rochmat

Berpengetahuan Bukan Jaminan Berakhlak Baik

Berpengetahuan Bukan Jaminan Berakhlak Baik
Dalam ngaji itu para peserta diajak untuk mendalami seluk beluk terkait akhlak. Menurut Gus Ulil, akhlak itu salah satu hal penting dan esensial dalam beragama. Bahkan dia menegaskan bahwa tujuan akhir dalam beribadah maupun beragama pada dasarnya adalah lahirnya akhlak yang baik.

“Padahal seringkali saat ini beragama lebih banyak dianggap ritual atau ibadah fisiknya saja. Sementara dimensi akhlak dilupakan,” ujar Gus Ulil.

Meski sedikit yang mengakuinya, namun Gus Ulil melihat ada banyak indikasi yang menunjukkannya. Seperti kecenderungan semakin religiusnya seseorang, namun semakin tertutup kepada orang lain dan tindakan sosialnya menjadi kurang menyenangkan.

“Itu yang menjadi indikator akhlak masih dianggap sekunder. Padahal kalau tidak ada akhlak tentu tidak akan ada agama. Ibadah ritual seharusnya menjadi jalan menuju ke akhlak yang baik,” ujarnya.

Merujuk pada karya Imam Al Ghazali, Gus Ulil menyebutkan bahwa akhlak merupakan bentuk dari kondisi di dalam jiwa manusia yang permanen dan membuatnya menjadi condong untuk mudah berbuat sesuatu.

“Ada empat elemen yang membangun akhlak. Yakni tindakan, kemampuan bertindak, pengetahuan dan kondisi yang menetap,” ujarnya menjabarkan mengenai akhlak.

Keempat hal itu, dikatakannya saling melengkapi. Seperti tindakan saja belum bisa dijadikan tolak ukur dalam berakhlak. Hal itu dicontohkannya dengan saat seseorang memberi bantuan atau sedekah kepada orang lain.

“Jadi apakah orang yang memberi sedekah itu rutin atau tidak. Kalau pemberian sedekah itu rupanya dikarenakan ada kebutuhan tertentu misalkan saat pilkada atau pileg tentu tindakannya itu belum bisa dikatakan bahwa akhlaknya dermawan,” terangnya.

Begitu pula untuk kemampuan bertindak. Memiliki kemampuan saja belum bisa disebut akhlak jika belum dilakukan dengan tindakan. Kemampuan lebih kepada potensi yang akan muncul setelah ada tindakan yang dapat dilihat secara riil.

“Sedangkan elemen ketiga adalah pengetahuan. Dalam setiap akhlak sudah dipastikan seseorang mengetahui atau memiliki pengetahuan tentang baik dan buruknya. Namun pengetahuan tanpa tindakan juga tidak bisa disebut akhlak,” imbuhnya.

Dengan begitu KH Ulil menyebut jika orang berakhlak dipastikan akan memiliki pengetahuan namun orang berpengetahuan belum bisa dipastikan berakhlak baik. Bahkan orang yang memiliki banyak titel akademik belum tentu memiliki akhlak yang baik pula.

“Padahal cobaan di jaman modern sekarang ini pengetahuan jumlahnya tidak terhitung seperti ledakan gunung berapi. Namun banyaknya pengetahuan itu kadang-kadang membuat sejumlah orang kehabisan waktunya,” terangnya.

Gus Ulil menyebut lantaran terlalu banyak membaca pengetahuan tapi tidak punya waktu untuk menghayati pengetahuan, berefleksi maupun tindakan. Sehingga seringkali berpengetahuan tapi tidak berakhlak baik

“Dan yang paling penting adalah kondisi sifat permanen atau alamiah dari jiwa manusia untuk memunculkan kecondongan berbuat sesuatu. Apakah akhirnya dia memiliki akhlak yang dermawan atau kikir. Akhlak itulah yang nantinya akan menjadi gambaran jiwa,” terangnya.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menambahkan. akhlak yang baik dinlai menjadi penting terutama di era media sosial seperti sekarang ini. Era medsos sekarang ini membuat banyak orang menjadi kehilangan kiblat kepribadiannya.

“Sekarang orang merasa serba tahu di media sosial. Sehingga antara orang yang benar-benar tahu atau tidak menjadi tidak jelas. Sumber-sumber informasi juga dikacaukan hingga menjadikan orang-orang kehilangan kiblat,” tambahnya.

Padahal jika segala sesuatu dipotong sudut pandangnya akan melahirkan sesuatu yang keliru. Seperti dicontohkannya cerita seorang ayah dan anaknya dengan seekor kedelai yang selalu saja anggapan salah dari orang lain.

“Oleh karena itu sudah sebaiknya mulai sekarang ini kita mengembangkan sikap untuk tidak menghakimi siapapun kecuali sudah mengetahui hal yang pasti,” ujarnya.

Suluk Maleman dalam edisi Taubat Nusantara Menjaga Nalar Bangsa #2 itu pun turut meriah dengan penampilan pagelaran musik dari Wakijo lan Sedulur dari Semarang. Lantunan lagu-lagu sholawat mampu membuat ratusan peserta yang datang menjadi antusias. (Red: Kendi Setiawan)

Foto: Suasana Ngaji NgAllah Suluk Maleman “Kitab Taubat Dan Era Kekeruhan” di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (18/8).

www.nu.or.id

Kekecualian Tentang Nahdlatul Ulama

Kekecualian Nahdlatul Ulama
BAGI yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama, dinamika yang terjadi selama Muktamar ke-33 di Jombang, yang dipicu oleh kontroversi sistem pemilihan rais am melalui ahlul halli wal aqdi (AHWA), bukanlah suatu drama yang mengejutkan.

Alasannya sederhana: NU adalah “drama” itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Itu sebabnya, selalu ada element of surprise, baik kejutan kecil maupun besar, yang mewarnai perjalanan panjang NU.

NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku, atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.

Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “kekecualian” atau exceptionalism. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal. Relasi NU dengan negara, misalnya, tidak pernah ajek. Pada masa Orde Lama, NU begitu mesra dengan Sukarno dan menganugerahinya gelar “waliyul amri dhoruri bissyaukah”.

Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Ia tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah. Nakamura (1981), dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-an melawan arus dari kecenderungan umum relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru. Saat Soeharto mendekati kelompok Islam (modernis), NU di bawah Gus Dur emoh menyambutnya.

Dan NU selalu punya alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzagnya. Pengamat yang tidak paham NU gampang mengobral tuduhan bahwa NU memiliki karakter oportunistik dan terjangkit short-termism, sebuah perilaku yang memuliakan tujuan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Tapi bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan itu.

Apa yang disebut pihak lain sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU sebenarnya punya akar dari tradisi Sunni yang disebut political quietism (pasif) yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Tertib sosial menempati posisi penting dalam pengambilan keputusan di NU.

Karakter politik NU yang liat dan elastis ini berbeda 180 derajat dengan watak politik Islam modernis yang menekankan pada kepastian, konsistensi, dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah Islam modernis di Indonesia selalu mudah ditebak, tidak sedinamis Islam tradisionalis. Gaya politik Masyumi, misalnya, terlalu mudah dibaca.

Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. NU bebas berinteraksi dengan negara tanpa harus membuat komitmen permanen yang justru membelenggu dirinya. Inilah mekanisme pertahanan (defense mechanism) ala NU yang membuat ormas ini bertahan hidup dan berkembang menjadi jemaah Islam dengan pengikut terbesar se-Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Bahkan, dalam metode penentuan awal dan akhir Ramadan, NU berpatokan pada metode yang “tak pasti”. Berbeda dengan Muhammadiyah yang mengunggulkan kepastian melalui metode hisab, NU setia pada rukyat. Melalui hisab, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mematok kapan puasa dimulai dan kapan Idul Fitri. NU sebaliknya merayakan ketidakpastian melalui rukyat. Bagi NU, peristiwa agama selalu punya dimensi. Klimaks-antiklimaks dan momentum menjadi penting dalam dramaturgi politik keagamaan NU.

Dalam dramaturgi NU, hasil akhir menjadi susah ditebak. Siapa yang menebak KH Mustofa Bisri yang terpilih sebagai rais am tiba-tiba menyatakan tak bersedia, kemudian digantikan KH Ma’ruf Amien. Menganalisis NU secara temporal bisa terperangkap dalam jebakan target yang selalu bergerak. Siapa yang membayangkan NU yang pada sidang-sidang Konstituante 1950-an menjadi pihak paling keras menyuarakan formalisasi syariah Islam dan menuntut pelembagaan ulama dalam negara justru sekarang menjadi penjaga gawang Islam tanpa campur tangan negara.

Siapa pun pihak yang berupaya mengubah konstitusi Indonesia dengan memaksakan Piagam Jakarta, misalnya, harus melangkahi mayat NU lebih dulu. Metamorfosis NU membuat kebinekaan kita seperti mendapat jaminan. Inilah amal jariah terbesar NU bagi bangsa yang majemuk.

Kekecualian NU yang sulit ditandingi ormas lain adalah secara statistik responden yang mengaku sebagai warga NU mencapai 45 persen dari seluruh populasi muslim di Indonesia. Hasil ini diperoleh berdasarkan data cross-sectional yang dihimpun dari survei-survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia sejak 2003 hingga 2015.

Jumlahnya membengkak jika ditanyakan kedekatan secara kultural. Ada 60 persen responden yang mengaku dekat secara kultural keagamaan dengan NU. Proporsi besar warga nahdliyin ini akan selalu membuat NU punya data tarik elektoral di mata politikus.

Survei juga menemukan bahwa warga yang mengaku secara kultural dan emosional dekat dengan tradisi NU tidak pernah berkurang. Berbeda dengan warga ormas lain yang banyak melepaskan identitas partikularnya sebagai bagian dari ormas tertentu seiring dengan maraknya new Islamic movement, seperti gerakan Tarbiyah atau Hizbut Tahrir sejak dekade 1980, jemaah NU tampak memiliki basis pertahanan kultural yang tangguh. Ritual NU, seperti tahlilan, barzanji, dan manaqiban, berhasil membentengi umat dari pengaruh gerakan Islam transnasional dan menjaga identitas kenahdliyinan mereka.

Mujani (2003) menemukan bahwa ritual nahdliyin inilah yang menjadi modal sosial demokrasi di Indonesia karena ibadah jenis ini memiliki dimensi kolektivisme-sosial yang menjadi intisari demokrasi yang partisipatif. Sekali lagi inilah kekecualian NU. Warga NU yang aktif dalam ritual nahdliyin cenderung mendukung demokrasi dan terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di PKK, karang taruna, dan sejenisnya.

Meski bukan organisasi pluralis karena anggotanya terbatas bagi yang beragama muslim saja, NU tidak diciptakan untuk memusuhi agama lain. Tingkat toleransi warga NU yang relatif tinggi ini bisa bermata dua. Di satu sisi, warga NU menjadi eksemplar Islam yang ramah, tapi toleransi ini juga membuat mereka cenderung nrimo ing pandum atas ketidakmampuan pemerintah atau pengurus NU dalam meningkatkan kesejahteraan jemaah.

Tugas utama NU sekarang adalah tidak sekadar mengandalkan keunggulan massa, tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya jemaahnya. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, NU jangan sekadar bertumpu pada “jamaah” (isi), tapi juga bisa menjadi “jam’iyyah” (sistem, wadah). Sejauh ini NU belum berhasil menjadikan dirinya sebagai “jam’iyyah”, atau meminjam istilah Cak Nur, “Muhammadiyah punya katalog tapi tidak punya kitab; NU punya banyak kitab tapi tidak punya katalog.” Dengan menjadi jam’iyyah yang kuat, NU tak lagi dilihat sebagai kerumunan, tapi barisan; bukan sekadar buih, tapi gelombang.

Peran sosial NU dalam menyediakan jasa schooling (pendidikan), feeding (kesejahteraan sosial), dan healing (pengobatan, rumah sakit) harus ditingkatkan. Sebelum beranjak jauh, tentu saja residu pasca-Muktamar harus dihilangkan. Jangan sampai faksionalisasi dalam arena Muktamar berlarut-larut. Kalau itu yang terjadi, bukan hanya NU yang rugi, bangsa Indonesia juga ikut menangisi.

suaraislam.co | Burhanuddin Muhtadi
Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.

Alasan Rasulullah Dinamakan Muhammad

Data itu merupakan hasil survei yang dilakukan pada tahun tersebut, dimana ada sekitar 3.098 anak lelaki yang bernama Muhammad –dan variannya seperti Mohamed, Mohammed, Mohammad, dan lainnya- di Inggris. 

Jumlah ini setiap tahun pasti terus meningkat. Bahkan, kalau seandainya ruang lingkupnya diperluas, tidak hanya di Inggris, maka bisa dipastikan bahwa nama Muhammad dan segala variannya adalah nama yang paling populer di seluruh dunia dan sepanjang zaman. 

Namun apa yang menjadi sebab orang tua di Inggris dan negara lainnya menamai anak mereka dengan Muhammad? Tidak lain adalah karena orang Islam di Inggris dan negara lainnya ingin mempertahankan tradisi menamai anak mereka dengan Nabi Muhammad, sang nabi dan rasul terakhir. Selain itu, mereka juga menganggap pemberian nama Muhammad untuk anak-anak mereka akan menghadirkan keberkahan di dalam hidupnya.

Nama Muhammad (mungkin) tidak lah se-tua nama George, Jack, Jacob, dan Noah. Nama Muhammad baru digunakan pada 14 abad yang lalu. Dimana Abdul Muthalib, seorang pembesar Quraish, memberi cucunya dengan nama Muhammad pada tahun 570 M. Pada saat ini, nama Muhammad adalah nama yang sangat asing, utamanya bagi masyarakat Arab. Mereka biasa menamai anak mereka dengan nama-nama tuhan berhala seperti Abdul Uzza, Abdul Manat, Abdul Lat, Abd Syam, Harb, dan Shakr.

Lalu mengapa Abdul Muthalib menamai cucunya dengan nama yang dianggap asing oleh kaumnya itu? 

Dalam buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, diceritakan bahwa suatu ketika Abdul Muthalib mengajak cucunya yang baru lahir masuk ke dalam Ka’bah dan bertawaf. Setelah selesai melaksanakan ritualnya di dalam Ka’bah, Abdul Muthalib keluar dan melewati kerumunan massa. 

Mereka bertanya kepada Abdul Muthalib perihal nama cucunya itu. Abdul Muthalib menjawab bahwa nama cucunya adalah Muhammad. Tidak puas sampai di situ, kerumunan massa tersebut kembali bertanya mengapa namanya Muhammad? Sebuah nama yang terdengar asing di telinga masyarakat Arab pada saat itu. 

“Aku ingin ia (Muhammad) dipuji semua orang,” jawab Abdul Muthalib.

Keterangan yang sama juga tertera dalam kitab Kasyifatus Saja. Dengan nama Muhammad, Abdul Muthalib berharap agar cucunya dipuji di langit dan di bumi. Begitu halnya dalam kitab An-Nahjah As-Sawiyyah fi Al-Asma’ An-Naba wiyyah, Abdul Muthalib menamai cucunya dengan Muhammad usai menggelar aqiqah. Harapannya adalah agar sang cucu dipuji Allah di langit dan disegani. Kemudian akhlak dan perilakunya diteladani umat manusia yang ada di bumi.

Kini apa yang menjadi harapan Abdul Muthalib atas cucunya terbukti. Muhammad menjadi orang yang paling dipuji di langit dan di bumi. Bahkan, Allah dan para malaikat-Nya juga memuji Muhammad dengan bershalawat untuknya, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 56. 

Tidak hanya itu, Muhammad juga adalah orang yang perilaku dan akhlaknya paling banyak diikuti umat manusia di dunia ini. Semua ucapan, perilaku, dan ketentuannya selalu diindahkan oleh umatnya. Merujuk buku 100 A Ranking of The Most Influential Person in History (100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia) karya Michael H. Hart, maka Muhammad saw. berada diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang masa. 

www.nu.or.id | A Muchlishon Rochmat

Jargon Kaum Khawarij saat ‘Mendemo’ Sayyidina Ali

Ilustrasi (via ok.ru)
Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa khawarij merupakan kelompok yang kerap menyimpangkan dalil-dalil agama untuk gerakan-gerakan politiknya. Bahkan, sejumlah riwayat menyatakan, khawarij menghalalkan darah seseorang yang berbeda pandangan dengannya.

Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi korban atas kekeliruan pandangan keagamaan kaum khawarij ialah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Ia dibunuh oleh seorang bernama Ibnu Muljam karena Ali dianggap telah keluar dari hukum Allah. Sebelumnya, kaum khawarij tidak mengakui kekhalifahan Ali.

Ibnu Muljam dikenal sebagai orang yang taat dalam beribadah, shalat, puasa, bahkan hafal Al-Qur'an. Tapi bacaannya tidak masuk ke dalam hati hanya sampai batas kerongkongannya sehingga mudah termakan oleh kabar palsu (hoaks) yang telah disebarkan oleh kaum khawarij.

Terkait gerakan-gerakan kegelapan yang mengatasnamakan agama tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor KH M. Luqman Hakim menegaskan bahwa khawarij seringkali mengklaim berdiri di atas hukum Allah.

“Ingat jargon kaum khawarij yang demo di hadapan Sayyidina Ali? Tak ada hukum kecuali hukum Allah (laa hukma Illa lillahi)!" ujar Kiai Luqman mengungkapkan perkataan kaum khawarij dikutip NU Online, Senin (29/10) lewat twitternya.

Ketika kaum khawarij berkata demikian, Sayyidina Ali sama sekali tidak menampik kebenaran kalimat tersebut. Tetapi, Ali tidak setuju karena kalimat mulia itu diarahkan untuk kebatilan.

"Lalu Sayyidina Ali menjawab: Itu kalimat yang benar! Tetapi diarahkan untuk kebatilan!" ungkapnya.

“Setiap zaman selalu muncul kaum neo-khawarij yang memanipulasi kalimat tauhid sebagai cover kebatilan,” imbuh Kiai Luqman.

www.nu.or.id | Fathoni

Beginilah Cara Kita Mengenalkan Diri kepada Rasulullah

Beginilah Cara Kita Mengenalkan Diri kepada Rasulullah
Dalam video berdurasi kurang dari lima menit itu diceritakan seorang pedagang bangkrut dan selalu berdoa kepada Allah. Hingga pada satu malam ia bermimpi bertemu Rasulullah. Kepadanya beliau berpesan agar menyampaikan pesan kepada Sultan Hamid bahwa satu malam ia telah melupakan shalawat yang biasa ia baca setiap malam. Rasul juga memerintahkan pedagang yang bangkrut itu untuk meminta kebutuhannya kepada sang sultan.

Ketika pedagang itu menghadap dan menceritakan ihwal mimpinya kepada Sultan Hamid sang sultan tertegun, ia merasa bersalah telah lalai tidak bershalawat kepada Rasulullah pada satu malam karena kesibukan pekerjaan yang ia lakukan pada malam itu. Maka ia sedekahkan banyak harta kepada si pedagang dengan harapan Allah berkenan mengampuni kelalaiannya itu.

Kisah ini cukup menarik dan mengetuk hati setiap mukmin. Satu pertanyaan yang lahir dari kisah itu adalah bagaimana Rasulullah mengenal nama Sultan Abdul Hamid? Apakah ia hidup semasa dan termasuk salah satu sahabat Rasul? Tentu tidak. Sultan Hamid hidup jauh beratus tahun lama setelah Rasulullah wafat. Lalu bagaimana bisa beliau mengenalinya dan bahkan tahu kelalaiannya tidak bershalawat satu malam, yang juga itu berarti Rasul mengetahui bahwa sang sultan selalu bershalawat kepadanya setiap malam?

Kiranya ini bukanlah sesuatu yang musykil. Bahwa Rasulullah mengetahui siapa yang bershalawat kepadanya adalah bukan sesuatu yang mustahil. Ada banyak riwayat hadits yang darinya bisa digambarkan bagaimana Rasulullah mengenali orang yang bershalawat kepadanya.

Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud menuturkan:

وعن أوس بن أوس - رضي الله عنه -، قَالَ: قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم -: إنَّ مِنْ أفْضَلِ أيَّامِكُمْ يَومَ الجُمُعَةِ، فَأكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاةِ فِيهِ، فَإنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ. قَالَ: قالوا: يَا رسول الله، وَكَيفَ تُعْرَضُ صَلاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ (قَالَ: يقولُ بَلِيتَ) قَالَ: إنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الأرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Dari Aus bin Aus radliyallâhu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya termasuk hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian dilaporkan kepadaku. Aus berkata, para sahabat berkata, “Rasul, bagaimana shalawat kami dilaporkan kepadamu sedang engkau telah hancur?” Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi (menghancurkan) jasad para nabi.” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyâdlus Shâlihîn, Semarang: Toha Putra, tt., hal. 533 – 534)

Dari hadits inilah—dan juga beberapa hadits semisal lainnya—diketahui bagaimana Rasulullah mengenali orang yang membaca shalawat kepadanya. Beliau mengenalinya karena setiap shalawat yang dibaca oleh umatnya selalu dilaporkan kepadanya. Lalu siapakah yang melaporkan? Bagaimana pula shalawat itu dilaporkan sementara Rasulullah telah meninggal dunia dan berada di kuburnya?

Muhammad bin Alan As-Shidiqi dalam kitab Dalîlul Fâlihîn menjelaskan bahwa yang menyampaikan kepada Rasul perihal shalawat yang dibaca oleh umatnya adalah para malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk melaksanakan itu.  Apa yang dijelaskan oleh Ibnu Alan ini didasarkan pada sebuah hadits:

أن لله ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني من أمتي السلام

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang mengelilingi bumi, mereka menyampaikan salam dari umatku kepadaku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi)

Penyampaian laporan perihal shalawat ini apabila orang yang membacanya berada jauh dari kubur Rasulullah. Sedangkan bila ia berada di dekat kubur beliau maka beliau sendiri mendengar shalawat dan salam yang dibaca umat kepadanya. Berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi:

من صلى علي عند قبري سمعته ومن صلى علي نائياً بلغته

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku di dekat kuburku maka aku mendengarnya. Dan barangsiapa yang bershalawat kepadaku di tempat yang jauh maka disampaikan kepadaku shalawatnya.”

Demikian penjelasan Muhammad bin Alan As-Shidiqi dalam Dalîlul Fâlihîn (Kairo: Darul Hadits, 1998, Juz IV, hal. 156).

Lebih lanjut, bagaimana Rasulullah bisa menerima laporan shalawat dari umatnya sementara beliau telah wafat dan berada di dalam kuburnya? Hadits di atas telah menjelaskan bahwa Allah mengharamkan bumi menghancurkan jasad para nabi. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa ketika ada orang yang bersalam kepada Rasulullah maka Allah akan mengembalikan ruh beliau ke jasadnya untuk membalas salam tersebut. Namun kiranya tidak di sini tempatnya untuk membahas perihal pengembalian ruh ini.

Dari penjelasan di atas maka kiranya bisa dimengerti bahwa Rasulullah akan mengenali setiap umatnya yang bershalawat kepadanya melalui laporan malaikat yang ditugaskan untuk itu. Maka bila seseorang banyak membaca shalawat dan istiqamah melakukannya ia akan secara terus-menerus sering dilaporkan oleh malaikat kepada beliau. Dari inilah seorang umat mengenalkan diri kepada Rasulullah, dari inilah Rasulullah mengenali umatnya.

Dapat dibayangkan, betapa senangnya seseorang ketika dirinya ditanyakan oleh seorang tokoh yang disegani dan dihormati oleh banyak orang. Itu pertanda sang tokoh mengenali dan memberikan perhatian lebih kepadanya.

Lalu bagaimana bila tokoh yang mengenali dan memperhatikan kita adalah Baginda Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, makhluk terbaik yang diutus sebagai rahmat bagi semesta?

Cukuplah hadits-hadits di atas sebagai motivasi untuk memperbanyak membaca shalawat dan melanggengkannya. Hingga diri kita dikenal beliau dan beliau mengenal diri kita. Hingga ketika kita lupa sehari saja tak membacanya Rasulullah berkenan menegur kita, menanyakan kita, sebagai tanda cinta dan perhatian beliau kepada kita.

Tentu sebuah kesedihan dan kerugian, bila seorang umat di dunia dan di akherat kelak tak dikenal oleh nabinya, tak diperhatikan oleh junjungannya, karena tak banyak bershalawat memuliakannya. Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alâ sayyidinâ wa maulânâ Muhammad.
Wallâhu a’lam.

www.nu.or.id |Yazid Muttaqin

Mengapa NU Tak Memakai Simbol Tauhid?

Mengapa NU Tak Memakai Simbol Tauhid?
Pergeseran makna berlangsung karena NU-lah yang secara eksplisit dan konsisten mengajarkan dan mengamalkan secara rutin dalam bingkai budaya komunal. Tahlil lalu melekat sebagai bagian dari identitas Nahdlatul Ulama. Ormas tahlil, ya NU.

Tahlil adalah kalimat suci karena berisikan penegasan prinsip tertinggi dalam Islam, yakni tauhid (pengesaan Allah). Sebab itu pula tahlil sering disebut juga kalimat tauhid. Bukan hanya dalam tahlilan, warga NU melafalkan lâilâhaillallâh nyaris di setiap ritual keagamaannya, seperti istighotsah, ziarah, manaqiban, yasinan, ratiban, wirid bakda shalat, dan lain-lain. Bahkan bagi NU, mampu mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat adalah indikator paling konkret wafatnya seseorang dianggap sangat baik (husnul khatimah). Begitu dekatnya NU dengan kalimat tauhid.

Yang unik, mengapa kalimat tauhid itu nyaris tidak pernah digunakan NU sebagai simbol dalam aktivitas organisasi? Kok tidak seperti kelompok-kelompok mutakhir yang lantang mengaku menggaungkan “suara Islam”?

Sejak awal NU mendasarkan pemikirannya pada sistem bermazhab. Otoritas pengetahuan agama diserahkan kepada para ahlinya, yakni ulama. NU memang meyakini sumber primer Al-Qur’an dan Sunnah, tapi akses kepada kedua teks tersebut harus melalui disiplin ilmu dan pertanggungjawaban moral yang ketat, dan itu hanya bisa dimiliki oleh ulama. Bukan sembarang orang, terutama kalangan awam. Ini pula yang menjadi salah satu alasan kenapa nama “Nahdlatul Ulama” (kebangkitan para ulama) dipilih menjadi nama organisasi.

Paham semacam ini bukan tanpa risiko. Karena mengembangkan cara berpikir mazhab, NU dituding oleh sebagian kelompok yang mengusung agenda pemurnian Islam sebagai golongan yang menjauh bahkan menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah kerendahan hati dalam mengakui keterbatasan diri, lantas menyerahkan otoritas pengetahuan keagamaan kepada ulama. Ulama yang mana? Dalam fiqih, NU menganut empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali), dalam hal aqidah (al-Asy’ari dan al-Maturidzi), sedangkan dalam tasawuf (Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi).

Artinya, di lingkungan NU pluralitas pemikiran (mazhab) diakui. Seluruhnya dinilai sebagai produk ijtihadî (olah pikir manusia) yang memungkinkan terbukanya perbedaan. Hakikat kebenaran tak mungkin bisa diraih, tapi ikhtiar untuk mendekati itu bisa dilakukan. Proses itulah yang kemudian melahirkan ijtihad yang beragam. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab al-Mawâ’idh pernah mewanti-wanti umat untuk tidak terjermus dalam fanatisme. Terhadap produk ijtihadî pilihannya cuma dua: (1) semua mujtahid benar, atau (2) mujtahid yang benar hanya satu tapi mujtahid yang salah tetap mendapat pahala. Corak pemikiran ini tak ditemukan pada kelompok-kelompok penganut absolutisme yang menganggap kebenaran pasti tungal dan hanya kelompok dialah yang paling benar. Mereka menyamakan tafsir atas kebenaran dengan kebenaran itu sendiri.

Dari sini kita mendapat sedikit titik terang mengapa NU cenderung “menghindari” simbol-simbol yang secara langsung menggunakan nama Islam, termasuk soal kalimat tauhid. Sebagai as-sawâdul a’dham (komunitas terbesar Islam), bila mau, kiai-kiai pesantren generasi awal bisa saja menyepakati nama organisasi “pembela Islam”, “pejuang Islam”,  “nahdlatul islam”, dan semacamnya; atau menjadikan kalimat tauhid sebagai lambang organisasi. Tapi itu tidak dilakukan. Mereka memilih nama “Nahdlatul Ulama” lewat mekanisme musyawarah dan logonya dirancang kemudian dari hasil istikharah.

Bagi ulama NU kala itu membawa nama “Islam” atau “kalimat tauhid” dalam organisasi barangkali dianggap mendekati sikap angkuh. Ada tanggung jawab dan risiko besar yang dipertaruhkan. Aspirasi dan pemikiran satu komunitas Islam belum tentu menjadi aspirasi dan pemikiran komunitas Islam lainnya. Karena itu, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari yang keulamaannya diakui seluruh ulama di Nusantara, bahkan lintas negara, hanya cukup didaulat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, bukan imam besar umat Islam. Bahkan, di era kepemimpinan berikutnya, karena ketawadukan KH Abdul Wahab Chasbullah, gelar “rais akbar” (pemimpin besar) berubah menjadi “rais aam” (pemimpin umum). Inilah pengejawantahan dari i'tidal dan tasamuh, garis sikap tegas sekaligus terbuka yang dipegang NU. Di satu sisi sangat teguh dengan paham yang dianut, di sisi lain tidak mau memonopoli pemahaman umat Islam yang faktanya memang berbeda-beda.

Kesadaran inklusif ini sulit didapati dari kelompok-kelompok yang sejak awal memahami Islam dengan kacamata monolitik. Paradigmanya kebenaran tunggal. Cara berpikirnya hitam-putih: halal-haram, Islam-kafir, sunnah-bid’ah, sistem Allah-sistem thaghut, dan seterusnya. Semua kelompok yang berlainan pemikiran dengannya dianggap salah. Apa pun masalahnya, khilafah atau negara Islam solusinya. Yang runyam, penyederhanaan masalah seperti ini berakibat pada ke-GR-an berlebih untuk sah mengklaim diri sebagai representasi umat Islam secara keseluruhan dan menggunakan simbol-simbol suci Islam untuk kepentingan kelompok.

Selain mustahil pasti mewakili umat Islam yang majemuk, penggunaan simbol-simbol semacam itu juga rentan disalahgunakan. Jika terjadi, yang kotor namanya bukan hanya kelompok bersangkutan melainkan citra Islam secara umum. Kita bisa belajar bagaimana islamofobia menjalar di negara-negara Barat hanya karena ulah segelintir kelompok yang menebar teror sembari mengibarkan bendera tauhid dan simbol-simbol Islam. Padahal, dalam kitab Tanbîhat al-Wâjibat, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari juga berujar, memperalat sesuatu yang seharusnya agung untuk keperluan yang tidak semestinya adalah tindakan haram.

Ini bukan soal alergi nama Islam atau kalimat tauhid, melainkan soal pilihan sikap untuk mendudukkan simbol-simbol luhur itu dengan hati-hati dan proporsional. Dalam sejarah, di lingkungan NU pernah muncul nama Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah (pasukan Allah) untuk menyebut kelompok pejuang dari kalangan santri. Itu pun konteksnya masa-masa super-genting era penjajahan Jepang. Pascakemerdekaan, dalam suasana yang relatif damai, nama ini hilang. Sebagian anggotanya melebur dalam Tentara Nasional Indonesia. 

Di NU Islam lebih banyak tampil dalam wajah kultural: maulidan, haul, pembacaan Barzanji, halal bihalal, slametan, sunatan, akikah, tahlilan, serta ibadah dan moralitas sehari-hari. Ia membumi dalam keseharian budaya dan harmoni masyarakat. Kalimat tauhid lebih sering berkibar di hati dan bibir tulus jamaah ketimbang jadi jargon politis kelompok. Kalau pun harus ada kain bertuliskan kalimat tauhid, cukuplah itu menempel di kain penutup keranda jenazah, kendaraan terakhir manusia yang entah benar-benar membawa tauhid di hatinya atau tidak. Wallahu a’lam.

Oleh Mahbib Khoiron
Penulis adalah warga NU, tinggal di Cileungsi, Kabupaten Bogor

Amalan di Sepuluh Awal Dzulhijjah

Amalan di Sepuluh Awal Dzulhijjah
Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan itu adalah ibadah haji bagi yang mampu melakukannya; shalat idul adha dan ibadah kurban bagi yang mampu.

Tidak hanya itu, pada sepuluh awal Dzulhijah juga dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah semisal puasa dan zikir. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Imam An-Nawawi menjelaskan:

واعلم أنه يستحب إكثار من الأذكار في هذا العشر زيادة على غيره ويستحب من ذلك في يوم عرفة أكثر من باقى العشر

Artinya, “Ketahuilah bahwa disunnahkan memperbanyak zikir pada sepuluh awal Dzulhijjah disbanding hari lainnya. Dan di antara sepuluh awal itu memperbanyak zikir pada hari Arafah sangat disunnahkan.”

Dalil anjuran memperbanyak zikir di sepuluh awal Dzulhijjah ini adalah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Artinya, “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…..” (Surat Al-An’am ayat ayat 28).

Sebagaimana dikutip Imam An-Nawawi, Ibnu Abbas, As-Syafi’i, dan jumhur ulama memahami bahwa kata ayyamam ma’lumat di sini adalah sepuluh pertama Dzulhijjah.

Selain itu, dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya,” (HR Ahmad).

Berdasarkan penjelasan di atas, dianjurkan memperbanyak zikir pada sepuluh pertama Dzulhijjah. Memperbanyak zikir lebih diutamakan lagi pada hari Arafah, yaitu tanggal sembilan Dzulhijah, apalagi bagi jamaah haji. Di antara zikir yang diperbanyak adalah melafalkan tahlil, takbir, dan tahmid. Wallahu a’lam.

www.nu.or.id | Hengki Ferdiansyah

Lebih Baik Baca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?

Lebih Baik Baca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?
Selain sebagai petunjuk manusia, membaca Al-Qur’an juga mendapatkan pahala dan keberkahan. Sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an, meskipun tidak memahami makna dan maksudnya. Karenanya, dalam hadits disebutkan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya, “Siapa yang membaca satu huruf Al-Qur’an, maka dia mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ‘alif lam mim’ satu huruf, tapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf,” (HR Al-Tirmidzi).

Orang yang membaca Al-Qur’an diberi sepuluh kebaikan dalam setiap hurufnya. Ganjaran ini berlaku bagi siapa pun. Membacanya saja diberi sepuluh kebaikan dari setiap hurufnya, apalagi memahami, mendalami, dan mengamalkannya. Tentu pahalanya lebih besar lagi.

Di samping memperhatikan makhraj dan tajwid bacaan, volume suara juga perlu diperhatikan. Maksudnya, jangan sampai membaca Al-Qur’an dengan suara keras yang bukan pada tempatnya. Apalagi bila sampai menganggu orang lain.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa memang ada banyak dalil yang menganjurkan baca Al-Qur’an dengan suara keras, tapi di sisi lain juga ada dalil yang menganjurkan baca Al-Qur’an dengan suara pelan. Ia mengatakan:

جاءت آثار بفضيلة رفع الصوت بالقراءة، وآثار بفضيلة الإسرار

Artinya, “Ada beberapa riwayat tentang keutamaan baca Al-Qur’an dengan suara keras, dan ada pula riwayat tentang keutamaan suara pelan.”

Lalu mana yang harus diamalkan? Imam An-Nawawi menjelaskan:

قال العلماء والجمع بينهما أن الإسرار أبعد من الرياء فهو أفضل في حق من يخاف ذلك، فإن لم يخف الرياء فالجهر أفضل بشرط أن لا يؤذي غيره من مصل أو نائم أو غيرهما

Artinya, “Ulama berkata, cara mengompromikan dua dalil tersebut adalah membaca Al-Qur’an dengan suara pelan bagi orang yang takut riya itu lebih utama. Sementara bagi orang yang tidak riya, maka mengeraskan suara saat baca Al-Qur’an lebih diutamakan dengan catatan tidak menganggu orang yang shalat, tidur, dan lain-lain.”

Dengan demikian, baca Al-Qur’an dengan suara pelan atau keras sebetulnya sama-sama baik selama diamalkan berdasarkan situasi dan kondisinya.

Kalau di hadapan orang ramai, lebih baik membaca Al-Qur’an dengan suara pelan agar tidak menganggu ketenangan orang lain, khususnya orang shalat atau sedang istirahat. Tapi bila sedang sendirian, lebih baik dengan suara yang cukup terdengar di telinga  (tidak terlalu keras) karena biasanya lebih fokus dan meningkatkan semangat. Wallahu a‘lam. 

www.nu.or.id | Hengki Ferdiansyah

Ada pada Tingkatan Mana Dzikirmu kepada Allah?

Ada pada Tingkatan Mana Dzikirmu kepada Allah?
Secara hakikat, tingkatan dzikir seorang dijelaskan dari hanya mengharapkan imbalan Allah hingga pada level fana’ dan baqa'.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor ini, tingkatan dzikir manusia pertama, dzikir makhluk pada makhluk.

Kiai Luqman menuturkan, orang ini ketika berdzikir merasa bisa dzikir dan tujuannya makhluk bukan Khaliq. Contoh biar laris dagangan, biar dapat surga, biar naik derajat dunia atau biar disebut ahli dzikir.

“Dzikir model ini tidak akan bertemu Sang Khaliq,” tegasnya dikutip redaksi, Sabtu (4/8) lewat twitternya.

Kedua, dzikir makhluk kepada Khaliq. Menurut Kiai Luqman, tingkatan dzikir orang ini merasa bisa berdzikir dengan tujuan  pada Sang Khaliq. Ia merasa bahwa dzikirnya telah sampai pada Sang Khaliq.

“Dzikir model ini juga tidak akan bertemu Sang Khaliq,” ungkap Direktur Sufi Center Jakarta ini.

Ketiga, dzikir khaliq kepada makhluk. Level ini berdzikir dengan menyadari bahwa dzikir seorang hamba akibat Allah mengingatnya. Karena ia tidak pernah merasa mampu berdzikir.

“Inilah tahap fana' dalam berdzikir. Allah yang menjadi Penyebab dia berdzikir. Bukan dia yang mampu berdzikir,” jelas Kiai Luqman.

Keempat, Allah Maha Berdzikir kepada Diri-Nya Sendiri. Kiai Luqman menerangkan, sang hamba ketika berdzikir hanyalah efek dari Dzikirnya Allah pada DiriNya. Ini merupakan tahap baqa' dalam berdzikir.

“Minimal kita ini berdzikir sebagai akibat dari Dzikir-Nya kepada kita hingga Dia-lah Yang Esa dalam dzikir,” ucap penulis buku Filosofi Dzikir ini.

Empat tingkatan tersebut menurut Kiai Luqman tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang terpenting manusia harus selalu berdzikir sembari meningkatkan kesadaran dan keshalehan dzikir.

“Yang penting apa pun bacaan yang kita dzikirkan, hatimu tetap Allah, Allah, Allah. Dari Allah, menuju Allah, bersama Allah, dan hanya bagi Allah,” tandas Kiai Luqman. 

www.nu.or.id | Fathoni